Ayo Berjuang

Ayo Berjuang
Pantang Mundur

Selasa, 23 April 2013

Anter Selasa 23 April 2013



Rapid Ethnography/RRA = etnografi singkat
RAP = Rapid Appraisal Procedures
seiring waktu, rapid berubah menjadi participatory/action research
dunia riset
riset akademik
menjelaskan suatu fenomena untuk disarikan menjadi suatu teori
mengisi kekosingan teori pada suatu fenomena
memenuhi rasa ingin tahu
menyediakan dasar bagi pengembangan ilmu
rumusan masalah: akademik (senjangan gap teori)
bukan yang berhubungan dengan praktis/empirik (amati sehari2. opini pribadi plus profit oriented)
kemacetan di kota depok --> awalnya bisa praktis. bisa 15-20 literatur, ambil buat teori  --> cari kesimpulan. itu jadi teori, kalo ada 2-3 teori yang tepat, JANGAN DILANJUTIN PENELITIANNYA. kalo  gak, baru kaitkan dengan empirik/turlap
Gusdur --> peneliti sekarang banyak yang jadi tukang
riset praktis
menyelesaikan suatu maslaah sosial
mengidentifikasi komunitas untuk persiapan proyek pembangunan
                need assessment
impact assessment
                amdal
evaluasi proyek pembangunan
                hambatan
                success stories, lesson learnt
riset: akademik (etnografi) vs riset praktis
dualisme jenis riset
Prof Somantri --> nobel research dan practice research
science/academic                            pragmatic
<------------------------------------------------------->
abstrack                                               real
rapid appraisal procedures
prosedur untuk mengaji masalah komunitas secara cepat
studi pembangunan di pedesaan (RRA)
studi pembangunan kesehatan
antropologi = long and dirty
antropologi: etnografi
memiliki semua informasi untuk riset praktis
                tahapan etnografi lama dan panjang
                mengandung encyclopedic details
bekerja di small scale society, kasus
banyak konteks, banyak pengetahuan, banyak pertimbangan = analisis tidak tajam, tidak berani menjamin
kebutuhan proyek
suplai data yang cepat dan tepat (jangan bicara pada umumnya)
asumsi
penyelesaian masalah tidak bisa menunggu
ada preseden proyek sehingga bisa replikasi
generalisasi satu kasus sebagai dasar implementasi
konsultan pembangunan: quick and dirty
policy makers cenderung mencari konsultan yang ahli sehingga bisa cepat suplai data dan murah
imbasnya:
rely on instant consultant, yang berpengetahuan spesifik dan terkait bias budaya tertentu
ke lapangan sebentar dan menganalisis dengan pengalaman di masa lalu
tawaran RAP
konteks negara berkembang
banyak proyek
masalah utama teridentifikasi
health, HIV/AIDS, kematian anak/bayi tinggi
agric: kekeringan, erosi tanah, dll
tim terdiri dari 4-6 orang. jangan antrop semua
selain isu teknis juga ada dimensi manusia
antropologi berpotensi untuk terlibat
cepat tapi menyeluruh
tim RRA harus bekerja cepat (1-2 minggu) dan terdiri atas ahli multidisiplin
tetapi tidak boleh terburu-buru
                accuracy: straight to the problem
                utility: useful findings
                feasibility: only when the project’s cheap
                propriety: ethics and fairness
kritik thd RAP
ide perencanaan dan implementasi top down
chauvinitas ilmu tertentu dalam tim multidisiplin:
                ilmu2 teknikal
                pendekatan ekonomik
peran policy makers dan peneliti > komuniti
                lack of participatory
participatory action research
asumsi
                kebijakan, perencanaan, dan proses pembangunan mesti demokrasi
                partisipasi menjadi kata kunci
                berbasis local knowledge < practices
masalahnya, tidak semua organisasi sosial dan komuniti punya kapabilitas untuk melakukannya dan tereksklusi dari perencanaan
bottom up planning
peneliti menjadi fasilitator untuk plannning
... it is a process that goes beyond research agenda (Ervin 2000: 200)
proses fasilitasi sering berlarut2 dan tidak selesai tepat waktu bahkan tidak selesai: proses lebih penting daripada hasil riset
renungan: apakah apabila kalian pake RRA/PRA, maka kalian tetap bernama peneliti
Paulo Freire --> masy jauh lebih tahu daripada kita. sekalipun sedang terkena bencana. mereka bukan orang bodoh. berikan kepercayaan, bukan teknikal
tantangan untuk PAR
PAR menuntut transformasi peneliti menjadi fasilitator. bukan hal yang mudah:
kesabaran ekstra ( a la Cak Lontong)
kemungkinan penolakan
penggunaan FGD sering kontradiktif: elite, driven by facilitator, mempermalukan peserta
membuat FGD terjadi proses membuka wawasan
PAR menjadi jembatan bagi transformasi
peneliti --> fasilitator
penelitian --> pencerahan
inquiry --> advocacy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar