Rapid Ethnography/RRA = etnografi singkat
RAP = Rapid Appraisal Procedures
seiring waktu, rapid berubah menjadi participatory/action
research
dunia riset
riset akademik
menjelaskan suatu fenomena untuk disarikan menjadi suatu
teori
mengisi kekosingan teori pada suatu fenomena
memenuhi rasa ingin tahu
menyediakan dasar bagi pengembangan ilmu
rumusan masalah: akademik (senjangan gap teori)
bukan yang berhubungan dengan praktis/empirik (amati
sehari2. opini pribadi plus profit oriented)
kemacetan di kota depok --> awalnya bisa praktis. bisa
15-20 literatur, ambil buat teori -->
cari kesimpulan. itu jadi teori, kalo ada 2-3 teori yang tepat, JANGAN
DILANJUTIN PENELITIANNYA. kalo gak, baru
kaitkan dengan empirik/turlap
Gusdur --> peneliti sekarang banyak yang jadi tukang
riset praktis
menyelesaikan suatu maslaah sosial
mengidentifikasi komunitas untuk persiapan proyek pembangunan
need
assessment
impact assessment
amdal
evaluasi proyek pembangunan
hambatan
success
stories, lesson learnt
riset: akademik (etnografi) vs riset praktis
dualisme jenis riset
Prof Somantri --> nobel research dan practice research
science/academic pragmatic
<------------------------------------------------------->------------------------------------------------------->
abstrack real
rapid appraisal procedures
prosedur untuk mengaji masalah komunitas secara cepat
studi pembangunan di pedesaan (RRA)
studi pembangunan kesehatan
antropologi = long and dirty
antropologi: etnografi
memiliki semua informasi untuk riset praktis
tahapan
etnografi lama dan panjang
mengandung
encyclopedic details
bekerja di small scale society, kasus
banyak konteks, banyak pengetahuan, banyak pertimbangan =
analisis tidak tajam, tidak berani menjamin
kebutuhan proyek
suplai data yang cepat dan tepat (jangan bicara pada
umumnya)
asumsi
penyelesaian masalah tidak bisa menunggu
ada preseden proyek sehingga bisa replikasi
generalisasi satu kasus sebagai dasar implementasi
konsultan pembangunan: quick and dirty
policy makers cenderung mencari konsultan yang ahli sehingga
bisa cepat suplai data dan murah
imbasnya:
rely on instant consultant, yang berpengetahuan spesifik dan
terkait bias budaya tertentu
ke lapangan sebentar dan menganalisis dengan pengalaman di
masa lalu
tawaran RAP
konteks negara berkembang
banyak proyek
masalah utama teridentifikasi
health, HIV/AIDS, kematian anak/bayi tinggi
agric: kekeringan, erosi tanah, dll
tim terdiri dari 4-6 orang. jangan antrop semua
selain isu teknis juga ada dimensi manusia
antropologi berpotensi untuk terlibat
cepat tapi menyeluruh
tim RRA harus bekerja cepat (1-2 minggu) dan terdiri atas
ahli multidisiplin
tetapi tidak boleh terburu-buru
accuracy:
straight to the problem
utility:
useful findings
feasibility:
only when the project’s cheap
propriety:
ethics and fairness
kritik thd RAP
ide perencanaan dan implementasi top down
chauvinitas ilmu tertentu dalam tim multidisiplin:
ilmu2
teknikal
pendekatan
ekonomik
peran policy makers dan peneliti > komuniti
lack of
participatory
participatory action research
asumsi
kebijakan,
perencanaan, dan proses pembangunan mesti demokrasi
partisipasi
menjadi kata kunci
berbasis
local knowledge < practices
masalahnya, tidak semua organisasi sosial dan komuniti punya
kapabilitas untuk melakukannya dan tereksklusi dari perencanaan
bottom up planning
peneliti menjadi fasilitator untuk plannning
... it is a process that goes beyond research agenda (Ervin
2000: 200)
proses fasilitasi sering berlarut2 dan tidak selesai tepat
waktu bahkan tidak selesai: proses lebih penting daripada hasil riset
renungan: apakah apabila kalian pake RRA/PRA, maka kalian
tetap bernama peneliti
Paulo Freire --> masy jauh lebih tahu daripada kita.
sekalipun sedang terkena bencana. mereka bukan orang bodoh. berikan
kepercayaan, bukan teknikal
tantangan untuk PAR
PAR menuntut transformasi peneliti menjadi fasilitator.
bukan hal yang mudah:
kesabaran ekstra ( a la Cak Lontong)
kemungkinan penolakan
penggunaan FGD sering kontradiktif: elite, driven by
facilitator, mempermalukan peserta
membuat FGD terjadi proses membuka wawasan
PAR menjadi jembatan bagi transformasi
peneliti --> fasilitator
penelitian --> pencerahan
inquiry --> advocacy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar