Ayo Berjuang

Ayo Berjuang
Pantang Mundur

Sabtu, 09 Februari 2013

Uneg2 Gue: Ardi sebagai Om? TV dan Meja Baru...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Apa kabar hai pembaca? Jumpa lagi dengan Ardi, mudah2an kalian semua baik2 saja :D

Gue kali ini mua cerita beberapa hal mengenai liburan semester 5. Liburan yang paling membahagiakan lahir batin gue. Karena, liburan tahun lalu itu - kalo boleh gue jujur - namanya bukan liburan - melainkan penyiksaan. Tapi untung aja itu udah berlalu.

Terus, gue udah melihat hal yang baru di kamar gue: TV baru dan meja baru. Gue pikir ini adalah hal yang amat menyenangkan...

Gue sendiri meminta (dengan terpaksa) kepada nyokap untuk dihadiahi dua hal tersebut atas ganjaran nilai bagus di semester 5 dan ultah gue yang ke-21 tahun nanti karena sebuah hal yang... Menurut gue dan mungkin pembaca sendiri... Cukup konyol...

Gue minta itu agar gue bisa main game dengan leluasa...

Kok begitu?

Ada si kecil.. Alias keponakan gue yang tinggal di rumah gue - tepatnya di nyokap gue.

Mengapa si kecil tersebut gak punya rumah sendiri - alias ikut sama kedua ortu alias kakak kandung dan kakak ipar gue? Itu dia: kedua ortunya sendiri belum berpikiran untuk punya rumah sendiri. Ditawarin rumah baru, malah ngerut mukanya! Apaan sih!?

Jujur, gue senang dengan kehadiran si kecil. Tetapi, di samping itu gue juga berhak untuk mengkhawatirkan beberapa hal:

1. Apakah gue sebagai paman alias om-nya si kecil mampu memberikan suri tauladan ke si kecil tersebut? Gue sangat khawatir. Emang sih, main sama anak kecil itu sama serunya kayak main game. Bedanya, kalo game itu memfasilitasi pemainnya. Tapi, ANAK KECIL ITU DIFASILITASI PEMAINNYA. Dan, ANAK KECIL ITU - GUE PIKIR DAN GUE RASA - MEMERLUKAN ALIAS KEHAUSAN CONTOH YANG BAIK DARI TEMAN MAINNYA ALIAS SIGNIFICANT OTHERS-NYA.
**apakah gue siap menjadi teman mainnya si kecil? Jujur, enggak begitu**

2. Makanya, gue selalu main di setiap malam. Biar si kecil gak melihat gue lagi main itu - kan si kecil lagi tidur terlelap. Kok begitu? Gue sadar, kalo game2 yang gue miliki adalah game2 yang berisi konten dewasa. Konten dewasa itu terdiri dari tiga hal, yaitu pornografi, grafik sadis (darah, luka, dan sebagainya), serta pemikiran yang rumit. Gue kasihan aja kalo si kecil itu melihat hal yang enggak2 dari si om-nya ini.
**apakah dengan ini gue mesti berhenti ngelakuin hobi tersebut? Jangan ampe. Gue memperhatikan orang lain, tapi gue sendiri gak memperhatikan diri sendiri. Bukan apa2. Orang yang gue perhatiin itu toh belum tentu mau nyelamatin diri gue ketika gue dalam bahaya (baca: dari pengalaman pribadi). Makanya, gue perlu TV dan meja baru**

3. Oh iya, si kecil itu baru berumuran 23 bulan. Yoi, bentar lagi dia akan masuk ke dua tahun. Yang jadi masalah, apakah gue ini mampu untuk menjelaskan bahwa konten2 dewasa tersebut cumalah sekadar hobi gue? Mungkin hati kecilnya penasaran kalo mengapa konten2 dewasa itu bisa jadi hobi. Gue sendiri sih emang menganggap konten2 dewasa itu menyenangkan, karena memperngaruhi kematangan berpikir gue. Dari hobi bisa menjadi pelajaran - pelajaran di luar kurikulum - beyond the essence of fuckin' Indonesian education system!
**Gue pikir dan rasa, penjelasan gue bakalan terlalu rumit buat si kecil. Kasihan kan kalo si kecil pusing abis dengerin berbagai macam penjelasan kompleks gue? Dia belum cukup teori, belum cukup konsep, belum cukup pemahaman, dan belum cukup kosa kata buat mengerti penjelasan yang bakalan gue lontarin ke dia. Gue kasihan, ke diri sendiri, dan juga, ke si kecil. Oke, mendingan gue hindarin dia dari konten2 dewasa tersebut. Jangan ampe si keicl melihat om-nya ini bermain game!**

Jadi, apakah TV dan meja baru tersebut benar2 menyelesaikan masalah? Hmm...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar