pendahuluan
artikel ini ditulos oleh moh yasir alimi yg mengulas
mengenai tulisan judith butler soal konsepsi dan seks sebagai pertunjukkan
terdapat konsep manusia, yaitu: laki dan perempuan
kerangka genseks menghasilkan cara bersikap
genseks sebagai kerangka inteligibilitas
timbul masalah kemanusiaan --> genital mendiktekan sikap
judith butler: sastrawan feminisme – filsafat modern
prediskursif --> esensialisme
feminisme juga cenderung esensial! cewe selalu jadi budak.
mesti ada jenis kelamin. atribut paling penting
herculine barbin --> gender = subjektif = freedom =
senyaman2nya
materialisasi = abstrak jadi konkret
pertanyaan
Giska: negara kalo koersif dalam hal gimana? indonesia
katakan ada gender lebih dari dua gitu?
Irin: spontanitas itu apa?
sulit karena ada kungkungan norma yang intoleransif. negara
lain: toleransi sosial budaya. cth Thailand ada 3 wc
Dwi: kemanusiaan? bagaimana kita menghormati gender orang
lain. kalo gak milih, ya gak bisa hidup
Dey: kalo bencong/waria cuma gara2 pekerjaan.
performativity, dia bisa bertambah asal terpola. apa yang ia keluarkan secara
temporer gak sama dengan esensi genseksnya!
Ardi
Devita
doing gender --> gender act --> ditampilkan dan
berulang2
bagi butler, biological itu gak penting. dia gak bayangin
genseks di luar diskursus = konstruksi sosial
kontekstual = di mana kita berada kita gak bisa eksis di
luar syarat2 gender yang berlaku di masy
Albania --> sworn virgin --> warisnya patriarkis. kalo
gak punya anak cowo, salah satu anak cewe mesti jadi cowo
Thailand --> transgender murah + berkualitas
Indonesia --> RS Karyadi Semarang --> transgender
terbaik
India --> hijra --> operasi kelamin, tapi kebiri, gak
ditambahin vagina. di luar kasta, dianggap punya kekuatan ghaib. ada yang
nikah, konsul ke situ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar