tataran memahami teks dalam konteks --> etik. Rawa
mendiktekan kesenian di Asmat (malaria) --> interpretasi. lokal belum tentu
mikir kayak gitu
buruh panggul/angkut/gerobak --> andalkan ongkol/fisik
--> di Cikokol Jatinegara --> malam ada di kolong jembatan --> joget2
Jaipong dan ronggeng --> joget itu bukan tarian, karena? gak ada pesan kecuali
fungsi relaksasi. --> gak pake mata/hati, tapi pake badan --> pura2nya
menari --> sama kayak karaoke, cuma instan ternikmati
waktu luang makin dikit, keseniannya makin miskin
makna/interpretasi --> instan. cepat terhibur
cokek di Tangerang --> dari Karawang --> dangdut
--> suaranya jelek --> cuma joget. bergoyang. berdekatan -->
sebenarnya gak menarik karena minim pesan kecuali relaksasi
tugas
1. baca bab I, salah satu artikel, dan penutup “Ketika Orang
Jawa Nyeni”. kemudian bikin esai tentang ini dan kaitkan dengan TANDHAK LUDRUK
2. bikin LTM ttg buku telaah, perkelompok tapi individual.
just like MPKT
Junus Melalatoa “Pesan Budaya dalam Kesenian”
kuliah keenam --> belajar fungsi seni
TANDHAK LUDRUK
Ludruk: masy urban. pinggiran kota besar di Jawa Timur.
Malang (masih memelihara) sejak zaman kolonial. meski animo masy ths ludruk
kian menurun. ada komunitas. masalah, ada orang kota, orang desa, dan gaya
hidup urban. minta waktu diundur dari delapan jam jadi tiga jam karena capek
abis kerja. --> gak ada TV --> orba: listrik masuk desa, bikin anomali
masy menurun
tandhak --> penari laki yang berubah jadi perempian.
didandani. kerap penontoon jadi jatuh cinta (homoseks). istilah lokal ‘jatuh
cinta’. dianggap melanggar norma/hukum agama. tapi mereka itu
menghibur/menggairahkan. menurut budayawan Ludruk DR. Henricus Supriyanto, M.
Hum.
aktivitas sehari2: normal. interaksi dengan masy
padahal ada keganjilan: hidup bersama ampe 26 tahun
Totok Soepraptoe – Mama Samsu (dua2nya seniman ludruk)
--> jenis kelamin gak penting, yang penting cinta
Pak Kadam --> penari dari jaman Orla, ditonton Soekarno
di istana! --> tapi normal, heteroseks --> istri Bu Samiah. punya anak!
biasa diledek2 bocah dan rohaniwan
Mama Candra --> jadi ‘istri’. hidup sama ‘suami’ dan ‘istri
dari suami yang normal (nih orang jadi sodaranya Mama Candra)’. suami: Marsam
Hidayat. ‘istri kedua’: Sri Haryati, dia merasa gak punya siapa2, tugasnya ‘cuma’
reproduksi.
tiga lingkaran --> pemerintah (pelindung), seniman
(pencipta), dan masyarakat (penikmat dan penyemarak)
ludruk eksis karena seniman eksis. gak perlu meminggirkan
mereka. karena mereka pelestari utama. walaupun berasal dari masy, dan bermuara
dari masy
Carl Gustav Jung --> teori transversi --> maskulin dan
feminim kadarnya cukup 80% --> persoalan: yang fifty-fifty apa kabar? bisa
jadi waria, dst.
Anne Fausto Sterling --> 3 jenis kelamin. yang satu lagi
setengah2/herms karena teori tadi. karena ini, AD bikin pernikahan homoseks
legal.
pahami! ada yang difabel, gak normal. diiyakan. hangan
dipaksain dia makan singkong, padahal dia biasa makan beras.
kayak setir --> roda bergerak gara2 setirnya bergerak
--> ada penyebab dan fungsi
fungsi --> pasti orang2 ‘gak normal’ itu punya sebab dan
fungsinya!
fungsi gak hanya berarti manfaat, tapi juga punya
tujuan/goal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar