Ayo Berjuang

Ayo Berjuang
Pantang Mundur

Senin, 11 Februari 2013

Ant Gender Seks Senin 11 Februari 2013



Gender & seksualitas --> bukan orientasi teoritis, melainkan issue
antr. agama, psikiatri --> teoritis
buku --> anthropology of gender --> variatif
biasanya ngomongin kedudukan tth jenis kelamin, dikonstruksikan masy
gender --> perbedaan secara sosial laki dan perempuan. gak bisa lepas dari seks
UI --> puska gender, salemba. Kajian wanita
kenyataan: gender = diverse = complex. gak cuma cewe cowo.
kuliah lebih ke kognitif dan afektif (lebih peka)
absensi tidak lebih dari 3x
wajib: baca etnografi (klasik) ttg sex-gender
Malinwoski, Mead (sex & temperament). Global Diva: Filipino Gay | Gender Diversity in Indonesia
abis Malinowski dan Mead ini, etnografi sex-gender stop / gak populer
bahan perminggu bisa didiapat dari twitter (PDF) / pohon
tugas kelompok: 4 orang. usahain 2 cewe 2 cowo. 2 presentasi, 2 yang lain jawab pertanyaan. Mulai dari minggu ketiga.presentasi jangan lebih dari 20 menit. boleh pake film tapi jangan lama2.
tugas individual:
reaction paper --> pandangan kritis thd 1 bahan bacaan.
TMR 12 maksimal 3 halaman termasuk referensi. 3-4 kali
tijauan buku --> etnografi. maksimal pas UAS ngumpulinnya. kenapa sih ditulis (bagian preface). fokus: apa sih yang dibahas terkait sex gender. Etno, soalnya holistik (ada issue selain sex-gender). Dibikin ringkas. dan berikan tanggapan buat ini.
makalah etnografi
minggu 2: cuma pengantar
minggu 3-4: pelajari definisi dan klasifikasi sex-gen
minggu 5: feminisme dan konstruktivisme
minggu 6: belum ditentuin
minggu 7: queering gender
UTS --> minggu 8-9 --> baca etnografi
minggu 10: sex & power
minggu 11: constructing the gendered body (pengalaman harus lewat tubuh)
minggu 12: negara, agama, dan sekskualitas
minggu 13: kekerasan seks-gender
minggu 14: transgender & transeks, interseks
minggu 15: komodifikasi seks (gak cuma prostitusi)
minggu 16: laki2 dan maskulinitas
3 Juni: UAS. makalah akhir & book review
toleransi keterlambatan: 20 menit (08.20)
tips: cari google --> advanced search
kenapa bhub seks? macem2. Dari yang masuk akal ampe gak masuk akal. dari yang menyenangkan ampe menyakitkan.
hati2. sensitif. bagi lo biasa, bagi yang lain masalah. kuliah ini emang membongkar misteri. tapi, jangan banyak2in materially explicit sexual (kok bokep mulu sih?)
minggu depan kelas diganti, Rabu 20 Feb 2013 pukul 11.00
*bahan minggu dua dan tiga udah ada di pohon. judulnya "Bacaan minggu ke 2" sama "Bacaan minggu ke 3". Cekidot, teman2 :D
bahan bacaan minggu 2: five sexes 1993, five sexes revisited, malinowski sexual ravage, cultural construction of sexuality-caplan (fokuskan  pada hal. 1-3,  dan 10-17,  dan 20-25).
bahan bacaan minggu 3: representasi genitalia-setiadi, citra seksualitas perempuan-gayatri, homoseksualitas di Indonesia-Oetomo.

Minggu, 10 Februari 2013

Suapi Gue dengan Muka *sensor*-mu!

Assalamu'alaikum Wr. Wb...

Gue sadar, kalo masa2 tersulit di dalam hidup gue adalah masa SMA kelas 1. Masa2 seperti itu... Enggak banget deh... Masa2 tergila...

Masa ketika diri  gue dipaksa penuh untuk terus latihan tanpa istirahat....

Masa ketika diri gue dipaksa penuh untuk terus berjuang tanpa arti apalagi makna...

Masa ketika degup jantung gue begitu kencang - untung aja gak jadi copot - cuma gara2 disodori pertanyaan aneh nan klasik - "mau naik kelas gak?" ...

Masa ketika teman2 gue begitu labil - saking labilnya ampe2 besokpun bisa jadi musuh, tetapi lusa bisa jadi teman (lagi) - kan aneh banget!

Masa ketika gue dicekoki berbagai macam pelajaran - termasuk pelajaran2 yang gak bisa gue terima bahkan di dalam tingkat abstraksi terkompleks gue: hati nurani...

**Gak ngerti? Siapa suruh punya otak bodoh**

Masa ketika gue disaduri berbagai macam hajatan - tanpa memerhatikan kebutuhan di-rumah-saja- gue...

Masa ketika lahir batin gue diperkosa - dikeruk2 terus sumber dayanya - oleh pihak2 senior yang berideologi seniorisme berkelakuan senioritas gak bertanggung jawab...

Masa ketika sahabat dan teman2 baik gue banyak berguguran di medan perang...

Masa ketika gue menghadapi medan perang yang begitu penuh dengan kehancuran...

Medan perang yang membuat hati nurani tandus alias gersang...

Medan perang yang membuat lahir begitu lesu...

Medan perang yang membuat batin begitu pilu...

Medan perang yang memuat gastronomi mata ajar dan berbagai kesibukan lainnya yang belum tentu membuat pikiran gue jernih karena seninya yang begitu 'indah' #dafuqindah??

**Masih gak ngerti juga?? Blo'on dipelihara siih!**

Oke2... Here's the fuckin' deal!

Suapi gue dengan penuh nafsu (ammara)...!

Suapi gue dengan kemesraan palsumu...!

Suapi gue dengan hajatan2 gak jelasmu...!

Suapi gue dengan kesibukan2 akademismu...!

Kesibukan2 akademis yang tidak bisa gue maknai sepenuhnya...

Karena lo sendiri gak berusaha membimbing gue agar gue dapat memenuhi permintaan maknanya...!

Suapi gue dengan tipu muslihat yang begitu cantik...!

Biarkan kepalsuan menjadi mentega...!

Biarkan kebohongan menjadi empat sehatnya...!

Biarkan penderitaan menjadi lima sempurnanya...!

Biarkan kehancuran.... Menjadi menu utama bagi diri gue ini...!

Selamat makan!

Jangan dimakan sendiri!

Biar kami saja yang menyuapimu, Di!

#fuckyeah!#

Ugh... Kata2 lo begitu lembut, tetapi maknanya penuh dengan gejala2 sarkasme...!!

Gue pribadi heran dengan lo: mengapa lo bisa membaluti hal2 bajingan tersebut dengan dendangan2 kemesraan...!!??

Dan gue pribadi heran: mengapa kata2 yang gue lontarkan kerap dianggap sebagai dendangan2 bajingan, padahal gue mau menyampaikan suratan siratan hati nurani yang penuh mesra - hanya dari diri gue...!!??

JANGAN MENGINTERVENSI!

KAMI MENYUAPIMU, DEMI KEBAIKANMU SEPENUHNYA!

KAU TIDAK AKAN MENYESAL!

SEDIKITPUN, ARDI!

Yuk... Sini yuk... Mana mulutnya... Dibuka donk.... Aaa...

#Aaa#

UKHHUWEEK!!

JANGAN DIMUNTAHIN! SYUKURI SAJA!

.... !!!

Ayo... Ardi... Anak baik... Makan lagi ya... Katakan, 'Aah...!'...

.... !?

Ardi? Kamu anak baik, kan?

#Aaa#

Asyiik... Inilah yang disebut anak baik... Ardi anak baik...

Gue minta lagi...

Jangan memakai kata 'gue', anak baik!

Suapi gue...

Ardi...? Ayolah...

SUAPI GUE DENGAN MUKA NGENTOT-MU!

FEED ME WITH YOUR FUCKFACE!

Sabtu, 09 Februari 2013

Uneg2 Gue: Ardi sebagai Om? TV dan Meja Baru...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Apa kabar hai pembaca? Jumpa lagi dengan Ardi, mudah2an kalian semua baik2 saja :D

Gue kali ini mua cerita beberapa hal mengenai liburan semester 5. Liburan yang paling membahagiakan lahir batin gue. Karena, liburan tahun lalu itu - kalo boleh gue jujur - namanya bukan liburan - melainkan penyiksaan. Tapi untung aja itu udah berlalu.

Terus, gue udah melihat hal yang baru di kamar gue: TV baru dan meja baru. Gue pikir ini adalah hal yang amat menyenangkan...

Gue sendiri meminta (dengan terpaksa) kepada nyokap untuk dihadiahi dua hal tersebut atas ganjaran nilai bagus di semester 5 dan ultah gue yang ke-21 tahun nanti karena sebuah hal yang... Menurut gue dan mungkin pembaca sendiri... Cukup konyol...

Gue minta itu agar gue bisa main game dengan leluasa...

Kok begitu?

Ada si kecil.. Alias keponakan gue yang tinggal di rumah gue - tepatnya di nyokap gue.

Mengapa si kecil tersebut gak punya rumah sendiri - alias ikut sama kedua ortu alias kakak kandung dan kakak ipar gue? Itu dia: kedua ortunya sendiri belum berpikiran untuk punya rumah sendiri. Ditawarin rumah baru, malah ngerut mukanya! Apaan sih!?

Jujur, gue senang dengan kehadiran si kecil. Tetapi, di samping itu gue juga berhak untuk mengkhawatirkan beberapa hal:

1. Apakah gue sebagai paman alias om-nya si kecil mampu memberikan suri tauladan ke si kecil tersebut? Gue sangat khawatir. Emang sih, main sama anak kecil itu sama serunya kayak main game. Bedanya, kalo game itu memfasilitasi pemainnya. Tapi, ANAK KECIL ITU DIFASILITASI PEMAINNYA. Dan, ANAK KECIL ITU - GUE PIKIR DAN GUE RASA - MEMERLUKAN ALIAS KEHAUSAN CONTOH YANG BAIK DARI TEMAN MAINNYA ALIAS SIGNIFICANT OTHERS-NYA.
**apakah gue siap menjadi teman mainnya si kecil? Jujur, enggak begitu**

2. Makanya, gue selalu main di setiap malam. Biar si kecil gak melihat gue lagi main itu - kan si kecil lagi tidur terlelap. Kok begitu? Gue sadar, kalo game2 yang gue miliki adalah game2 yang berisi konten dewasa. Konten dewasa itu terdiri dari tiga hal, yaitu pornografi, grafik sadis (darah, luka, dan sebagainya), serta pemikiran yang rumit. Gue kasihan aja kalo si kecil itu melihat hal yang enggak2 dari si om-nya ini.
**apakah dengan ini gue mesti berhenti ngelakuin hobi tersebut? Jangan ampe. Gue memperhatikan orang lain, tapi gue sendiri gak memperhatikan diri sendiri. Bukan apa2. Orang yang gue perhatiin itu toh belum tentu mau nyelamatin diri gue ketika gue dalam bahaya (baca: dari pengalaman pribadi). Makanya, gue perlu TV dan meja baru**

3. Oh iya, si kecil itu baru berumuran 23 bulan. Yoi, bentar lagi dia akan masuk ke dua tahun. Yang jadi masalah, apakah gue ini mampu untuk menjelaskan bahwa konten2 dewasa tersebut cumalah sekadar hobi gue? Mungkin hati kecilnya penasaran kalo mengapa konten2 dewasa itu bisa jadi hobi. Gue sendiri sih emang menganggap konten2 dewasa itu menyenangkan, karena memperngaruhi kematangan berpikir gue. Dari hobi bisa menjadi pelajaran - pelajaran di luar kurikulum - beyond the essence of fuckin' Indonesian education system!
**Gue pikir dan rasa, penjelasan gue bakalan terlalu rumit buat si kecil. Kasihan kan kalo si kecil pusing abis dengerin berbagai macam penjelasan kompleks gue? Dia belum cukup teori, belum cukup konsep, belum cukup pemahaman, dan belum cukup kosa kata buat mengerti penjelasan yang bakalan gue lontarin ke dia. Gue kasihan, ke diri sendiri, dan juga, ke si kecil. Oke, mendingan gue hindarin dia dari konten2 dewasa tersebut. Jangan ampe si keicl melihat om-nya ini bermain game!**

Jadi, apakah TV dan meja baru tersebut benar2 menyelesaikan masalah? Hmm...

Kamis, 17 Januari 2013

Woah, Luar Biasa!

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Teman2! Apa kabar semuanya? Salam sejahtera buat kita semua ya, baik yang lagi membaca blog ini, ataupun yang lagi gak sempet gara2 sibuk ini itu, gue pribadi sih gak masalah :D

Ngomong2...

Teman2, gue minta tolong, sebelum masuk ke tulisan yang gue bikin ini, buat menyadari betul akan satu hal: gue di sini bukan buat pamer dan berbohong. Gue di sini cuma mau share pengalaman gue - dan toh belum tentu juga pengalaman ini lebih berkesan daripada pengalaman2 teman2 pembaca, betul?

So, enjoy the reading! Ride your minds into my shared experiences, as say! :D

Kembali lagi ke judul: Woah, Luar Biasa!

Gue punya rentetan pengalaman berkesan selama semester lima ini. Walaupun gue juga banyak sakit hati atas berbagai macam cobaan...

contohnya... : tiba2 keinget masa2 pahit SMA entah kenapa, padahal diundang juga enggak. Terus gak bisa keluar dari kamar soalnya terlampau fokus buat ngerjain tugas 24 SKS yang bejibun ajigile... Soalnya kalo gue keluar kamar, ada kemungkinan gue diganggu sama keluarga, sedangkan gue butuh banget bagi waktu buat fokus tanpa hambatan. Sekali ada hambatan, gue gak bakal fokus. Tapi bukan berarti bahwa keluarga gue jadi parasit yang denotatif, cuma aja gue perlu mengeksklusikan diri dari mereka di saat gue fokus kuliah... 24 SKS, mamen! Gimana kagak sibuk!? Kalopun gue tolak, nanti dosen2 dst pada nanyain ke gua... Siapa yang nyuruh kuliah?? 24 SKS itu gak cuma derita lo, tapi derita2 kami pula para dosen.. Jadwal kuliah kalian padet, kami juga jadi 'teman' Anda sekalian, donk... Logikanya dipake donk... Kalian kan mahasiswa?? Alamak, serba salah... Kemudian, keluar rumah kan juga berarti kalo gue mesti ngurungin niat buat datang undangan makan malam keluarga (yang enaknya minta ampun, udah enak rasa2 makanannya, ditraktir pula, jadinya kan gak perlu repot2 ngeluarin dompet, ngentot!) sama undangan dari teman2 SMP buat futsal dan sebagainya... Oh Ya Allah, berikanlah hamba ketabahan... :(

Oke2... Gue semestinya ngelupain itu.... -,-

Dan lagian, banyak lho kenangan2 indah yang timbul dari semester lima itu... :D XD

Gue sebutin pake list, deh. Berikut penjelasan singkatnya :D

1. Gue punya ilmu banyak. Ilmu pengetahuan semakin banyak. Gue bersyukur, sangat
* Mengingat bahwa gue lagi berada di semester lima alias.... Yep, betul... Tingkat tiga alias menuju akhir... Gue mulai ngejalanin mata kuliah yang benar2 nunjukkin jurusan gue... Kan jurusan gue itu antropologi sosial... Ya, mata kuliah yang gue jalanin itu gak jauh2 dari tema antropologi... Ada antropologi ekonomi, ada antropologi medis, dinamika masyarakat pedesaan dan perkotaan, antropologi ekologi, kebudayaan dan pluralisme hukum, kontinuitas dan transformasi budaya, antropologi globalisasi, dan antropologi komunikasi... Semua pelajaran itu... Bolehlah gue bilang mantap2 dan MENYENANGKAN SEKALI! Jujur, lebih enak menyerap ilmu2 itu ketimbang nyerap ilmu2 dasar di tingkat pertama (sosiologi, sistem sosial, ilmu politik, filsafat dasar sosial, dst) walaupun... Ilmu2 dasar itu lebih gampang sih daripada yang sekarang itu gue jalanin... :D

2. Gue dapet nilai akhir LUAR BIASA! Alhamdulillah, IPKS (Indeks Prestasi Kumulatif Sementara) gue di semester lima dari semester empat 'loncat' dari 3,57 ke 3,63 ! Dengan IP bernilai 3,89 (dari 24 SKS, yang masing2 pelajaran ada bobot 3 SKS, artinya semuanya itu ada 8 pelajaran total. Ada 3 matkul yang dapet A- , sisanya A bulat!!)...
* Teman2, gue sangat gak menyangka hal ini! Sontak setelah gue dengar kabar ini, gue langsung sujud syukur... Sekali lagi, bukan maksudnya riya , tetapi ini merupakan spontanitas ekspresi perasaan dan hati nurani gue sebagai manusia alias Hamba-Nya yang mesti diingetin terus untuk senantiasa bersyukur... Apalagi, dapet nilai yang luar biasa baiknya ini.... Jadi, gak sia2 kan kalo dari kemaren2 itu gue perlu banget ngurungin diri di dalam kamar? #ampe segitunya :D
** Gue punya rencana kotor... Dari nilai ini, kalo bertahan ampe dapet sarjana S1, kan artinya cum laude (atas 3,50) tuh ... Gue pengen langsung cabut ke pascasarjana.... S2 dan S3 langsung... Kalo ada S teler boleh juga tuh #dan terus emang ada?? .... Ya, gue punya rencana kotor buat memandirikan diri gue... Gue pengen cari beasiswa dari nilai itu... Dan... Gue pengen biar nyokap, dan kakak2 gue gak perlu stress nge-biaya-in pendidikan pascasarjana gue... Gue berharap banget kalo ini terjadi di dalam hidup gue... Mudah2an... Aamiin, saudara? Aamiin.. :D

3. Gue dapet undangan dari sekolah gue tercinta, SMPIA 3 Bintaro.... Albin 3... Buat hadir jadi peserta di career day InsyaAllah 1 Februari 2013. Ya, itu adalah acara semacam pemberian tips2 buat adek2 SMP dalam menjalani cita2 dan impian2nya masing2. Peserta pembicara bisa didapatkan dari, entah dari alumni, entah dari ortu murid yang sukses, dan sebagai2nya... Terserah dari pihak sekolah itu sendiri...
* GUE SANGAT GAK GAK GAK MENYANGKA INI !! Alhamdulillah, makasih banyak Ya Allah, gue mendapatkan kesempatan untuk berbagi tips kepada teman2 seperjuangan yang lebih muda daripada gue buat ngejalanin cita2 dan impiannya masing2... Ehmm... Then... Yeah... Lost of words... As say... As known as speechless!! XD

4. Kemaren, 17 Januari 2013 gue akhirnya cabut gigi gue (m3). ada dua gigi di sebelah kanan yang dicabut, satu di atas dan satu di bawah. Yang atas itu nabrak sama gigi2 lain, kalo yang bawah duduk horizontal alias berbaring! Menyeramkan sekali saudara2!
* Ada rencana buat cabut gigi lagi pas tanggal 4 Februari 2013... Lho? Iya, betul. Perkara pencabutan gigi ternyata belum selese! Gue masih ada dua gigi di sebelah kiri yang gak kalah membahayakan sama pemaparan di atas! Aduhai... Sabar ya... Sekarang ini... Sambil gue nulis2 pengalaman gue yang gak (begitu) jelas (amat) , gue lagi jalanin terapi2 buat ngatasin bengkak pipi kanan, LOL! XD


Sekian share pengalaman dari gue! Semoga teman2 menyadari hal yang gue sampaikan di atas ya :D Wassalam Wr. Wb! :D

Selasa, 08 Januari 2013

2013 yang Kocak


Kami semua melihat TV. TV tersebut menyiarkan sebuah saluran swasta yang intinya punya reporter yang ikut menyemarakkan kemeriahan Tahun Baru 2013. Katanya,

"Selamat ulang tahun.... Baru...! Dua ribu tiga belas...!".

Sontak kami semua terpingkal-pingkal mendengar kecerobohannya!

Katanya, tahun baru merupakan tahun yang penuh resolusi alias perbaikan diri... Tetapi, kalo gini ceritanya, yang terjadi mah... Baru beberapa detik dari tahun baru... Eh diri ini sudah melakukan kesalahan!

Ya, namanya manusia juga penuh dengan kekhilafan..

Kayak kata ustad2 yang seringkali mangkal di masjid, mushola, maupun tempat2 lainnya...

"Sekurang-kurangnya, kami mohon maaf atas kealpaan yang telah kami perbuat...".

"Mohon agar almarhum diberikan maaf yang sebesar-besarnya atas kealpaan yang telah ia perbuat...".

"Manusia selalu khilaf, selalu alpa... (untung aja bukan 'selalu betha, gamma'... Eh, beda konteks, maaf!)... Hanyalah Allah Swt yang Hak (benar seratus persen)..".

"Eh, kita lagi ngomongin apaan sih?," gumam Ardi.

Sontak ketiga ustad itu berkata kepada pemuda kebelet boker ketawa serta minim biaya serta berjuang melawan derita 24 SKS perkuliahannya tersebut *WTF , "Ngomong2, kok kita diundang tiba2 ke blog pemuda muslim..?,"

" -,- Maafkan saya, hai para ustad....,"

"Pemuda zaman sekarang memang SERING ALPA...,"

"Untung gak sering BETHA, ATAU GAMMA, YA...!? ,"

GUBRAK!!

The Pride of Task Force(d) 2: Kontemplasi

Assalamu'alaikum Wr, Wb. Selamat pagi, hai pembaca!

Apa kabar semua?

Mudah2an pada baik2 semua. :D

Ya, cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita gue sebelumnya - yang mana cerita ini menyebutkan suka duka gue dan temen2 seperjuangan gue dalam menghadapi derita 24 SKS. Mending kalo 24 SKS itu semuanya kami sukai dan kami harapkan. Kalo enggak, lantas gimana? Pasrah aja. It's do or die, I think!

Tetapi, Alhamdulillah di samping duka yang lebih banyak daripada sukanya itu, kami semua berhasil - entah kenapa. Kalo kata Adam Smith - ada Invinsible Hand yang mengatur suka duka kami. Ya, kalo kami semua agamis - ada Allah Swt yang senantiasa menyeimbangkan mekanisme bergulirnya roda bahagia dan kesulitan, menjadi kesulitan dan bahagia, dan begitulah seterusnya itu secara normatif guling-guling melulu. Dan gue baru nyadar: bahasa gue yang puitis nan romantis itu, gue bikin akhirnya jadi susah dimengerti, tapi akhir2annya gue bikin becanda. Itulah manusia, labil!

Kelabilan tersebut bikin manusia  perlu mengalami mekanisme perguliran bahagia dan kesusahan itu. Mudah2an Allah Swt gak kesulitan ngurusin kita semua. Makanya, berterima kasihlah Kepada-Nya melalui bersyukur.

Gue baru nyadar. Sekalipun 24 SKS itu gue anggep sebagai penderitaan yang nyata, tetapi gue seringkali luput dari sebuah hal: positive thinking. Mengapa paradigma suu'dzon gak gue balik jadi husnu'dzon? Dunia ini berpasangan. Allah Swt sudah menciptakannya, ada laki dan ada perempuan. Yang tadi itu lho, ada kesulitan emang, tapi kita juga toh bisa bahagia. Antropolog strukturalis elementer Prancis yang pikirannya luar biasa ngejeliimet itu, bernama Claude Levi-Strauss pernah mencitptakan konsep tentang oposisi biner. Kenapa terus gue gak mikir kalo 24 SKS itu merupakan kebahagiaan?

Tengoklah mereka semua yang kurang beruntung, Inna lillahi. Gue pikir dan gue rasa, ada jutaan orang Indonesia yang pengen masuk ke antropologi sosial. Gue salah satu dari orang2 tersebut. Dan gue sendiri yang kepilih! Jutaan lainnya tereliminasi! Kurang apa coba? Kurang ajar...

Sekalipun 24 SKS menghadirkan kepadatan yang berlebihan, tapi paket tersebut mengajarkan kepada gue akan pentingnya disiplin. Almarhum Oma Jo - nenek dari nyokap gue tercinta - senantiasa menyangsikan cucunya ini untuk senantiasa disiplin. Masih untung banget kalo pendidikan formal seperti universitas ini mau menuruti secara implisit apa kata beliau, betul? Kali2 aja kalo gue boleh mikir secara liar.

Sekalipun 24 SKS menghadirkan kelelahan yang teramat sangat, tapi sekalinya gue istirahat (tiduran lah, main game lah. Kalo cowok2 sebaya gue lainnya, masturbasi alias ngocok juga termasuk istirahat kali ya. Eh? LUPAIN KATA2 GUE YANG SATU INI!), otak gue kembali jernih, dan ILMU GUE BERTAMBAH KAYA. GUE SEMAKIN MENGERTI ANTROPOLOGI SOSIAL - INGAT PAS TINGKAT SATU GUE BENER2 BUTA SOAL ANTROP! PATUT DISYUKURI!

Sekalipun 24 SKS menghadirkan kekecewaan gue terhadap 'bahasa program' departemen alias jurusan antropologi sosial ini, tetapi gue bersyukur karena hal tersebut melancarkan ke gue akan batas waktu kelulusan secara normatif. Maksudnya, paket ini terus ngingetin gue, kalo seharusnya lulus itu emang idealnya 4 tahun. Aja. Titik. Kurang dari 4 tahun? Lebih bagus! If you demand more challenge, why not? Belum lagi, paket tersebut kerap menghadirkan ke gue akan kekayaan kajian antropologi sosial.

Kekayaan kajian tersebut - emang dibalut oleh paket yang begitu kaku. Tetapi, kenapa kita enggak jadikan ini sebagai pelajaran saja. Bahwa, kajian-kajain lainnya dapat kita sajikan lebih lanjut lagi. Hal tersebut juga ada baiknya dilakukan secara sukarela. Jadi, perlu ada dialektika atas sistem paket - lagi2 terpaksa gue menodai kesenangan menjadi kedurhakaan terhadap sistem paket tersebut! Gue manusia, jadi sah2 aja kalo gue labil! Sekalipun emang gak bener adanya siih... --> inget2 filsafat Aristoteles: gak bener itu secara materil. Kalo gak sah itu secara formatil. Kalo salah satunya aja gak bener, atau gak sah, maka kesimpulan bakalan rusak! XD --> terbukti bahwa Ardi itu bukan makhluk yang sempurna. Ya, kesempurnaan hanyalah milik Yang Ilahi alias Allah Swt.

Terus, bagaimana dengan anggota yang lainnya? Gonjack dan Nemesis??

Mudah2an mereka juga merasakan hal yang sama dengan gue.

Sekalipun belakangan ini gue belum sempet2in ngobrol sama mereka terkait hal ini, sih.

Soalnya, lagi pada sibuk sama liburannya. Harap maklum.

Libur ini, sekalipun lama: sebulan penuh - tetapi itu bisa jadi sekejap mata apabila kita terlampau berlarut dalam kenikmatannya, betul?

Jadi nikmatinlah! :D


Kamis, 08 November 2012

IQ Jongkok Saat Kuliah Medis

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Apa kabar, wahai pembaca? Selamat malam dan salam sejahtera bagi kita semua :D tanpa membeda2kan apakah pembaca itu berasal dari SARA, kedudukan, maupun negara manapun, gue ucapkan sekali lagi selamat malam dan salam sejahtera!

....

Inilah komentar gue pas gue lagi ngejalanin satu kuliah yang paling ingin gue hindari, yaitu Medis. Seperti yang telah gue ceritain di cerita sebelumnya, gue pengen hindarin pelajaran ini karena gue pribadi emang anti IPA dan loyal IPS. Jujur. Udah, gak usah bohong aja.

Dan kesialan itu terjadi pada hari itu... Hari Senin 5 November 2012 yang sama sekali kagak gua sangka2....

Nah, gue tahu sih kalo dosennya ganti, tapi cukup buruk beritanya: ganti dari dosen yang santai ke STRICT. Darn. Gue berdoa banget mudah2an gak terjadi kenapa2...

Gue masuk di kelas dengan kepala yang agak2 berisi... Dengan dua bahan yang ada di kepala.... Tapi ampe sekarang gue gak ngerti sama kedua bahan itu.... Kalo kayak gini nih... Jadi keinget lirik Warkop Kisah Tiga Pemuda...

Ki..sah ini .. tentang tiga pemuda
Yang selalu .. ingin jadi jagoan
Ta..pi sayang .. hanya dalam khayalan
Be...da dengan kenyatan .....

Oke, ini cuma tentang seorang pemuda yang bernama Ardi Pritadi aja sih. Ya, dia selalu ingin jadi jagoan (secara implisit, more action less talk or doing nothing), tapi sayangnya bener2... Beda dengan kenyataan... Walaupun gue tahu banget kalo kenyataan itu dibuat karena relasi kekuasaan (power relation) di antara mahasiswa tingkat tiga yang sering kebelet boker dan ketawa serta minim biaya (baca: gue sendirilah) dengan dosen super normatif alias textbook banget. Ketahuanlah, yang submisif alias pasrah2 aja itu gue, yang powerful itu ya si dosen freak!

Gue tengok kiri kanan. Asu buntung. Bahan kedua yang gue baca BENAR, tapi yang pertama SALAH. Duh, mana dua2nya gak ngerti lagi... Ngeri amat ngelihatnya!

Gue tengok kiri kanan. Semuanya pada baru baca juga. Tapi menurut gue, sekalipun mereka semua dikasih kesempatan - itu adalah tindakan pengecut yang setingkat dengan curang alias menyontek. Yaudahlah, gue juga gak bisa maksain mereka

Bermacam cara .. orang berburu harta
Dari yang halal .. sampai yang tidak halal
Memang dunia .. sudah menjadi gila
Termasuk juga penghuninya

 Jadi, gue mesti jujur dalam konteks ini. Tidak memutarbalikkan fakta bahwa gue sendiri emang baca tapi salah bahan. Kalo kata Warkop DKI: Salah Masuk.

EH, GUE DISURUH PRESENTASI DADAKAN!

"Silahkan, M. Ardi Pritadi dan Tiara maju untuk mempresentasikan review (dadakan)-nya..." Begitu kata Mbak Es U - yang sengaja gue samar2in namanya.

Dengan otak yang apa adanya... Gue maju... Dan setelah Tiara yang cerdas (gak kayak gue: dikit2 IQ jongkok) berhasil mempresentasikannya, giliran gue...

"Saudara Ardi mohon untuk tidak mengulang apa yang dikatakan oleh Tiara. Jadi, lengkapi saja apa yang kurang dari dia..."

Oke2... Gue sih jawab kayak gini...

"Selamat pagi teman2... Sebelumnya, saya mohon maaf... Jujur, saya telah membaca dua bahan, tetapi yang satu benar dan yang satu salah. Yang salah, gue baca bahan XX. Yang bener, tentang YY. Seharusnya, kita membicarakan YY dan WW, dan tentu saja konsekuensinya saya tidak membaca WW. Jadi, agar relevan dengan diskusi kita hari ini, lebih baik saya helaskan dulu ya tentang YY..."

EH, DI-INTERUPSI!

"Eh.. Eh... Maksud saudara apa itu salah bahan? Bukannya sudah saya kirimkan di email ya soal bahan itu? Seharusnya gak mungkin salah donk? GAK ADA ALASAN LAGI DONK?"

Sekali waktu .. dia pingin bekerja
Sambil berlayar .. menambah pengalaman
Ta..pi sayang .. semua serba saleh (
salah, maksudnya)
Karena bloon penyakit dia

....

Gue sih pengen ngejawab kalo emang itu salah gue. Gue juga jujur juga gak lihat satuan acara perkuliahan (SAP), di situ kan dikasih tahu kalo lo mesti ngapain aja di minggu tertentu. Gue gak lihat soalnya gue ada acara keluarga. Dan email yang gue terima, isinya buat minggu depannya lagi (baca: bahan XX) yang notabene BUAT MINGGU DEPAN...

Tapi, seenggak2nya usaha gue dihargain donk?? Walaupun gue salah baca, YANG PENTING KAN GUE BACA? I'VE HAD A FULL EFFORT, AT LEAST! Coba bandingin sama mahasiswa lain: BELUM TENTU JUGA DIA BACA, SEKALINYA KALO MALES BANGET!

Apabila dia disuruh ke utara
Dia pun pergi ke Kulon
Dia bermaksud slalu ingin berbuat baik
Akhirnya kok berantakan
Semua tugas dan kerja jadi rusak

 ....

Gue telah jujur, tapi gue tetep dianggap salah alias gak dihargain. Emang sih, gue tahu kalo jujur itu hanyalah buah produksi dan reproduksi dari pendefinisian atau penjelasan akademik. Sedangkan, PENDEFINISIAN HANYALAH DAPAT DIMENANGKAN MELALUI KUASA YANG TINGGI. LO GAK USAH JUJUR KALO SECARA DISKURSUS LO KALAH..!

Tapi, gue pengen banget (selalu) ngelakuin jujur secara harafiah... Literal...

Dan gue pengen banget dihargain setelah melakukan kejujuran  

Serta, gue share aja... Hal ini sering terjadi ketika gue mulai masuk SMA ampe lulus... Sering banget, gara2 gue gak punya kekuasaan, GUE DIANGGAP BOHONG PADAHAL GUE JUJUR.... GUE DIANGGAP GAK PEKA PADAHAL GUE UDAH MATI2AN BERUSAHA BUAT PEKA (catatan: gue gak peka, gak apa2, tapi gue selalu punya usaha buat memperbaiki kesalahan tersebut loh, ya makanya donk hargain gua!), GUE DIANGGEP ANTI SOSIAL PADAHAL GUE SELALU MENOLONG ORANG (catatan: gue selalu menolong orang karena hal tersebut membahagiakan lahir batin gue baik secara langsung maupun tidak, beneran. Malah kalo gue terlampau baik, musuh2 gue juga bakal gue tolongin. Hayo, mau komen apa??)., dst dst dst!

Siapa yang begitu ke makhluk yang bernama Ardi Pritadi itu?

Tebak saja! -,-

Selasa, 30 Oktober 2012

The Pride of Task Force(d) bag. I

Flash back...

Jumat kemaren, tanggal 12 Oktober 2012, Paton selaku dosen gue yang killer menugaskan kelompok gue buat maju minggu depan. Presentasi! Yes... Hm... God.. Darn it! -,-

"Baca History and Dialectical yang ditulis oleh Claude Levi-Strauss, dalam bukunya yang berjudul the Savage Mind"

Kalo kata Bayu - selaku teman gue yang hobby-nya ngerakit militer dan berdiskusi soal militer juga:

"Kita ini task force! Kelompok khusus yang ditugasin untuk melakukan kegiatan tertentu"

Bangsat...

Bahasanya militer banget... Untung aja gue cowo yang mayan suka berkecimpung di dunia militer. Walaupun cuma terbatas di main game aja sih, kalo Call of Duty, Medal of Honor, Heatseeker, Ace Combat Series, semua itu lewatlaah gue embat ampe habis..

Loh, kok kita malah ngomongin game?

Setahu gue juga sih, task force kalo di udara, namanya special tactical squadron. Itu merupakan kelompok pilihan yang emang punya tugas khusus, lain dari yang lain. Contohnya kayak mengawal Air Force One sama Air Force Two, itu perlu special tactical squadron *belajar dari game H. A. W. X.

terus apa hubungannya sama cerita yang mau gue ceritain ini?

Betul sekali, pembaca. Kelompok gue yang bakal maju minggu depan dianalogikan dengan task force tersebut!

Akhirnya, kami menamakan diri kami sebagai: TASK FORCE(D), bertugas di Operasi Makan Otak dan Operasi Sakit Hati!

wait! just a sec!

Task Force(d) ? Kenapa ada '(d)'-nya? Karena kita dipaksain buat ngelakuin itu -,- inilah yang terjadi apabila praktik berbahasa berbenturan dengan gramatika bahasa. Maksudnya apa? Udah, jangan nanyain gua!! Lagi capek mikir nih gua!! -,-

Oke, briefing-nya kayak gini nih! Tiada task force tanpa briefing! Briefing itu maksudnya penjelasan singkat mengenai misi2 yang mesti dilaksanain....

Briefing: Operasi Makan Otak - Kocok Hingga Habis (Jangan mesum dulu! Ini terjemahan kasar dari 'Shake 'em off!' -,- kebanyakan main game2 action war siih)

Saudara seperjuangan! Apa kabar kalian di pagi hari yang cerah ini? *lihat ke jendela tau2nya mendung. Oh, maaf, oke kita langsung aja ke diskusi singkat sebelum misi *Ace Combat Mode: On

Seperti yang telah kita ketahui, kita diamanatkan oleh Paton untuk melaksanakan tugas khusus ini. Akhirnya, setelah kita menyadari hal itu, maka saya telah membuatkan sebuah jadwal yang telah ditata secara rapi dan bersih... Maaf maksudnya secara rapi saja, enggak pake 'bersih'. Kira2 seperti ini:
13 Oktober 2012: mengerjakan tugas summary ekologi perminggu as always like that. ditambahin ngerjain reaction paper medis II.
14 Oktober 2012: baca bahan yang telah ditugaskan oleh Paton sampai habis! Kita akan bertindak secara asketis kali ini. Btw, asketis itu apa? Please, jangan nanya2, gue lagi capek mikir!
15 Oktober 2012: lakukan kuliah seperti biasa. Pas lagi selang waktu, jangan lupa berdiskusi dengan dua nggota task force(d) lainnya, yaitu Imam Wibowo (TF Two, callsign "Gonjack") serta Bayu Ahmadi (TF Three, callsign "Nemesis"). Diri sendiri adalah Ardi Pritadi, sebagai TF One (Ribbon - pemimpin squadron khusus) dengan callsign "Mr. Prit" --> gabungan antara keren dan konyol. Jangan lupa sertakan Metha dan Yoga sebagai teman berdiskusi juga
16 Oktober 2012: di rumah saja. Mas Aji selaku dosen gak masuk. Tapi, gue bakal ngerapihin bagan berikut ngerjain draft pengalaman sehari2 ekologi
17 Oktober 2012: enggak ngapa2in, kuliah aja
18 Oktober 2012: kuliah. Jangan lupa diskusi buat terakhir kalinya. Terus fotokopi bagan buat finalnya.
19 Oktober 2012: PRESENTASI. GAK BOLEH ENGGAK MASUK. ENGGAK MASUK = PENGECUT TINGKAT KRONIS. Jangan lupa bikinin bagan pagi2 buta, sebelum dosen udah masuk. Iya, sebelum Paton masuk. Sampai di rumah, kerjakan UTS Take Home Medis dan rapikan catatan KTB hari ini! Jangan lupa siapin alat2 buat turlap esok hari!

Saya tahu bahwa jadwal ini terlampau padat. Kita - dalam konteks ini - benar2 dipaksa untuk menjadi manusia modern. Bahkan, mungkin aja buat jadi manusia posmodern yang mana jadwal hidupnya terlampau padat. Lihat aja, ini jadwal seminggu anak kuliah aja kayak gini. Bandingin sama jadwal petani ladang berpindah donk. Jelas beda banget!
Sekian dahulu untuk Operasi Makan Otak ini. Mari, kita lanjutkan ke sesi briefing selanjutnya, yaitu Operasi Sakit Hati. After all, good the fuckin' luck alias goodluck! Have no fuckin' lack of luck! Insya Allah (dari bahasa preman hingga agamis gue masukin, bleh!)

Operasi Sakit Hati: Banting Ampe Jatuh! (Operation of Broken Heart: Smack 'em Down!)

Selamat pagi, kawan2! Ini merupakan operasi lanjutan dari Operasi Makan Otak! Semoga kita sukses, menjalani jadwal yang semakin lama semakin padat! Karena, abis ini kita harus menghadapi Ujian Tengah Semester alias UTS! Behold!

20 Oktober 2012: Turun lapangan ke Bogor, perihal mengerjakan tugas ekonomi. Setelah itu, diharapkan agar kelompok kita dapat mendeskripsikan tata letak kota Bogor yang kita lalui sebisa mungkin VIA JALAN KAKI. BENERAN JALAN KAKI. BIAR KERASA GOING NATIVE. Jangan lupa sertakan Gonjack dan Nemesis, Mr. Prit :D . Malemnya coba kerjain UTS Kebudayaan dan Pluralisme Hukum Take Home!
21 Oktober 2012: Terusin KPH yang belum selese. Jangan lupa print Medis. Satu lagi, belajar juga buat UTS sit in Ekonomi
22 Oktober 2012: Kumpulin Take Home Medis sama laksanain Ujian sit in Antek.Nyampe2 rumah, mohon belajar buat DMPP besok.
23 Oktober 2012: Laksanain Ujian DMPP.
24 Oktober 2012: Kumpulin KPH Take Home, jangan lupa ditulis tangan, boleh pake A4 kok. Jangan lupa ambil soal Ekologi, kumpulinnya minggu depan, boys! Nyampe rumah, belajar Komunikasi sama download soal UTS Globalisasi
25 Oktober 2012: Hari JGTC, dan task force(d) gak bisa dulu. Damn. Just another shit in the whole of hole! Ikutin kelas pengganti Globalisasi serta laksanain UTS sit in Komunikasi!
26 - 30 Oktober 2012: LIBUR! TAPI JANGAN SENANG DULU. ADA BEBERAPA TUGAS MENANTI DAN MENEMANI DI RUMAH, DAN MUTLAK HARUS SELESE SEMUANYA: UTS take home ekologi dua biji soal, UTS Globalisasi, field report dan journal report ekonomi berikut ppt sementaranya, review perminggu ekologi, sama rapihin catetan globalisasi. Kalo udah selese, jangan lupa bantuin temen. Pulsa habis, sementara pake chat facebook dulu, atau pinjem pulsa nyokap to break through these odds! Gue takut dibilang makan temen alias MT soalnya kalo enggak bantuin, yasudahlah, bantuin aja sebisa mungkin. Kalo bantuan itu dirasa minimal juga, ya gue mohon maaf, kan gue udah usaha sebisa mungkin, ya hargain donk. Badan udah capek banget tahuk! -,- -,- -,- -,-

Selamat berjuang. Remember, there's only one best weapon to survive: DETERMINATION.


"I saw my death in my dreams many times, but I didn't die. I was better than my fears. Better than my nightmares, but to find out, I had to face them all. I had to get through the worst, to prove I was the best. That was my reality."
Colonel William Bishop, Ace Combat Assault Horizon


(Gue juga berharap bisa keluar segera dari berbagai macam mimpi buruk yang gue alami, kawan. Duh, andaikan lo bener2 hidup, gue pengen ngajak lo ngobrol soal mimpi buruk di dalam realitas... Tapi seenggak2nya gue belajar banyak dari elo: Kita boleh mati di dalam mimpi buruk. Tapi, KITA HARUS TETAP HIDUP DI DALAM REALITA. REALITA 24 SKS DALAM TIGA SEMESTER BERTURUT2. REALITA SETIAP SAAT PASTI ADA TUGAS (MENDING GAMPANG, SUSAH JUGA), REALITA SETIAP SAAT DIRI KITA BELUM TENTU DIHARGAI OLEH ORANG LAIN SEBAGUS APAPUN USAHA YANG TELAH KITA LAKSANAKAN, DAN REALITA LAINNYA. Inilah yang bakal gue pelajari di dalam dua operasi ini, minimal. Berikutnya pasti juga bakal ada keanehan2 lain yang gue wajib hadapin. HAVE SOME FUCKIN' SPIRIT!)

Rabu, 10 Oktober 2012

Habis Kesabaran

Selamat malam, pembaca! :D

Gila...

Lho?

Enggak sih, gue cuma mau komentar tentang perkuliahan gue yang terlampau padat namun juga terlampau kocak. Gue mau share nih tentang ke-kocak-an tersebut, yang mudah2an bisa menggelitik perut pembaca :D

Jadi, kemaren tuh temen gue, Windan, mempromosikan sebuah minuman ajaib nan absurd ke teman2 lainnya, termasuk gue. Irin dan Devita termasuk di dalamnya. Mereka berdua mengomentari dengan komentar yang kocak tentang minuman itu... Yang bernama.... Duh aneh banget... Bir Kopi... Gue jadi bingung, itu bir apa kopi sih? (Hah!?)

Irin dan Devita: Wah, minum aja. Iya sih, namanya aneh bin ajaib. Tapi, dijamin IQ lo gak bakal jongkok kok (IQ Jongkok? Kok kayak Warkop DKI aja! Jadi dah kita semua mahasiswa universitas pantang mundur, LOL LMFAO!!).

Gue: ....

Irin: Ayo Ardi! Silahkan diminum!

Gue: Permisi...?

Devita: Ih Ardi gak usah pake pura2 gak tahu dah! Ayo minum, tenang aja! Langsung aja dari botolnya! Pas kita lagi diospekin senior, kan kita minumnya satu botol satu angkatan

Gue: .....

Gue (lagi): Cobain donk...

GUBRAK!

alhasil gue coba tuh minuman absurd itu. Hm! Rasanya kayak.... Em... Kopi item tapi dicampurin sama soda... Ya, mirip soda gembira gitu yang mana susu kental manis dicampur soda... Tapi ini sih perkaranya soal kopi item aja...

Enak kok...

Ternyata cerita gak berhenti sampai di situ. Temen gue yang absurd bin ajaib muncul. Namanya Imam. Dia disuruh nyobain minuman itu. Menurut gue kagak ngefek juga sih. Soalnya, orang absurd kalo minum absurd, ya gak ada ubah2nya sih, jadi gak aneh aja gitu *teori dari mana tuh

Imam kemudian senyum2... Dan berkata, "Wah! Ini rasanya kayak rum campur kue coklat tapi bersoda!".

Ampun. Kayaknya ada misprocessing di tengah2 pengartikulasian pengecapannya (bahasa tingkat dewa. jangan nanya ke gua artinya apaan - gue lagi gak mood mikir nih -,-)

Alhasil gue ketawa2 gak jelas. Ya iya, ngelihat tuh bocah bertingkah absurd (dan makin absurd ke sini2nya), gue jadi gak sabar... Kalo kata film Warkop DKI: Mana Tahan....

EH! Irin sama Devita komentar!

Irin: Loh Ardi kok ketawanya gak tahan gitu? Ampe mendesah2 gitu lagi??

Devita: Wah, coba deh lihat kandungan zatnya. Kayaknya tadi udah kita teliti deh, gak ada tuh kandungan yang bikin IQ jadi jongkok..?

Gue: ..... (ndasmu...)

Imam: HAHAHAHAHAH !!

Gue: .... (*pissed!)

General Law: Rasakanlah bir kopi agar merasakan nikmatnya "Happiness in Rush Hour"! Sekali2, bolehlah IQ kita di-JONGKOK-in agar bisa melepaskan keceriaan di dalam hati bersama teman2 seperjuangan, betul?? :D

Minggu, 07 Oktober 2012

Uneg2 Gua: 24 SKS dalam Tiga Semester

Selamat malam, teman2 pembaca :D

hari ini gue mau nyampein sebuah uneg2 yang mungkin aja lo ngalamin. Gak ngalamin juga enggak apa2 sih :)

sesuai sama judulnya: gue bener2 ngejalanin 24 SKS di tiga semester berturut2!

Gue ngejalanin itu dari semester tiga alias pas gue lagi tingkat dua. Sekarang gue lagi ngejalanin semester lima. Jadi, gue tetep ngalamin kepadatan yang amat sangat ini: setiap hari MUTLAK MASUK, tugas perminggu MUTLAK ADA, dan sebagainya dan sebagainya -,-

Gini aja sih, okelah gue ngejalanin itu secara penuh banget. Apalagi, gue pribadi juga menyangsikan satu hal: paket. Paket ini, emang punya kelebihan yang mutlak: (cenderung) menghindarkan mahasiswanya dari ketidaklulusan atau mengarahkan mahasiswanya menuju angka kelulusan normal (baca: lulus dalam waktu empat tahun, jangan lama2!).

Tapi, gue juga punya ketidaksetujuan terhadap sistem paket itu loh.

Tahu gak, gara2 paket, gue (dan teman2 seperjuangan gue) jadinya gak bisa nikmatin bebasnya menimba ilmu di universitas. Belanja mata kuliah, alias ngambil dari jurusan tetangga GAK BOLEH. Nolak mata kuliah, GAK BOLEH. Hm.... Padahal, salah satu tujuan gue datang di kampus ini: buat mendalami ilmu sosial bersudut pandang antropologis yang bahasannya gak jauh2 dari sistem pendidikan, konflik sosial, sama macem2 pembentukan nilai (jadilah norma, struktur sosial, sistem sosial, institusi, organisasi sosial, sistem kekerabatan, dan sebagainya). Menyangkut ketiga masalah itu, gue senang sekali!

Lalu....

Gue ambil mata kuliah2 sesuai paket buat minggu ini. Dan... Jeng jeng!! Ada loh beberapa yang gak gue minati: ekologi sama medis! Gue tegang, gue takut. Satu alasan yang terkuat: mereka itu bersinggungan dengan IPA. Sedangkan, gue sangat2 ANTI IPA! Gue IPS SEJATI --> kebukti dari tiga minat yang tadi gue sebutin, kayaknya itu gak ada sangkut pautnya sama IPA banget!!

....


Anyway, gue mesti merasa lega terutama buat medis ini sih. Kalo di medis, untung aja ada sudut pandang CMA (Critical Medical Anthropology). Itu sih intinya gimana caranya kita memandang sistem kesehatan yang ada dalam perspektif konflik atau ekonomi progresifnya Karl Marx. Seru! Di mana ada konflik, di situ masalah ada, dan ketika ada masalah, di situ bisa dijadiin bahan skripsi! *eh kata2 gue yang ini bener apa kagak ya?

Kalo ekologi... Gue nyerah... -,- pasrah aja, mau bagus apa enggak nilainya, yang penting gue lulus -,-

Balik lagi ke judul: 24 SKS dalam tiga semester berturut2. Eneg gue. Beneran. Lo boleh ngomong kalo gue pinter, gue rajin, gue licik, gue tricky, dan sebagainya. Tapi, inget kalo gue juga manusia: gue juga bisa jenuh dan mengeluh, mengeluarkan, menyuarakan uneg2 yang selalu saja tersimpen di hati. Gue juga harus ngeluarin ini secara hati2: emangnya mereka semua yang gue pinta dengerin uneg2 ini MAU DENGERIN GUE? MAU MEMBANTU GUE?

Kalopun membantu, gue anggep bantuan itu hanya jadi sekedar elemen belaka. Dia bisa membantu menyelesaikan masalah, tapi, balik lagi gue sendirilah yang bakal nyelesein masalah itu. Toh, gue yang punya masalah, kenapa mesti orang lain yang repot? Gue aja donk yang repot?

akibat dari kejenuhan itu juga, gue jadi mesti menghadapi hal2 yang merepotkan. Pas liburan kemaren, gue ada masalah terkait kejiwaan gue, Inna lillahi. Gue akhirnya ke intervensi alias konsultasi psikologis yang Kak Titi saranin, yaitu dosennya sendiri yang bernama Mbak Dhela. Haha, Mbah Dhela bener2 baik. Bener2 mau mnegerti masalah gue, dan bener2 ngerapihin apa2 yang mesti gue lakuin.

Mbak Dhela, makasih banyak buat bantuannya. Mbak bener2 nyadarin gue. Dan elemen bantuan ini, benar2 membantu sekali. Sangat. Nah, mbak, gue malu nih. Berhubung gue punya masalah2 seperti dunia kuliah yang padat ini, biar gue aja yang ngelakuin ya? Toh ini juga masalah gue pribadi kok.

Gue ngomong itu di dalam hati.... Soalnya Mbak Dhela itu seakan2 bisa menjadi dewi penolong yang datang di saat darurat. Alas, Mbak Dhela juga manusia! Gue gak boleh banyak2 ngerepotin beliau!

Beliau sudah respect ke gua, toh begitu juga.

Belum lagi cerita2 lainnya. Jujur, tiga semester ini benar2 hal yang berat. Sangat. Tingkat dua merupakan black days bagi gue. Selain padetnya kuliah, gue juga mesti repot2nya ngurusin keponakan (terutama ketika kedua ortunya lagi gak bisa) sama ngurusin nyokap gue yang lagi kena kanker metastase. Masya Allah.

Entahlah, gue bisa survive. Nilai gue bagus sekali (di luar harapan gue malahan), sama gue cuma mau testimoni: Allah Swt TERLAMPAU SAYANG SAMA DIRI GUA. Ya Allah, gue bener2 ngerasa kalo kadar usaha sama halangan rintangan itu ngejomplank (baca: lebih banyak halangan rintangan ketimbang usaha yang gue lakuin! Jujur, tingkat dua kemarin, sekali lagi, bagaikan dua kata bagi gue: chaos and nightmare).

Intinya sih gitu aja. 24 SKS dalam tiga semester berturut2 adalah hal yang gila dan memuakkan lahir batin. Sekalipun itu bisa bikin lo cepet lulus. Tapi, katanya lo bebas buat nimba ilmu apapun di kuliah? Kalo masih terkungkung gini...

Gue harap negara mau bertanggung jawab atas kecelakaan2 yang terjadi apabila hal ini menimbulkan efikasi negatif! Lebih lagi, gue harap hal ini berguna buat diri gua, ini nih, 24 SKS dalam tiga semester berturut2! Soalnya juga, gue juga gak pernah denger ada sistem ini di jurusan lain kecuali kedokteran. Kedokteran kan emang harus paket.

Tapi khusus buat kedokteran: mudah2an kalian juga bisa lulus dengan baik ya? Tenang aja, gue juga ngerti penderitaan kalian dipaketin karena gue juga ngerasain hal yang sama. Udah gitu, mudah2an kalian juga bsia dapetin prospek kerja yang cerah, bernilai, dan menyelamatkan masa depan kalian ya? Mudah2an kita semua sukses, Ya Allah, Kabulkanlah Permohonan Kami!

Dan gue harap: pas gue ambil pascasarjana nanti, paket2an udah gak ada lagi! Gue bebas nimba ilmu, mau ambil yang mana aja boleh. Gue berpikir dan merasa kalau sekolah tinggi setingkat universitas seharusnya memperbolehkan peserta didiknya untuk menimba ilmu sebebas2nya sesuai yang ia minati. Seharusnya.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Sedia Payung Sebelum Hujan

Selamat pagi, teman2! Hari yang cerah! Cerah sekali! Segala Puji bagi Allah Swt!

Jadi, ini nih, gue ada cerita lucu di jumat 5 Oktober 2011 nih. Maaf2 aja ya kalo baru diposting pas hari minggu. Maklum, jadwal kuliah gue bikin muntah: 24 SKS - dan itupun setiap hari gue mesti masuk! Hueekk!

Kembali ke cerita.

Jadi, gue punya temen sekelas, namanya Barjo. Dia itu anak jurusan lain, dari sosiologi '07. Eh? Artinya, dia beda tiga tahun gitu di atas gue? Yup! Enggak apa2, jangan diketawain, maklum orang yang lagi berjuang :D kabarnya sih, dia lagi bikin skripsi, tapi masuk di kelas yang sama kayak gue karena perlu tambahan SKS, ya kira2 gitulah. Selamat berjuang, Jo! Atau, mesti gue panggil Kak Barjo, kah?

Ah udahlah, woles alias selow.

Cuma beda tiga tahun kenapa juga mesti manggil kak?

We are all comrades after all! Bukan menjunjung nilai komunis sosialis sih maksudnya, tapi cuma mau ingetin kalo kita tuh setara kalo udah jadi temen, alias egaliter! kayak makhluk berburu dan meramu aja.

Sebentar...? Makhluk yang kayak gitu yang kayak gimana? Stop. Gue lagi gak mood ngejelasinnya. Maaf ya -,-

Dan kayak biasa: kebiasaan primer gue nulis itu --> OOT alias Out of Topic melulu!

Balik lagi ke cerita.

Gue lagi serius kuliah. Lagi pukul 09.00 an lah. Kelas ini udah mulai dari sejam yang lalu. Tapi! Tapi si Barjo SMS gue dengan pertanyaan

"Udah masuk belum?"

Yaelah.

terus gue jawab deh

"Yup"  --> gue jawab dengan panik, soalnya dosennya tahu gue lagi mainin hape!

Lima menit kemudian, datanglah dia dengan membawa payung! Padahal hari lagi cerah! Dosen gue yang bernama Paton, ngeledek dia... (Tokoh: Paton, Barjo, sama Kita Sekelas)

Paton: Baru masuk, loe?

Barjo: Iya mas. Maaf ya.

Paton: Yaudah, duduklah kamu.

Barjo: Makasih, mas.

Paton: Sama2. Eh kamu! Kamu kok bawa payung!? Bukannya hari ini cerah ya??

Barjo: Bawa donk. Palingan nanti siang kalo enggak sore hujan muncul!

Kita Sekelas: @$!@%!@$ !!??

Gue pribadi mangap2 pas ngedenger dia ngomong gitu.... Hah, Barjo... Di saat2 yang kayak gini ternyata lo masih bisa bercanda. Haha, itulah yang namanya "Bercanda di Tengah Kehancuran"!

Abis kuliah, gue fotokopi bahan buat hari senin besok. Bahan itu buat mata kuliah antropologi ekonomi. Ada lima bab, kata dosennya sih dikit. Pas gue periksa: holy crap! SERATUS LIMA HALAMAN ITU DIKIT YA!!?? Suka2 lo dah!! Cuk... Cuk...! -,-

Nah, cabutlah gue kuliah pake himanza (hitam manis avanza). Hehe, gue sengaja manggil mobil gue kayak gitu, biar kerasa intim *!? ampe2 temen2 gue pada ngomong, "Ya ampun, Di. Lo ngomong avanza lo manis gitu kayak udah dijadiin pacar aja". Biarin, kawan. Inillah jeritan lelaki yang mau jadi pria tetapi 'sendirian' dari dulu hingga sekarang! Hiks2 T,T

EH!

DI JORR HUJAN LOH!

Hey.... Ada apa, Jo? Kok kata2 lo bener adanya? Kok lo gak bilang2 kalo lo bisa memprediksi cuaca dan iklim? Eh, bedanya cuaca sama iklim apa sih? Gue males mikir nih? Ya pokoknya gitu. Apa jangan2 lo juga bisa mengubah keadaan cuaca dan iklim disamping bisa meramal? Jangan2, cerah2 gini lo ganti jadi hujan ya? Jangan2 juga, perubahan iklim juga gara2 lo lagi?

Ah! Kalo iya, kan jadinya malah nambah beban pelajaran: kompetensi climate change (ya, maksudnya bakal ada pelajaran2 tambahan yang terkait dengan perubahan iklim gitu kayak sosiologi lingkungan)! Zzttt -,-

General Law: Siapapun yang telat, jangan bawa payung di saat yang cerah! Siangnya, pasti (bohong) cuaca dan iklimnya berubah jadi kemarau! Ampuuun !!

Sabtu, 16 Juni 2012

Wah, mental ke sana!

Haha, teman2 pembaca blog gue.

Akhirnya, gue mau cerita2 lagi nih.

Kali ini, tentang kisah konyol gue pas gue masih SD. Tepatnya.... Kelas 4 SD. Naah, biasa - gue kan sekolah di salah satu sekolah swasta Islam waktu itu. Jadi, membagi waktu buat sholat pasti udah biasa, kan?

Gue dan temen2 disuruh segera ngelaksanain sholat Zuhur. Ya, berjamaah - tentu aja bareng2 sama dewan guru. Jujur aja - ini jadi kenangan yang terbaik yang pernah gue alami loh. Maksudnya? Ya, maksudnya, sholat zuhur berjamaah ini - bersama dengan teman2 maupun dewan guru adalah kenangan yang paling traumatis (susah buat dilenyapkan) dalam hidup gue - saking indahnya. Malah, gue yakin2 aja tuh, pas gue udah jadi engkong2 nanti - palingan gue masih inget nih kenangan. Dan ketika nanti gue jadi engkong2 - gue ceritain ini ke anak cucu cicit ampe (mungkin aja) petarang bodol (generasi ke tujuh - ya mungkin aja gue hidup ampe bisa lihat generasi ke tujuh gue! Aamiin Ya Allah!) - palingan DIKETAWAIN HABIS2AN SAMA MEREKA...

...

Gue sih, gak permasalahin kalo kenangan itu dibuat untuk diketawain pas di masa depannya nanti. Toh, itu akan sangat berguna loh. Anggep aja, ketika di masa depan nanti lo lagi kerepotan - kebakaran jenggot gitu - dimarahin bos - ataupun kalo lo jadi bos dimarahin karyawan lo (gimana ceritanya tuh??). Setelah dimarahin (habis2a) - kan - elo setress. Nah, gak ada yang bisa bertanggung jawab sama stress yang elo alami kecuali tiga hal: Tuhan, diri elo sendiri, dan keluarga.

Makanya, kalo stress itu mendingan ngelakuin seenggak2nya beberapa hal (bisa ditambahin pembaca apabila berkenan, hehehe):

1. Dengerin musik. Coba denger Eumir Deodato - Adam's Hotel (bagi pecinta Jazz) atau Linkin Park - Black Out (bagi pecinta rock - metal - dan sejenisnya yang sama sekali gue gak ngerti). Atau musik lainnya yang menurut lo emang pantes buat nyurutin tingkat kesetressan lo. Percaya deh, semua orang punya alternatif minimal buat ngeredain stressnya dengan musik, trust me!

2. Doa. Zikir. Chanting. Nyanyi2 ke trinitas. Bikin sesajen buat sesembahan. Sembah2 patung. Atau apapunlah agama elo berikut dengan praktik2nya - inget2 Kepada-Nya. Sekali lo inget Kepada-Nya, lo ngerasa terlindungi, betul? Dijamin stress lo bakalan sirna!

3. Inget2 kenangan konyol masa lampau! Wah, abis itu, lo ketawa2 sendiri kayak orang gila, dan jujur - gue gak mau nanggung kalo hal itu terjadi beneran! Nanti nih, gue mau ceritain. Sebenernya, blog yang gue bikin ini sih rata2 jadi praktik butir ketiga ini, betul?

4. Having sex! Dengan pasangan hidup atas pernikahan yang sah dan gelisah.. Eh, yang sah aja lah! Kalo enggak sama pasangan hidup. Ya, siap2 kena sanksi akhirat (udah diingetin kan, la taqrobu zina - jangan kau dekati zina - zina yang gak sah!) atau sanksi dunia (kena pidana - abis hamilin anak orang, atau masuk koran lampu hijau, mampus dah ente haaaahhh !!). Nah, butir keempat ini perlu gue jelasin secara detail gak? Hm? Iya? Eh? Enggak? Ooh, oh OH! #kenatimpukSwa**w!#

Oke, lanjut ke cerita.

Sesampainya di masjid - gue ketemu dengan seorang temen yang konyol. Namanya Emil. Dia itu lucu, selalu berpakaian rapi. Termasuk - rapi sekali dalam melipat sarungnya. Bedain sama gue - ngelipet sarung aja masih2 aja diingetin sama dewan guru #ketahuangakbisalipetsarungdasaranakgeblekanakdarimanaini#

Emil : Hei Ardi. Kamu apa kabar? --> inget2 gaya bicara pas SD. Begitu lambat, lembut, dan masih pake 'aku' dan 'kamu' !
Gue : Hay Emil. Alhamdulillah baiiiiikkkk.. (wtf??). Kamu apa kabar, Emil?
Emil : Aku juga baik, Alhamdulillah..
Gue : Siip.. Eh Emil, kamu kok pake sarungnya rapi bener sih??
Emil : Masa' sih Di? Kamu bisa aja... Hehe --> kok kesannya kayak pacaran ya !!??
Gue : Iya... Rapi banget, kok beda ya sama aku?
Emil : Aah.. Pasti kamu bisa lah lebih rapi daripada aku...

Abis itu, gue dan Emil diem dengerin dewan guru lagi cuap2in sesuatu... Oh, ternyata ngomongin peraihan kotak amal perminggu.

Ngomong2, entah pembaca setuju atau enggak ya, kalo jumlah nominal kotak amal itu kok (khusus terjadi di sekolah swasta Islam di Indonesia)... Makin naik tingkatnya - makin rendah ya jumlahnya?

SD : Alhamdulillah, kotak amal minggu ini terkumpul sebesar satu juta rupiah! --> pas mantap!
SMP : Alhamdulillah, kotak amal minggu ini terkumpul sebesar Rp. 500.000,00! --> Hmm, not bad...
SMA : Alhamdulillah, kotak amal minggu ini terkumpul sebesar... (menjawab dengan keringat dingin)... Rp. 120.000,00 ... Saya sempat mendengar bahwa ada tuh satu hari ketika semua kelas gak beramal SEPESERPUN... Bener tidak, tuh?--> Ya Allah! Apakah kita2 ini calon penghuni neraka kalo gini caranya???

Kembali lagi ke cerita tadi, tiba2 aja!
Emil : ... (mata tertutup dan mengerut)... Ukh.. HATSYIM!!

Ooh.. Dia bersin toh..

Gue : Kamu bersin ya...? --> udah tahu tetep aja nanya! Mental SD banget iniii !
Emil : Iya... Aku bersin... --> tetep dijawab sesuai dengan EyD! Hahaha, pas mantab!

EH !

Gue ngelihat ke depan... Ada temen yang ngobrol2... Gue perhatiin salah satu di antaranya... Pake seragam (ya iyalah!).. Tapi.. Di punggungnya itu... KOK ADA WARNA HIJAU2 KEKUNING2AN YA??

Gue : .... (holy shit! Ingusnya Emil mental ke tuh anak!)
Emil : ... Kamu kenapa, Di?? --> loh loh loh??
Gue : Enggak... Aku enggak kenapa kenapa kook...

General Law : Percaya sama gue, bahwa ada kesimpulan secara sosiologis yang menarik! Semakin rapi seseorang memakai sarung, maka semakin baik pula kemampuannya untuk meluncurkan serangan ingus (wtf??) ke orang lain! Suatu saat - sekedar tips di tengah kejamnya hidup di masyarakat --- PAKAILAH SARUNG YANG RAPI BUAT BISA NGELANCARIN SERANGAN INGUS! DIJAMIN, MALING, BEKAS NAPI GAK JELAS YANG BERKELIARAN DI METROMINI, PEMERKOSA DI ANGKOT, DAN KRIMINIL2 LAINNYA BAKALAN TAKUT SAMA KITA!

Senin, 11 Juni 2012

Kayak GTA! (2)

Nah, kali ini kita ke cerita baru ya, teman2 :D

sama seperti yang sebelumnya, gue ke kuliah antropologi pariwisata pada hari yang lain. Jadi, enggak di dalam satu kejadian yang sama ya. Kalo etnografer bilang - kayak bikin journal report atau diary.

Eh, maksudnya?

Ah sudahlah. Lagi males mikir nih gua!

Nah, langsung aja ke cerita.

Pak Dosen : Nah, saudara. Kali ini, saya mau nih ceritain tentang hotel2 yang baik dan yang enggak baik - khusus cuma buat saudara! Haha, soalnya menarik nih.
Gue : ....
Pak Dosen : Silahkan saudara cek hotel2 yang ada di sekitar kawasan *sensoor!* dan yang bernama *sensoor!*. Nah, hotel *sensoor!* ini punya hal2 yang enggak baik nih. Tahu enggak, hotel *sensoor!* ini profit rating-nya sebesar 300 % loh!
Gue dan seisi kelas : ... !!! (ya kagetlah! Aneh banget ada hotel kayak gitu! Laku mulu, maksudnya!)
Pak Dosen : Ya, mengetahui hal yang aneh itu... Saya langsung aja bertanya ke yang bersangkutan. Maksudnya, managernya gitu. Oke, langsung aja nih.

"Pak, ini dengan managernya?"

"Ya betul sekali. Saya manager hotel *sensoor!* ini. Ada apa ya, Pak? Mau menginap di sini?"

"Ooh, oh, enggak. Saya kali ini enggak berkeinginan buat menginap, sih.Tapi, yang saya dengar nih, hotel ini laku banget ya, katanya?"

"Haha, bisa aja bapak. Tapi sih, profit rating-nya mencapai 300% sih!"

"(kaget, jelas!) HA?? KOK BISA BEGITU YA PAK??"

"Iya, mohon bapak jangan panik dulu. Bisa saya jelaskan. Jadi, ceritanya gini nih Pak. Yang biasa datengin hotel ini sih, ciri-cirnya... Kebanyakan pasangan lawan jenis... Ada juga sih yang sesama jenis... Tapi banyakan tuh.. Laki-laki muda sama wanita tua.."

"Loh, bocah laki-laki usia lima tahun sama enci2 gitu Pak?"

"Ya enggak Pak! Maksud saya, pemuda2 gitu sama wanita bertampang.. Senior gitulah..."

".... (dalem hati Pak Dosen: Wah, nih manajer. Langsung aja kenapa: BRONDONG SAMA TANTE GIRANG ALIAS GILA RANJANG --> pendapat gue: Khusus buat 17 tahun ke atas! Kalo ada yang gak masuk ke kriteria, segera datang ke masjid dan bertaubat Kepada-Nya! Gue pribadi gak mau tahu! uhuy! *!?*)

"Nah, saya lanjutin ya Pak. Terus, mereka itu dateng terus menerus. Di sini, ya, biasanya mereka check in pada pukul 08.00 pagi hingga check out pada pukul 11.00"

"... Ya itu mah normal2 aja, Pak!"

"Sebentar Pak, saya belum selese ceritanya! Nah, terus mereka check in lagi loh pada pukul 12.00 !"

"... Wah, aneh banget nih, Pak..."

"Iya, Pak. Lanjutin deh, terus saya dengar dari karyawan2 saya: KOK BANYAK BANGET YA DARAH YANG BERCECERAN DI ATAS KASUR??" --> buat 17 tahun ke atas !!!!

"... !!!"

"Ada apa, Pak?"

"Tidak apa2, lanjutin ceritanya aja Pak, silahkan!"

"Iya, waloupn profit ratingnya gede banget. Tapi, saya menyesal. Secara pribadi, biaya produksi yang mesti dikeluarin itu paling banyak buat: KARYAWAN YANG NGECEK ADA DARAH APA ENGGAK, LAUNDRY BUAT NGEBERSIHIN DARAH, SAMA BENERIN BIAYA KASUR YANG RUSAK -- PER-NYA ITU LOH KOK JADI GAMPANG RUSAK! Wah, Ya Allah, salah apa ya saya -- ngurus hotel aja gak kompeten gini!"

"... Oh, terima kasih atas informasinya ya!"

Setelah mendengarkan excerpt lisan itu, kontan seisi kelas guling2 ngakak luar bi(n)asa!

Akhirnya, gue 'konsul' seperti biasa ke teman2 sejawat tanpa pake jerawat!

Gue : Tuh kan, Mar, Ndro. Bener2 kayak mainin GTA!
Indro dan Damar :  .... !! (cekikikan)
Gue : Bedanya, kalo gue itu, di Vice City Stories, rumah bordil yang gue jadiin mobile hotel (alias motel) dan hotel bintang 5! Hal itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan biologis (baca: sexual intercourse) para konsumennya. Kenapa motel? biar konsumen yang udah pada jalan2 banyak bisa melepaskan kelelahannya melalui wadah berupa 'kasur' dan 'pertarungan di atas kasur'. Kenapa hotel? biar konsumen puas sama fasilitas2nya!
Indro dan Damar : HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAH !!
Pak Dosen : Nah, itu dia, ada yang masih ngakak sama cerita yang tadi saya sebutkan. Coba deh, salah satu sebutin apa yang bisa dipelajarin secara antropologis!
Damar : (tunjuk tangan) Ya Pak! Saya yang ngejawab ya! Jadi, hotel itu sebenarnya dibutuhin buat rangka pemenuhan sexual intercourse. Gak cuma mengibur diri sendiri atau sekedar mencari tempat buat berdomisili sementara karena beberapa alasan seperti dinas, dst. Menurut saya, ini seharusnya ditanggapi secara positif! Menurut saya, ini bisa jadi baik, gitu, kayak yang tadi saya jelaskan.
Pak Dosen : Wah, kalau begitu Anda adalah seorang Durkheimian donk! (baca: penganut aliran Durkheim). Saya salut dengan pikiran Anda yang begitu fungsionalis!

Satu kelas guling2 ngakak gak karuan melenggang kangkung lebih dari apa adanya!

General Law: perkuat konsep mengenai kebutuhan biologis a la Parsudi Suparlan melalui satu permainan rakyat yang disebut Grand Theft Auto! GTA - mainannya antropolog banget! Hwa hwa hwa hwa!

Kayak GTA!

Oke temen2. Di sini, gue cuma mau share soal perkuliahan gue yang (ternyata) konyol juga! Nah, ada dua temen gue, Damar sama Indro. Damar ini suka banget ngelawak, jago banget gitulah. Eh, kalo si Indro - gak jago ngelawak. Tapi, JAGO KETAWA. Sedangkan diri gue, ibarat game - seimbang - ngelawak jago - ketawa juga jago *!? wtf!!

waktu itu, kita bertiga lagi ngikutin kuliah antropologi pariwisata. Ya, intinya, kuliah itu berusaha mengantarkan kita kepada bagaimana sih cara2 untuk memahami manusia lewat trip2 atau perjalanan yang bersifat jamak tetapi juga menyenangkan lahir batinnya dia.

Tapi,

yang ngajar waktu itu kocak. Si Pak Dosen - yang gak gue sebut namanya - corak pikirnya fungsional gitu. Maksudnya: cari hal yang positif - walaupun satu hal aja. Misalnya, pernah suatu kali beliau berkata kepada kami,

"Eh, saudara2. Tahu enggak, kalo di Eropa itu, pelacuran adalah hal yang biasa. Terutama pada masa2 industrialisasi. Ada sih yang membantah, namanya Emile Durkheim. Tetapi, setelah dia melihat kenyataan yang terjadi - ternyata pelacuran itu cuma dibuat untuk memuaskan hasrat seksual. Jadi, pekerja2 di pabrik saat itu bingung - kan udah pada punya istri semua tapi istri2nya lagi pada di rumah. Mereka si naker malah tinggal di asrama buruh. Maka, satu2nya cara untuk memuaskan 'itu' : ya nge seks lah di rumah bordil!"

satu kelas pada ketawa ketiwi.

"... Saya lanjutkan nih. Oke, intinya sih, Durkheim jadi berubah pikiran. Katanya - kalo itu (pelacuran) memang menjadi penyakit sosial (social malady). Tetapi, itu juga dibutuhin buat kebutuhan biologis manusia..."

"... Jadi, kebutuhan biologis manusia - atau sering disebut sebagai kebutuhan primer - gak cuma makan, minum, dan tidur juga ya. Seks juga. Dan, seks itu gak sama dengan cinta. Ya? Setuju?"

satu kelas pada guling2 gak karuan!

Gue sendiri dalam hati, berpikir hal tersebut - walopun ngaco banget:

"Wah, kayak GTA donk! Grand Theft Auto - maksudnya!"

Gue langsung aja 'konsul' ke Damar dan Indro:

Gue : Mar, Ndro, lo tahu GTA gak?
Indro : Gue tahu tapi enggak mainin. Nyimak aja selama ini.
Damar : Gue tahu kok. Gue mainin yang tokohnya CJ itu loh.
Gue : Oh, Carl Johnson. GTA San Andreas itu mah.
Damar : Yoi, betul! Wah, Ardi juga mainin nih, game2 begituan.
Indro : Wah, Ardi main?? Lo mainin yang mana aja?
Gue : Gue mah mainin bebas aja. Hmm.. Gue itu mainin GTA Vice City, San Andreas juga, Vice City Stories, sama satu lagi tuh yang tokohnya Tony Cipriani.
Indro dan Damar : .....
Gue : ...?
Damar : Ardi nih. Anak alim mainin juga game2 yang begituan
Gue : APAAN SIH !!!??
Indro : HUUKKHUUHU... AHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHAHAH !!!!
Gue : Hwa hwa hwa hwa !
Damar : Hehe.. Wah Ardi nih, ngetawain diri sendiri!
Gue : Ih, ge'er amat sih Mar! Gue ketawa gara2 ketawanya Indro kok!
Indro dan Damar : ....
Pak Dosen : Eh, yang di sana kok ngerumpi sendiri?
Gue, Indro, dan Damar : .....
Pak Dosen : Oke, kita lanjutin ya materinya.
Gue : Ya, Mar, Ndro, gue lanjutin. Kan gue ngedenger ceritanya Pak Dosen tadi. Kok, mirip GTA gitu.
Indro dan Damar : ... !! (cekikikan)
Gue : Nah, kayak ini nih. Gue mainin GTA Vice City Stories. Kan gue bikin rumah bordil gitu. Kenyataannya, intinya bisnis rumah bordil yang gue jalanin itu lakunya justru kalo gak di tempat2 sepi - kalo gak di tempat2 yang banyak pabrik2nya gitu.
Indro dan Damar : ... !! (cekikikan)
Gue : Lanjutin ya, belum selese nih ceritanya. Nah, seiring berjalannya waktu, pabrik2 makin banyak. Eh, kayaknya gue masih inget. Awalnya, bisnis gue 'cuma' laku sekitar $5000. Lah, sekarang2 ini - pas pabrik2nya makin banyak - gue dapet untung ampe sekitar $35.000 ! Gila, game ini ternyata 'ngena' banget ya secara antropologis!
Indro dan Damar : HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA !!!!
Tiba2!
Pak Dosen : Eh, saudara2 yang ada di situ, yang nyerocos melulu, kalo kuliah ini enggak menarik mendingan keluar aja deh. Saya enggak merasa dihargai nih!
Gue, Indro, dan Damar: .... Maaf, Pak!

General Law: makin sering main GTA, makin kuat pemahaman lo untuk ngelihat masyarakat baik secara sosiologis maupun secara antropologis! Trust me, it works! Hwa hwa hwa hwa!! XD

Senin, 28 November 2011

Pancasila Dream! (Kapan ya??)

Suatu hari pas kuliah, gue lagi berdiskusi di kelas bersama seorang teman yang (cukup) aneh alias lucu. Namanya Bayu. Dia orang yang cerdas, tapi lucunya terkadang ia sering mengeluarkan kata2 yang membuat orang2 terkocok perutnya lewat pendekatan ilmiahnya (hm?) , termasuk gue (hm?). Nah, langsung aja deh ceritanya kita mulai... (Tokoh : Dosen, Gue, Bayu)

Dosen : Ya, tolong diperhatikan pertanyaannya nih. Ya, apa yang menyebabkan bangsa heterogen seperti Indonesia lebih banyak mengalami stagnansi ketimbang bangsa2 yang homogen seperti Jepang?

Dosen : Kita juga perlu memerhatikan bahwa Jepang yang homogen juga maju, dari zaman Restorasi Meiji dia udah lepas landas loh (teori ekonomi-nya take off). Nah, kenapa tuh?

Bayu : Di, menurut loe apa..?

Gue : ..... (lagi mikir keras..)

Bayu : Di, menurut loe apa..?

Gue : ..... (lagi mikir keras..)

Bayu : Di, menurut loe apa..?

Gue : ..... (lagi mikir keras..)


** Gila gak bakalan berhenti ampe tahun depan nih kalo gue asal main copas copas mulu! **

(dialog tambahan: tokohnya gue sama Orang Imajiner)

Orang Imajiner : Pak Ardi, mohon jangan copas. Karena itu telah melanggar akademis!

Gue : Iya, plagiarisme kan?

Orang Imajiner : Ya kalo udah tahu gitu kenapa tetep dilakuin, Pak?

Gue : ....

** Sudahlah! **

Lanjut ke yang tadi ya??

Gue : BUSET DAH BERISIK LOE BAY!

Bayu : ....!!

Dosen : Mohon yang di sudut sana jangan berisik, paham maksud saya?

Gue dan Bayu : .....

Dosen : Lanjut, silahkan saudara sekalian berpikir sejenak dahulu lalu ajukan jawabannya ke saya apabila sudah ketemu...

Bayu : Di, loe nyadar gak, kalo Amerika kan heterogen juga, malah dia menganut multiras.

Bayu (lagi) : Kalo main itung2an, parahan Amerika malahan yang udah mainin multi ras, padahal Indonesia aja baru multi etnis

Gue : Bay, gue gak ngerti main itung2an, otak gue lemah di matematik.

Bayu : YEE BUKAN ITUU!

Dosen : Mohon tenang...!

Gue dan Bayu : ....

Gue : Haha, canda aja. Ya, gak bisa itung2an lah Bay. Indonesia sama Amerika sama aja parahnya kok, mereka kan juga sama2 pemangku pluralisme (berbeda2 tetapi saling mengkotak2an atau memisahkan diri).

Bayu : Nah, terus... Yang gue bingungin cara menyatukannya itu loh..

Gue : Iya. Pake jargonlah (baca: istilah iklan atau slogan yang dapat meyakinkan ke orang awam sekalipun). Misalnya, Indonesia bersatu karena Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda2 tepi tetap satu. Itu sebenernya merujuk kepada antitesis pluralisme, yaitu multikulturalisme.

Bayu : Oww... Nah, kalo Amerika itu...

Gue : Wah, Amerika gue gak tahu...

Bayu : Namanya kalo gak salah "The American Dream".

Gue : Ooh... Baru tahu gue..

Gue (lagi) : Dari namanya keren tuh!

Bayu : Ya namanya juga jargon, siapa sih yang berani ngomong kalo itu gak keren!?

Gue : Iya, artinya kita harus evaluasi diri nih. Bhinneka Tunggal Ika gagal menjadi jargon. Maaf2 aja, kalo itu berhasil, kenapa harus ada gerakan2 koleri di Papua, GAM, ketidaknyamanan Dayak Kalimantan, state dan ekspatriat yang selalu mementingkan self maupun vested interest, dan sebagainya....

Bayu : Yoi, Di.

Gue : Nah, kita harus niru Amerika nih!

Bayu : Apa tuh, kayak gimana tuh Di?

Gue : Mari kita bikin, THE PANCASILA DREAM!

Bayu : ????

Gue : Eeh, kok bingung sih?? Inget, di situ termaktub lima sila yang digunakan sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara. Semua orang Indonesia yang punya tumpah darah di Indonesia, baik dalam kandungan maupun menjelang ajal sekalipun, harus bisa menjalankan kelima sila tersebut!

Bayu : Iya, tapi kok konyol amat namanya itu plagiat The American Dream banget!

Gue : ....

Bayu : Gimana, Di?

Gue : Iya sih Bay. Gue bingung, pusing gue.

Bayu : Haha bung Ardi nyerah nih...

Bayu (lagi) : Btw, mau jawab gak, pertanyaannya?

Gue : *baru nyadar* Oh iya, ada pertanyaan ya?

Bayu : Apa sih pertanyaannya?

Gue : ....

Bayu : ... Di?

Gue : Lupa gue.

Bayu : YAAH!

Dosen : Tenang... Tenang...

Gue dan Bayu : .....

Dosen : Sekali lagi, mengapa bangsa heterogen seperti kita cukup sulit untuk melakukan suatu progress dalam pembangunan maupun peradaban dibandingkan dengan mereka semua yang homogen?

Bayu : Tuh, Di. Jawabannya apa?

Gue : Mana gue tahu!

Bayu : Lah, terus dari tadi kita omongin apaan?

Gue : Tau deh! To sum up, from The American Dream to Pancasila Dream dah!

Bayu : Yaelaah OOT (Out of Topic) bangeet!

GUBRAAK!

Opini gue

1. Iya, jujur, gue jawab The Pancasila Dream sebagai proyeksi kekeselan atas apa2 yang terjadi pada Indonesia. Iya, susah banget kalo mau nyatuin Indonesia, nyatuin kita semua yang heterogen ini. Gue sendiri orang Sunda Sumedang, gue punya Teman Minang Chaniago, Batak Hutabarat, Pesisir Cirebon, Wong Kota Palembang, dst dst dst... Tapi, apa sih social cohesion sejati buat kita? Apakah Indonesia hanya sebagai batas imajiner yang dibentuk dari penjajahan?

2. Buat ngejawab pertanyaan dosen yang gue post tadi sih, gue jadi pengen jawab. Kenapa baru jawab sekarang? Karena pikiran gue masih waras, pas di kelas tadi pikiran gue rada spaneng *lho kok ngaku* .

--> Bangsa heterogen, menurut Koentjaraningrat emang sulit untuk direkatkan karena memiliki orientasi budaya yang berbeda2 satu sama lain. Self Esteem dari Carok dan Taretan a la Madura, orientasi masa lalu yang indah a la priyayi Jawa, orientasi melting pot (dinamika kebudayaan yang di dalamnya terdapat pluralisme) di super kultur metropolitan seperti di Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang, Medan, dan sebagainya (mohon maaf!). Tentu aja, bingung mau nyatuinnya gimana. Pancasila dan substansinya, dari konsensus The Founding Fathers... Masih banyak diperdebatin soal asal mulanya... Begitu pula dengan Bhinneka Tunggal Ika

--> Bangsa heterogen di Amerika kok bisa menyatu? Gak cuma The American Dream. Menurut hemat gue, angka buta huruf dan kualitas pendidikan serta kesejahteraan sosial lainnya juga menjadi variabel yang turut berkontribusi dalam hal ini. Ya, gue cuma ngira2 aja, gak pake statistik dan GPL (gak pake lama *lho*). Tentu, kalo ditanya tinggian angka buta huruf mana, di Indonesia atau Amerika, ya tentu aja negara tercinta yang mesti kita jawab, walaupun sangat sakit hati dan mesti kita terima. Amerika, sangat menjunjung aspek kesejahteraan sosial seperti penekanan angka buta huruf, kualitas pendidikan, dan jaminan kesehatan. Di Indonesia? Iya, banyak orang2 yang gak mampu karena gak beruntung (mohon maaf!) sehingga jangankan buat pendidikan, cari sesuap nasi aja masih susahnya minta ampun! Sehingga, karena lapar, orang2 Indonesia bermental pragmatis (instan), kriminalitas meningkat, dan protes2 berbentuk gerakan sosial terjadi di mana2, eh ditanggepin dengan koersif dan dengan pasang tampang bernada bingung belaka!

--> Dan apabila pendapat gue dilakuin : samain dengan Amerika, artinya kita masih di bawah pengaruh dari negara2 dunia pertama. Kalo kata Immanuel Wallerstein dan Etzioni Halevy yang katanya lulusan dari Eropa, negara dunia ketiga yang mana merupakan bekas penjajahan dan masih dalam tahap perkembangan dari segi ekonominya (ya negara kita, sekali lagi, sakit hati!) harus bisa meniru apa2 yang telah dilakuin oleh negara dunia pertama yang merupakan negara bekas penjajah dan sudah dalam tahap konsumsi massa (the high mass of consumption.. Kalo gak salah, CMIIW). Kalo kita meniru ilmu mereka, artinya kita sama aja copas, seperti parodi imajiner yang tadi gue sajikan! Bahkan, peradaban sekalipun tetap bernuansa Eropa Sentris hingga sekarang. Bangga sekali bisa berbahasa inggris (termasuk gue, yoi, gue mesti evaluasi diri) tetapi ketika memakai bahasa nasional justru ada komentar implisit bahwa itu sama sekali gak keren, bangga ketika kita berhasil membaca habis karya ilmiah orang Asing asal Eropa dan Amerika, padahal mereka meneliti kebudayaan bangsa kita, aneh!

--> So, ini bukan merupakan kesimpulan yang bagus! Perlu dialektika! Siapa tahu yang komentarin di bawah ini jauh lebih bagus dalam berpendapat!

--> Kalo ada yang mau menanggapi, silahkan di komen! :D

Jumat, 25 November 2011

Pengantar Ilmu Perpeloncoan (Sebuah Fakta Sosial dari Sudut Pandang Konflik Disfungsional)

Assalamu'alaikum Wr. Wb!

Hai teman2 pembaca, apa kabar semuanya? Mudah2an kalian semua baik2 ya :)

Akhirnya, setelah sekian lama gue gak menulis lagi, gue diizinin Oleh-Nya untuk kembali menulis. Maklum aja, tugas kuliah yang cukup resek bikin gue pusing dan jadinya gak sempet juga buat ngutarain pendapat lewat piranti yang luar biasa ini : blog.

Dan gue bersyukur banget karena Ia memperbolehkan gue buat nulis2 lagi, ngutarain pendapat2 gue, baik yang lucu2, maupun yang kontroversial, seperti yang saat ini bakal gue tulis

Kontroversial?


Mengundang makna yang cenderung ambigu dan bahkan mudah untuk difalsifikasikan?


Mungkin.


Gue setuju banget dengan jawaban itu.


Tapi, gue juga manusia, izinkanlah gue berpendapat mengenai perpeloncoan dalam sudut pandang konflik disfungsional. Konflik disfungsional ini sendiri artinya perspektif ilmu sosial dan politik yang melihat kepada suatu fenomena dengan menjelaskan apa2 saja yang masih perlu dibenahi dan melihat pula apa saja latar belakang dari fenomena tersebut.

Kalau teman2 pusing melihat definisi di atas, gue gak bakal segan2 buat ngejelasinnya lebih singkat dan jelas. Mudah2an dapat dimengerti, kalo enggak ya udah, gue kira setiap orang berhak buat gak ngerti akan sesuatu. (catatan: kalo gak ngerti beneran atau mau sanggahan silahkan komen ya di bawah, gak ada salahnya kok)

Jadi, melihat sesuatu dari sisi2 yang jeleknya dan melihat apa sih sumber masalahnya??


Ada dua jenis sumber masalah, yaitu:

1. Malfungsional. Yaitu, ketika fungsi dari suatu hal mengalami penyalahgunaan. Misalnya, senior yang seharusnya memberikan teladan buat juniornya malah memeloncokan mereka. Pada konteks ini, kita dapat menjelaskannya mengenai perihal2 yang dianggap menjadi perusak status dan peranan senior tersebut. Kenapa penting? Kasihan, masa depan senior dan junior perlu dipertimbangin, gue pikir dan gue rasa. Karena, mereka adalah generasi penerus bangsa. Andaikan kita menninggal, gue meninggal, siapa yang dapat menggantikan kita, ya kecuali anak cucu?

2. Disfungsional. Yaitu, ketika fungsi dari suatu hal mengalami kepunahan. Misalnya, senior yang seharusnya memberikan teladan buat juniornya malah tidak melakukan suatu hal apapun terkait teladan2 tersebut. Nah, apa bedanya dengan butir yang pertama? Sebenarnya, gue mengklasifikasikan kedua hal ini gak secara baku (walaupun harapannya dapat dipisah secara dikotomis). Tetapi, silahkan dikritik melalui komen agar dapat dibangunkan proses dialektika ini. Bedanya, si senior ini dianggap tidak melakukan peranannya sebagai pemberi teladan


Jadi, bisa aja pada butir pertama, malfungsi adalah penyalahgunaan otoritas. Sedangkan disfungsi adalah tidak adanya atau tidak jelasnya kedudukan - baik status maupun peranan - dari ... Gue gak (cuma) bakalan nyebut senior... Siapapun yang mempermainkan fungsi tersebut, sekaligus mungkin juga GUE!!

....


Apa sih artinya fungsi tersebut, yang telah tadi gue sampaikan?


Menurut Durkheim, fungsi adalah tujuan. Sedangkan, menurut Radcliffe-Brown, fungsi adalah manfaat. Gue kira, kedua pendapat tersebut dapat dipakai dalam konteks ini.


Sedangkan, keseluruhan dari pemikiran gue, kalo gue boleh ngungkapin secara jujur, merupakan percabangan dari Karl Marx.

Banyak yang ngomong kalo dia adalah tokoh yang menyeramkan. Tidak percaya kepada Tuhan, baik agnotis maupun atheis. Tapi, di satu sisi dia sangat membela kaum buruh inti (proletar). Tapi, di satu sisi dia sangat mengecam kaum pemilik modal (borjuis).

Gue gak bisa ngucapin kalo mereka yang menganggap Marx adalah orang yang seperti itu adalah salah besar. Enggak. Lagian juga, ini udah masuk ke dalam ranah ilmu sosial. Yang mana ilmu tersebut mempunyai rumus satu tambah satu tidak sama dengan dua. Lalu, tidak mempunyai objek, karena manusia dianggap sebagai subjek. Iya loh. Antropologi menganggap manusia sebagai subjek. Sosiologi juga menganggap manusia adalah subjek, sedangkan yang menjadi objek adalah fakta sosial, sui generis, realitas sosial, masyarakat, dan sebagianya. Hukum? Napi sekalipun menjadi subjek, karena objek adalah truisme (UU, UUD, Norma, Custom, dst --> Ya, aturan maksudnya).


Latar belakang kenapa gue pake sudut pandang ini dalam menjelaskan perpeloncoan adalah... Karena, ya, cenderung subjektif. GUE BENCI DENGAN PERPELONCOAN.


Gak cuma gue.

Yakin.

Banyak teman2 pasti yang benci juga kan?

Dan masih inget dalam kepala gue..

Teman 1 : Di, senior gue melecehkan gue dalam strata sosial! Mentang2 dia punya hape bagus, dia jelek2in hape gue

--> Oke, bisa aja gue bales "tenang masbro, yang diejek kan hape elo, bukan DIRI ELO SENDIRI KAN YANG DIEJEK?" . Tapi, masuk akal gak sih? Masuk akal. Masuk perasaan gak? Enggak!!

Teman 2 : Gue gak suka berada dalam keadaan tertekan. Haha, padahal gue mantan anak berandalan, aneh...

--> Oke, bisa aja kan gue bales "Santai gan. Kan mantan anak geng nih, kalo ada yang berani menekan elo, elo bisa kan ajak ribut dia? Kalo perlu, bunuh aja! BUNUH.". Masuk akal gak? Masuk akal. Bisa dilakuin gak? Bisa. Konsekuensinya? Banyak, mendekati haram malahan! Kalo beneran dibunuh, bakal masuk jinayah (pidana Islam), hukum pidana, hukum adat, dan sebagainya, kan repot banget!

Teman 3 : Di, gawat! Gue disogok sama senior! Padahal, buat ongkos naik kereta aja udah pas2an... Gue pulang naik apa ya...??

--> Oke, bisa aja kan gue bales "Tenang aja, gue talangin buat sementara waktu ongkosnya". Sialan, masa cuma gara2 dipalak, gue mesti nalangin dia sih? Enggak, bukan maksudnya pengen nunjukkin ke elo2 semua bahwa gue berpola pikir 'forced tolerance', tetapi....... Gue kan juga gak bisa seenak jidat dimanfaatin seenaknya... Baik sama senior maupun sama teman... Ituloh, perpeloncoan yang menjamur dapat menyebabkan polemik2 yang bermakna ambigu!


Dan sebagainya... Nanti, selengkapnya gue bakal ceritain yang lainnya. Tentu aja, yang tadi itu cuma intermezzo aja. Jadi, buat pembaca sabar ya.

Kenapa subjektif?

Mirip dengan Marx, ia juga mempunyai keinginan meneliti alienasi pada kelas2 sosial karena ada kaum proletar yang mati karena kelaparan akibat kegiatan2 yang terlalu intensif. Bukan intensif lagi malahan, justru TIDAK MANUSIAWI.

Alienasi... Yaitu bagaimana objek material yang dibuat oleh kaum borjuis berkat jasa proletar dapat membodohi borjuis itu sendiri. Seakan2 benda hasil produksinya itu menyuruh dia untuk "Ayo donk, bikin gue lagi, lebih bagus lagi! Kalo udah bagus, PENTINGIN JUMLAHNYA, BIKIN LEBIH BANYAK. KAN ELO PUNYA ANAK2 BUAH (PROLETAR), YA MANFAATIN AJA MEREKA". Akibatnya, kegiatan produksi makin intensif dan semakin tidak manusiawi, dan tentu core of labor (proletar, kaum buruh) akan shock melakukannya.

Walaupun sudah memakai wawancara mendalam, hasil tetap akan subjektif karena masih belum mewakilan semuanya. Belum lagi, tidak semua hasil wawancara tersebut berlaku absolut benarnya. Inilah yang bikin Marx kerepotan.

Sedangkan, gue ngerasa bahwa nasib gue mirip dengan dia.

Ketika gue pengen banget nerjemahin kata perpeloncoan ke dalam alienasi, maka tentu saja hal ini terus dapat difalsifikasikan.

Gue pikir, alienasi yang dimaksud adalah... Mengapa junior mau aja dibodohin sama senior? Mengapa senior mau aja membodohi generasi penerus mereka? Dan kalaupun perpeloncoan berhenti, maka apa yang terjadi? Pasti ada pro kontra. Pro karena perpeloncoan bukanlah praktik yang baik dalam pendidikan, disangka tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang termaktub dalam UUD (misalnya). Sedang, kontra karena.... Masa angkatan mereka kena peloncoan sedangkan angkatan2 abis mereka kagak kena..? Perlu keadilan sosial ya?


Kedua, gue masih menganggap ini subjektif karena ini merupakan pengalaman gue dan teman2 gue yang tentu aja masih belum diteliti secara baik, dalam artian diklarifikasikan secara ilmiah. Ya, tentu aja, gue bener2 ngarepin banget kalo perpeloncoan itu gak ada.

Bahkan, Lady Gaga aja bikin gerakan sosial anti perpeloncoan. Gue bukan merupakan fansnya dia. Gue juga tidak kenal siapa dia sebenarnya (lho?), ya, tetapi gue salut sekali dengan keberanian dia.


Perpeloncoan menjadi fakta sosial, kenapa?


Menurut Durkheim, fakta sosial sendiri mempunyai ciri2 sebagai berikut, dan akan gue mix dengan perpeloncoan, yaitu:

1. Merupakan fenomena kolektif, bukan fenomena individual. Artinya, bukan cuma berpaut dengan seseorang belaka. Tapi, mesti ada minimal hubungan dua orang (dyadic relationship). Perpeloncoan merupakan sistem tindakan asosiatif yang melibatkan minimal dua orang dan merugikan salah satu pihak atau/dan pihak lainnya

2. Memaksa secara koersif, bahkan secara individual. Pada perpeloncoan, tentu kita dapat melihat bahwa junior mesti takluk saat menjalani ospek, seakan2 senior adalah Tuhan mereka. Junior harus membawa bekal berjargon aneh seperti belimbing bintang enam, snack nyenders, susu Kikan, kue puncak, dan sebagainya yang cukup bikin gue muak dan sakit kepala!

3. Ditransmisikan dan dishared. Ditransmisikan ialah diwariskan turun temurun, alias antar generasi. Sedangkan dishared atau dibagi2kan ialah disebarluaskan secara intragenerasi atau dalam generasi yang sama. Tentu aja, perpeloncoan udah ada dari dulu, dari jaman penjajahan juga udah ada.

4. Mempunyai fungsi. Ya, mempunyai tujuan (end). Macem2 sih fungsi yang ada pada perpeloncoan. Misalnya, social cohesion atau alat perekat sosial antar generasi. Tapi, ada banyak sisi negatifnya. Misalnya, mempengaruhi secara afektif, yaitu persepsi yang salah mengenai orang2 yang dianggap sebagai penguasa perpeloncoan, dan sebagainya.

Cukup sekian dulu, pengantar dari gue. Nanti, bakal gue kisahin lagi, apa aja sih yang masih aja nyangkut di kepala mengenai perpeloncoan itu.