Ayo Berjuang

Ayo Berjuang
Pantang Mundur

Sabtu, 17 Januari 2015

Kisah Gue Ngerjain Skripsi: Pengantar Dulu, Deh!

Assalamualaikum Wr. Wb, hai pembaca!

Haah! Udah lama enggak bertemu di postingan selanjutnya! Mohon maaf banget, gue baru bisa menulis. Karena, ya tahulah. Gue butuh waktu buat fokus ngerjain skripsi. Dan, kerjaan ini sifatnya sama sekali enggak main-main, lho. Terbukti, karena kerjaan ini merupakan salah satu syarat kelulusan bagi gue, makanya... Kerjaan ini bisa dikatakan sebagai taruhan terbesar buat hidup gue. Iya, terutama sih buat masa depan gue, lho.

Iya. Skripsi. Sebuah pekerjaan yang punya rasa suka maupun duka. Gue enggak tahu sih bagi orang lain yang ngerjain pekerjaaan itu. Tapi, bagi gue sih rasanya kayak begitu. Rasa duka di skripsi itu banyak. Saat lagi bete, saat lagi galau, saat lagi keganggu, itu sih rasa dukanya. Kalau rasa suka, ya tentu gue bersyukur karena gue masih dikasih kesempatan Oleh-Nya untuk bisa menuangkan karya penelitian, selain praskripsi. Keberhasilan gue mengerjakan skripsi bisa juga dikatakan sebagai satu langkah kecil menuju langkah-langkah besar lainnya. Ada juga rasa suka lainnya, yaitu bisa memberikan kontribusi kecil-kecilan bagi orang-orang yang membutuhkan hasil penelitian gue.

Nah, soal suka duka gue sama skripsi ini bakalan gue bagi menjadi tiga cerita besar. Cerita pertama menyangkut awal pengerjaan skripsi. Jujur aja, di awal ini gue begitu menderita. Sangat tidak lancar. Pahitnya begitu mendalam, menyakiti lahir batin gue. Proses yang begitu menyedihkan, kalau dirasain terus-terusan. Jadi, gue bakalan nyerocosin soal gimana pahitnya Statement of Intent gue diganti, gimana pahitnya soal Bab 1 yang enggak pernah selesai selama empat bulan berturut-turut, gimana pahitnya review buku sebelum menyelesaikan Bab 1, gimana pahitnya gue mencari subjek yang tepat, gimana pahitnya gue meminta izin kepada lokasi penelitian skripsi, dan berbagai kepahitan di awal-awal pengerjaan skripsi gue lainnya.

Walaupun begitu sih, ada juga rasa suka yang gue alami selama gue mengerjakan awal-awal proses skripsi tersebut. Misalnya, gue dapet banyak dukungan dari berbagai subjek di lokasi penelitian. Gue juga dapet banyak dukungan dari dosen pembimbing juga, lho. Gue juga selalu berpikir dan merasa kalau awal-awal ini - yang mana ini merupakan hal yang krusial - adalah masa yang brilian. Masa brilian, ketika gue bisa menumpangkan pemikiran gue mengenai modernitas di dalam pengerjaan skripsi. Iya, awalnya soalnya gue mikir kalau hal ini terlitah begitu impossible, gitu. Eh, kenyataannya bisa, kok. Bukan masalah, asalkan gue tetap memegang teguh niat dan terus berusaha.

Cerita kedua menyangkut tengah-tengah perjalanan di skripsi ini. Kalau boleh gue patokin sih, tepatnya setelah Bab 1 dan Ragangan/Outline Skripsi gue berhasil diterima oleh dosen pembimbing gue yang baik hati itu. Artinya, cerita kedua ini menceritakan suka duka gue ketika sedang menulis materi skripsi. Materinya itu, tentu berkutat dari Bab 2 hingga bab terakhir. Jujur, ini merupakan masa yang paling gue nikmati. Menyenangkan sekali ketika gue tahu kalau gue sudah terbiasa dengan kerjaan tersebut.

Kenapa cerita kedua merupakan cerita yang paling gue suka? Karena, di dalam cerita ini gue begitu menikmati pengerjaan skripsi. Gue boleh, dan berhak menikmati perjuangan gue buat menulis skripsi.

Terakhir nih, cerita ketiga yang menyangkut akhir pengerjaan skripsi. Patokannya itu ya, gimana gue mengurus skripsi buat disidangin. Jujur, di cerita ini gue bakalan dapet banyak banget masalah administratif. Sebuah urusan yang sama sekali enggak gue suka. Di sini, gue bakalan ceritain gimana pahitnya kalau waktu sidang diundur karena dosen pembimbing perlu ikut operasi jantung terlebih dahulu. Di saat yang bersamaan, gue juga dapet masalah keluarga yang juga kerap ngerepotin pengerjaan skripsi. Jujur, skripsi gue sih sebenernya enggak ada sangkut pautnya sama keluarga. Tapi, yang jadi masalah: konsentrasi gue di dalam penyelesaian skripsi itu sih yang sering keganggu akibat masalah keluarga. Yea, at that point I'm so fucked up.

Cerita terakhir ini merupakan cerita yang begitu mengharukan lahir dan batin gue. Di dalam cerita ini, gue sering banget berkata ke dalam diri sendiri, "Akhirnya... Selesai juga! Akhirnya, selesai! Kirain nih skripsi enggak kelar-kelar! Alhamdulillah!". Sekali lagi, gue yakin banget sih kalau yang pernah ngerjain skripsi pasti pernah berpikiran seperti itu ketika ia baru saja menyelesaikan skripsinya. Kalaupun enggak, ya itu artinya terbukti kalau bagi dirinya skripsi bukanlah merupakan pekerjaan yang penting.

Jadi... Gue bakalan menceritakan ketiga fase tersebut.

Sudah siap buat membaca? :D

Jumat, 19 September 2014

Senang-senang: Kamu Datang Lama Sekali, Tetapi Pergi Cepat Sekali (3)

Alhamdulillah. Hadi ini adalah hari yang dijanjikan.

Rencananya, hari ini gue, Ray, sama Zem mau berbuka bareng di Warung Steak. Mereka rencananya datang ke rumah gue pada pukul 16.00 WIB. Zem lalu datang tepat waktu. Gue langsung mengajar dia ngobrol.

Zem: Hoy, Di. Mana sih, Ray? Coba lo SMS, Di. Gue juga tanyain dia ah lewat Line.

Gue: Iya tuh. Gue udah SMS sih, tapi enggak dibales2 tuh.

Zem: Yaudahlah, kita tunggu aja.

Gue: Oke. Gimana? Udah kapok belum sama Lamborghini Diablo GT-nya?

Zem: Kapok gua! Susah juga ya nyetir super car! Nah, kalo lo, Di? Udah kapok belum sama Opel Blazer gue?

Gue: ... It was... A quite challenge.

Zem: Pake sok Bahasa Inggris lagi! XD Bilang aja susah juga XD

Gue: (ketawa ampe nangis)

Zem: Di, lo masih inget Widi, kan?

Gue: Iya. Temen SD kita dulu. Suka banget nyanyiin Sheila on Seven kalau abis olahraga.

Zem: Iya. Yang kulitnya item sama bentuk kepalanya kayak Ikan Lohan.

Gue: (ketawa ampe nangis)

Zem: (ketawa kecil) Yaelah, Di. Ketawanya lebay amat. Iya, dia sering diledek 'Kayak ikan lohan, lo!' gara2 itu (ketawa kebahak2).

Gue: Haduuh. Oh iya, ngomong2... Nengok ke arah jendela kamar, deh. Kok ada asap, ya?

Zem: Tetangga lagi bakar sampah, kali.

Gue: Oke, lanjutin ngobrolnya yuk. Cuek aja sama perkara asap.

Kami berdua terus mengobrol tentang kenangan SD. Tetapi, asap makin tebal. Gue makin heran sama kejadian ini.

"Apanya sih yang gosong? Sertir2an gue? PS3 gue? Atau apaan?", tanya gue dengan rasa khawatir. Zem menjawab, "Barang elektronik yang lagi dimatiin sih enggak bakalan menyebabkan kegosongan. Dia baru gosong kalau dinyalain aja. Setahu gue sih gitu. Tapi, enggak kenapa2 ah.".

"Zem, gue ke luar bentar ya. Gue pengen cari sumber apinya ada di mana,".

Gue pergi ke luar. Eh, ternyata Ray baru saja datang ke rumah!

Ray: Helo, Di!

Gue: Asyik! Yuk, masuk dulu.

Ray: Oke.

Gue: Eh, sorry. Ngomong2, lo lihat ada tetangga gue yang lagi ngebakar sampah, enggak?

Ray: Hah? Enggak, tuh.

Gue: Oke, lupain.

Kami berdua masuk ke rumah. Asap makin mengepul seisi rumah. Kami berdua tentu saja bingung. Muka gue makin megerut sejadi2nya. Setelah menengok sekilas ke arah dapur, ternyata!

Gue: Eh, dari arah dapur gue! (ngibrit ke arah dapur)

Ray: Hah? (ikutan lari ke arah dapur)

Ternyata... Di dapur ada gorengan pete yang lupa dimatiin api kompornya. Kayaknya pembokat gue lupa matiin apinya. OMFG thanks a lot, You save my ass today, and I'm so fucking done, Ya Allah! Astaghfirullah!  -,-"

Gue: (matiin kompor)... (menghela napas dalam2).

Ray: Bodoh sekali! Untung enggak kenapa2! -,-"

Gue: Iya, Alhamdulillah kita enggak kenapa2.

Kami berdua lalu ke kamar gue. Sesampainya di kamar, gue langsung berkata ke Zem, "Zem! Asapnya bersumber dari kompor! Pembokat gue lupa matiin kompornya pas goreng pete!". Zem menjawab, "Ya ampun! Wah, berarti nih asapnya ada aroma petenya, dong?".

Kami bertiga diam seribu bahasa mendengar komentar absurd-nya si Zem yang terakhir ini.

Gue: Udahlah. Yang penting kita enggak kenapa2.

Tiba2, di saat yang bersamaan ada seseorang yang masuk ke rumah dengan gaya yang merusuh. Brak bruk brak bruk - itulah bunyinya. Lalu orang itu menyahut, "Om! Om yang matiin kompornya ya? Maaf, saya lupa matiin kompornya!".
Orang itu tidak lain dan tidak bukan ialah pembokat gue.
"Iya, Bi. Enggak apa-apa. Tapi lain kali diingat dan hati2 ya, Bi.", gue balas seadanya.

Ugh... Inilah, salah satu alasan kenapa gue lagi enggak suka sama keadaan rumah. Rumah gue itu isinya terlampau padat. Seharusnya, pembokat gue bisa fokus buat ngurusin rumah tangga. Tapi, gara2 ada ponakan, dia jadi agak suka lupa sama tugasnya sendiri. Buktinya tadi dia lupa matiin api kompor, kan? Sedangkan, di saat yang bersamaan gue lagi galau soal skripsi. Skripsi baru bisa terkejar sekarang karena gue waktu itu lagi sibuk banget sama kerjaan2 himpunan. Capek! -,-"

Di rumah enggak bisa keluar dari kamar. Kalau mau pergi, bingung mau ke mana. What a kampret moment.

Oke, kita beralih lagi yuk ke cerita tadi. Gue lalu siap2 dan Sholat Ashar. Setelah itu, kami bertiga berangkat ke TKP. Sesampainya di TKP... Kok rame benar?

Kata tukang parkirnya, "Udah penuh, mas! Maaf ya!".

Iya, kami maafkan -,-".

"Alternatif terdekatnya ya, BP.", kata gue. Semua menyetujui. Sesampainya kami di BP, kami jalan2 dulu ke Matrix - salah satu toko game langganan kami bertiga.

"Ada Gran Turismo 4! Hahaha, beli ah! Kebetulan kan PS2 gue masih bisa nyala.", kata gue dengan riang gembira.
"Wah, cobain aja, Di.", kata Zem dan Ray dengan serempak. Mereka berdua tahu betul kalau salah satu penghibur utama gue adalah mobil.
Gue lalu cobain disc yang pertama. Eh, enggak bisa. Cobain yang kedua, eh enggak bisa juga. Cobain yang ketiga, hasilnya sama aja. Coba deh yang keempat, eh nihil juga.
Pas gue mau cobain yang kelima, tiba2 mbak penjaga kasirnya nyahut, "Mas, maaf kalau emang enggak bisa, berarti pabrik abalannya lagi enggak benar. Satu enggak bisa, yang lain enggak bisa.". Gue membalas, "Yah! Kok gitu amat sih, mbak!?". Gue lalu melanjutkan percobaan. Hasilnya nihil terus.
Zem lalu menghampiri saya dengan membawa sesuatu. Ternyata, sesuatu yang dia bawa adalah copy-an seluruh GT4! Sambil ketawa, gue berkomentar, "Eh, waktu kita lama2 abis buat nyobain ini satu satu, Zem!". Zem malah membalas, "Biarin, Di. Sekalian ngabuh burit.".

Kami bertiga lalu tertawa sekeras mungkin, hingga semua orang di toko melihat kami bertiga. Malu sendiri emang enggak enak. Tapi malu bareng itu baru enak. *!?*

Akhirnya, kami bertiga keluar dari Matrix dengan perasaan yang hampa. Dengan muka kosong dan datar, gue berkata, "Yuk, mau buka di mana?". Zem berkata, "Suara lo datar amat, Di. Udah, enggak usah sedih. Emang sih, GT4 udah enggak ada. Tapi, kan sekarang lo mainin GT6. Original pula.". Gue berkata, "Iya, sih.".

Kami lalu jalan2 menuju Gramedia sambil menunggu lima belas menit lagi ke Rice Bowl. Kami melihat2 gitar akustik, membaca buku yang sampulnya dirobekin, dan galau sendiri karena bingung mau ngapain lagi *!?*. Oke, akhirnya waktu telah menunjukan pukul 17.30 WIB, dan kami bertiga langsung aja ngibrit ke Rice Bowl.

Zem: Yuk, ke Rice Bowl aja.

Ray: Ngikut aja gue.

Gue: Laper.

Di antara komentar kami bertiga, yang paling unik emang cuma gue, LOL.

Kami akhirnya sampai di Rice Bowl. Lalu, enggak lama kemudian beduk berbunyi dengan... Hampa? Kok, beduknya enggak kedengaran? Gue mengamati keadaan sekeliling gue... Ada sebuah keluarga yang ayahnya pake kopiah dan ibunya pake jilbab, mereka semua menyantap minuman es jeruknya dengan riang gembiria.

Udah buka, dong?

Zem menyahut pelayan dan bertanya dengan lantang, "Mbak! Udah beduk belum, sih!?"
Mbak itu menyahut dengan suara yang enggak kalah lantangnya dari arah kejauhan, "Udaah, pak! Selamat berbuka ya paak!".

SELAMAT BERBUKA!

Setelah puas menyantap buka puasa dan sekaligus makan malam, kami akhirnya pulang ke rumah gue. Di tengah perjalanan, kami berbincang kembali.

Zem: Hey, mau ngapain abis ini?

Gue: Tarawih?

Ray: Hmm, enggak ah. Apa lagi kek yang lain?

Gue: Main GT6?

Zem dan Ray: Capek dulu, Di. Udah malam.

Gue: Oh.

Zem: Main gitar!

Gue: Setuju!

Zem dan Gue: Ajarin gue dong, Ray!

Ray: (ketawa ampe nangis)

Akhirnya, kami sampai di rumah. Dengan perasaan yang lega, kami menyambut mama dan kakak2. Setelah itu, kami belajar gitar.

Gue: Ray, tolong cariin kunci musik ini, dong.

Ray: (mainin... Setelah beberapa saat akhirnya nemu juga) Nih, Di.

Gue: Thanks a lot.

Ray: Enak banget. Musik Jazz dari mana ini?

Zem: (memotong) Pasti dari Gran Turismo! X"D

Gue: Seratus buat Zem!

Kami bertiga lalu tertawa terbahak2.

Ray: Coba, buat Zem latihan lagu apa yang lo suka, tapi yang gampang aja. Saran gue pop.

Zem: Apaan, ya? Gue bingung.

Gue: Boleh gue sumbangin cerita dulu, enggak? Jadi, gue dulu pertama kali main gitar gara2 dipaksa sama Pak Lardy (guru musik SMA kelas 2) dan Reyhan (teman sekelas saat kelas 2 SMA) lho. Mereka berdua masangin gue target dalam tiap semester. Semester pertama, mereka nagihin ke gua satu lagu yang namanya "Dewa 19 - Kamulah Satu-satunya". Semester kedua, mereka nagihin ke gua satu lagu yang gue suka tapi lumayan susah. Akhirnya, Semester dua gue milih lagu buat dimainin itu... "Jason Mraz - Make it Mine". Awalnya, gue mengeluh kesah karena dua orang itu benar2 pemaksa banget. Tapi, paksaan mereka menimbulkan pengalaman yan berguna buat diri gue. Seenggak2nya, gue jadi mayan bisa main gitar. Jago sih enggak, tapi yang penting bisa mainin. Dan gara2 skill tambahan itu, pas gue kuliah gue cukup sering dipanggil buat manggung. Tiga kali sih. Pertama, pas lagi buka bareng. Kedua, pas lagi diospekin buat ngadain festival jurusan. Ketiga, pas kemarin gue manggung buat perpisahan bersama Desa Nunuk. Yang terakhir ini sih yang so sweet banget.

Ray dan Zem terkesima dengan pengalaman (aneh) gue itu.

Ray: Ya, bagus banget itu, Di. Paksaan yang berbuah jadi kenangan indah. Karena bakat itu, lo bisa bikin banyak kenangan. Nah, gimana Zem? Kemotivasi, enggak?

Zem: Ajarin gue "Dewa 19 - Kamulah Satu-satunya" dong, Ray!

Gue ketawa ampe nangis X"D.

Setelah berlatih kira2 setengah jam, Ray dan Zem pulang ke rumah masing. Waktu masih menunjukan pukul 20.00 WIB.

Astaga... Waktu bersenang2 dengan teman sudah habis. Cepat sekali! Besok2, gue mesti kembali fokus buat ngerjain skripsi, nyusun jadwal ketemuan lagi sama dosen pembimbing, dan sebagainya, dan sebagainya....!? Sedangkan, Ray dan Zem juga besok2nya mesti mempersiapkan diri mereka masing2 juga. Kalau Ray buat ngerjain Tugas Akhirnya di ITB FTMD, kalau si Zem buat siap2 turun lapangan buat KKN di bawah jurusan Sosiologi UIN.

Oke, berhenti mengeluh, Di. Daripada mengeluh, kenapa gue enggak mainin aja Gran Turismo 6 selama dua jam?

Setelah itu, gue berbaring di tempat tidur untuk tidur malam. Sekaligus bertanya kepada takdir dan masa, "Hai takdir, hai waktu. Mengapa engkau berdua begitu tega!? Engkau berdua begitu pelit di dalam membagikan kesempatan kami para manusia untuk bersenang2. Kalian lebih menyukai kami dalam konteks yang serius.".

Gue kembali mengeluh.

Gue jadi keinget semua kenangan campur aduk. Kenangan indah untuk bercengkrama dengan teman sekolah, tapi di satu sisi gue juga sering dipeloncoin sama teman sendiri. Kenangan indah untuk berdiskusi, bercanda tawa dengan teman kampus, tapi di satu sisi gue juga sering dimanfaatin sama mereka2 yang munafik sama teman sendiri. Kenangan indah untuk bercengkrama dengan warga Desa Nunuk, tetapi di satu sisi gue juga sering merasa kelelahan akibat tugas MPE yang sangat diforsir berikut perkara si Tango bangsat. Kenangan indah untuk bisa bermain simulasi balap di rumah dan menikmati betapa eksotisnya mobil2 di dunia ini, tetapi di satu sisi gue enggak suka sama keadaan di rumah yang terlampau rame. Kenangan indah untuk bisa bercengkrama dengan teman masa kecil, tetapi di satu sisi setelah itu gue harus kembali fokus untuk mempersiapkan kelulusan diri dari program sarjana Antropologi.

Gue bahagia. Dan gue menderita.

Senang-senang: Kamu Datang Lama Sekali, Tetapi Pergi Cepat Sekali (2)

"Di, masih inget Ray, kan?", kata Zem dengan polos ketika ia lagi tidur-tiduran di kasur gue dengan nyamannya.
Gue menjawab, "Iya, dong. Si jagoan gitar. Teman SD gue dulu. Malah, dia juga se-SMP dan se-SMA juga sama gue. Sayang, enggak sejurusan sama gue (ketawa).".
Zem lalu beranjak dari gesture tidurnya. Ia berkata, "Kapan-kapan ajakin dia ketemuan yuk. Bentar lagi kan bulan puasa, nih. Ajak aja dia buka bareng. Sekalian sama teman2 SD lainnya, Di. Kalau bisa.". Gue langsung menjawab, "Oh. Boleh2. Eh, iya tapi saran aja nih. Ajak Ray aja. Yang lain enggak usah, soalnya dikit doang sih yang gue kenal. Hmm... Kalaupun yang lain... Si Abi, mau enggak?".

Zem bertanya dengan antusias, "Abi! Abi, apa kabar? Gile, jaman dulu tuh, gue sering diajakin dia main ke rumah lo. Cuma buat mainin Dynasty Warriors 4 di PS2 lo sama Zoo Tycon di komputer lo! (ketawa)".
"Ho? Iya, ya? What a nostalgia.", gue menjawab dengan santun. Iya, iya. Sementara Zem menjelaskan kenangan indah tersebut, sementara pula benak bayangan mengenai kenangan itu terserap di kepala gue - terngiang2 ... Menari dengan indahnya dan sebebas mungkin.

Emang... Masa kanak2 merupakan masa terindah yang (celakanya) tak tergantikan. Saat kita kecil dulu, kita berharap ingin cepat dewasa. Soalnya, orang dewasa bisa apa aja. Tapi, saat kita udah dewasa, kita ingin kembali lagi ke masa kecil (!?). Emang sih, sebagai orang dewasa kita bisa melakukan apa saja. Tetapi, banyak sekali batasan2 yang perlu kita maklumi. Kegiatan2 kita saat itu soalnya dipengaruhi oleh dua hal besar, yaitu tenaga dan biaya! Intinya, kebebasan itu malah dibatasi oleh tenaga dan biaya. Gimana rasanya tuh? Bebas yang enggak bebas? Miris. Betul, enggak? Udah, jawab aja. Emang betul kok jawabannya -,-.

Lanjut lagi ke cerita. Zem lalu berantusias untuk mencari tahu nomor telpon Ray via Facebook dan Twitter. Setelah mengetahuinya, ia langsung mengirim nomor tersebut lewat SMS.

"Nih, ya Di. Nomernya Ray. Disimpan baik2 ya.", kata Zem. Gue menjawab dengan singkat, "Pastinya.".

Gue langsung mengirim SMS ke Ray. Eh, Ray menjawab,
"Di. Apa kabar? Gue denger lo pengen ajakin gue buka bareng ya? Yuk. Ajakin Abi juga kalau bisa, hehe. Sekalian entar kita main gitar bareng. Oh iya, buat nyusun acaranya, mau enggak kita bicarain besok di rumah lo? Gue aja yang main ke rumah lo.".
Hehe, asyiknya. Tentu saja gue setuju dengan pendapatnya.
Setelah itu, gue langsung mengirim SMS ke Abi. Sayangnya, ia menjawab,
"Halooo Dii, apa kabar? Wah, buka bareng? Seru sekali. Sayang gue enggak bisa. Soalnya gue masih ko-as nih. Tebak gue lagi dapet penempatan di mana? Di Tegal... Jadi, selama Ramadhan, gue ada di sana. Maaf banget ya, Di. Salamin buat yang lainnya.".
Oh my fucking God! -,-
Sometimes, fate is cruel, is not it? :(

Abi, sahabat terbaik gue sepanjang masa saat ini emang lagi kuliah di FK Usakti. Berhubung yang namanya dokter itu sebelum Judisium perlu melakukan "simulasi" kedokteran yang disebut dengan co-assistance, saat2 begitu dia pasti sibuk. Rata2, FK itu lulus 4 tahun buat meraih Sarjana Kedokteran, dan dia akan melanjutkan 2 tahun setelah itu buat meraih gelar "Dokter" melaui kegiatan co-ass tersebut. Intinya, co-ass itu isinya adalah kegiatan calon2 dokter dalam seluruh bidang kedokteran yang sebenarnya juga merupakan kegiatan membantu para dokter. Dokter yang dibantu ini juga berstatus sebagai dosen, lho. Karena mereka sekalian menilai calon2 ini. Untuk keterangan selanjutnya, coba deh pembaca tanyain ke kenalan yang kebetulan sedang kuliah di FK, atau kenalan yang sedang bekerja sebagai dokter, atau googling aja sendiri kalau berani.

Urgh! Dalam hati gue: co-fucking-ass-off! -,-

Oke, intinya si Abi enggak bisa dulu buat tahun ini, dan besok Ray akan main ke rumah sore2.

Esok sorenya, Ray main ke rumah gue.
Udah lama enggak ketemu dengan dia. Dia juga pasti juga berpikiran yang sama dengan gue. Walaupun fisik kita berubah, terutama dari suara dan bentuk tubuh, tapi sifat dan sikap tetep aja sama dari dulu.
"Ray, lo kurusan, lho. Dan tinggian. Suaranya juga berubah.", kata gue sesantun mungkin.
"Oh iya? Lo juga, Di. Suara lo makin dalam. Dan lo makin tinggi, dan agak gendutan dari yang dulu. Dulu lo kurus banget.".
Gue gendutan!? Yes! Jarang banget orang yang ngomong kalau gue agak berisi! XD

Sembari menyusun rencana buka puasa bareng besok, gue ngajakin dia main Gran Turismo 6 bareng. Tentu saja: pakai Logitech G27 andalan! XD

Ray: Waw, seru banget, Di. Ketahuan banget deh, bedanya. Kalau pake stik PS jauh lebih gampang daripada pake setir2an ini. Pake setir2an ini jadi kerasa realistis.
Gue: Yoi, dong. Enggak salah beli kan. Gimana, mobilnya enak enggak?
Kebetulan Ray pake mobil Renault Clio Sport 2011. Sebuah mobil sporty yang begitu bersahabat dengan pebalap pemula.
Ray: Enak kok, Di. Di, gantian lo, dong. Capek juga gue nyetir.
Gue: Oke. Sekarang gue pindahin ke Le Mans 24 Minutes Event ya. Gue pake ini aja, ah. Audi R10 TDI. Mesin LMP bertenaga Diesel.
Ray: LMP itu apa?
Gue: Le Mans Prototype. Kelas mobil single seater yang tepat berada di antara GT1 atau GT500 dengan Formula One.
Ray: Ooh.
Gue: Oke... Uh! (rem mendadak) ... Wah, ada Nissan GTR nabrakin Ford GT... Kecelakaan dah berdua itu :(
Ray: Waah!

Akhirnya, waktu maghrib telah tiba! Yuk, abis ngabuh burit di atas kokpit mobil, kita melegakan diir dulu dengan sepiring bubur sumsum dan segelas milo :D. Rasanya lega sekali, Alhamdulillah.

Dan rasa lega itu menambahkan satu kebahagiaan tak ternilai: berbuka bersama salah seorang teman masa kecil di rumah. DI RUMAH! XD

Setelah berbuka, kami melaksanakan ibadah maghrib, tentu saja. Setelah itu.... Kami bingung -,-. Mau ngapain lagi? Kalau Ray pulang sekarang, sayang aja gitu. Walaupun emang waktu udah malam, tapi yang namanya bercengkrama dengan teman dalam waktu yang lama merupakan apresiasi yang bahkan enggak bisa dibayar sama uang sebesar berapapun juga. Sorry, kalimat terakhir gue ini membingungkan karena kepanjangan. Intinya sih, ya mohon ditangkep ya. Maksudnya, salah satu apresiasi terbesar terhadap diri ini ialah dapat bercengkrama dengan lama bersama teman masa kecil.

Teman masa kecil, Ray? Iya. Siapa yang sangka, kalau dulu gue sering saingan buat dapetin ranking 1 sama dia (tapi nyatanya gue kalah melulu?)? Siapa yang sangka, namanya juga teman dekat, kalau dulu gue sering ngatain dia (dan begitu juga dengan sebaliknya! Yang resiprokal aja, sih! XD)? Gimana kalau gue kasih tahu kalau... *a la Morpheus-Matrix* *BGM on: Clubbed to death* *lebay*
Kalau... Gue tahu dan kenal Megaman, Mario Bross, dan Yu-Gi-Oh! dari teman yang bernama Ray ini? XD
... Di saat semua anak2 seumuran gue udah pada tahu mainan2 itu, gue sendiri masih belum tahu! Tahu dari mana terus? Sekali lagi, dari Ray! XD
Iya.. Kalau gue enggak kenal sama dia, gue enggak tahu mainan2 itu. Dan saat ini gue sadar betapa berharganya mainan2 tersebut. Mainan2 itu jadi salah satu kelompok pendamping utama buat belajar... Eh salah, buat santai2 tentu saja. Mainan masa kecil.

"Ray, main GTA V yuk. Sambil nunggu waktu makan malam, hehe", kata gue.
Ray membalas, "Wuih, ada GTA V juga! Yuk2.". Gue jawab, "Asyiik.".

Kami berdua akhirnya main GTA V. Ya, karena main offline dan enggak ada konten multiplayer, akhirnya cuma gue aja yang mainin. Ray menyimak dengan seksama tapi santai.

Gue: Ray, sorry. Kok malah jadi gue yang main. Mau main, enggak?
Ray: Enggak apa-apa, Di. Gue malah lebih suka ngelihat orang yang main. Oh, iya entar aja, Di. Abis lo aja.
Gue: Oke. Gini2 aja sih. Biasa, main GTA kan gitu. Kalau banyak misi, bingung gimana cara mainin misinya. Kalau udah tamat, malah bingung mau ngapain.
Ray: (ketawa)
Gue: (ketawa) ... Tapi sih, sekarang misi bisa di replay lho. Bisa dimainin ulang.
Ray: Oh iya? Cobain dong, Di.

Akhirnya, gue coba mainin misi yang pertama banget. Pertama kali. Sampai di tengah2 ada cut scene antara Michael Townley dengan Trevor Phillips...

Michael: Yeah, you're the real stallion!
Trevor: BAH BAH BAH BAH BAH!

Kami berdua ketawa terbahak2 melihatnya.

"Di, Ray. Makan yuk.", Ka Titi menyapa kami berdua dengan ramah.
"Yuk, Ray.".

Kami berdua lalu makan malam sambil mengobrol soal teman2 SD dan SMP. Berbagai nama muncul untuk mengingatkan kenangan2 indah tersebut. Indika apa kabar? Oh, dia ada di Jerman, toh. Agam apa kabar? Oh, dia baru lulus dari salah satu universitas di Inggris (ya, dia keluar negeri! Gue sendiri kapan ya T_T"). Widi apa kabar? Dulu kerjaannya nyanyi2 Sheila on Seven melulu, sekarang udah tobat dia. Lebih aliman dia daripada gue, kalau kata Zem *!?*. Ismail apa kabar? Oh, emang  gue pikirin. Terakhir gue sama dia berantem, dan agak males ngomongin orang yang satu itu. Sorry ya,

Setelah itu, Ray pulang ke rumah. Iya, hari sudah larut. Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 WIB.

Jadi, gue santai2 sama Ray palingan dari pukul 14.30 - 09.00 WIB.

Jujur... Waktu yang sangat sebentar kalau buat santai2... Tapi, kalau waktu sebanyak itu digunakan buat ngerjain skripsi, ngerjain tugas himpunan atau organisasi, ngerjain tugas teman (hah!? What the fuck!), dan berbagai kegiatan2 lain yang belum tentu kita sukai... Adalah waktu yang sangat menyiksa, bukan?

Jadi teringat kata Thomas Hobbes. Filosof yang pemikirannya cukup ribet itu pernah ngajarin gue satu kalimat bermakna, "One of the human's nature is felicity.". Felicity itu maksudnya mengejar kebahagiaan dan menghindari ketidakbahagiaan.

Jadi? Kebahagiaan yang gue pengen itu... Bercengkrama selama mungkin dengan teman masa kecil... Dan ketidakbahagiaan itu kayak macam2nya skripsi, tugas himpunan, sama tugas teman yang super malas?

Kalau buat saat ini, ya iya! -,-"

Selasa, 08 Juli 2014

Senang-senang: Kamu Datang Lama Sekali, Tetapi Pergi Cepat Sekali (1)

Assalamualaikum Wr. Wb.

....

Hai semua, apa kabar? Gue udah lama enggak nulis2 lagi di blog ini. Terutama setelah gue nulis kesan gue terhadap Gran Turismo 6. Sebuah game yang bikin ketagihan tapi dalam batasan yang sewajarnya aja. Main sejam ampe dua jam udah capek. Besok tinggal main lagi, deh.

Oke, tapi kali ini gue enggak mau ngomongin game dulu. Entar dulu deh soal itu.
Gue cuma mau curhat aja. Soal waktu buat bersenang-senang.
Waktu buat bersenang-senang. Waktu buat bersenang-senang bareng teman2 lama, kayak teman SD kalo enggak temen SMP. Atau kalau menurut lo paling, ya teman SMA juga bisa. Malah, mungkin2 aja teman TK atau teman Play Group. Yaa... Kali2 lo masih inget. Kita kan enggak tahu, ya?
Itu semua variatif ya, sifatnya?
Setiap orang punya cara buat mengaturnya sendiri-sendiri. Ada yang udah pasti janjian setiap minggu, maksudnya setiap week end. Ada yang sebulan sekali, karena maklum kerjaan banyak, waktu dead line juga enggak pasti alias bisa aja dadakan, jadi pada intinya ya sibuk banget. Kesibukan itu bikin diri dia terjerat buat fokus dulu ke kerja.
Aneh bin ajaib. Uniknya, ada yang lama banget. Ada yang cuma setahun sekali. Then, are you fucking serious? Fo' Sho'. Biasanya, itu disebabkan karena kesibukan yang dimiliki oleh masing2 orangnya itu udah punya jadwal yang beda alias enggak serempak.
Iya. Yang cuma bisa ketemuan sama teman lama dalam kurun waktu setahun sekali ya itu gue. :(

Ini berawal dari teman SD gue yang bernama Zem. Akhir bulan yang lalu, Zem agak sering ke rumah gue buat belajar. Ya, benar2 buat belajar. Dia waktu itu lagi kesulitan ngerjain UAS nya. Ya, gue bantu sebisa mungkin.
Lagian, di rumah sepi. Di rumah enggak ada yang bisa diajak ngobrol. Ada sih orang, dua ponakan gue. Tapi, sekalinya gue ajak ngobrol mereka, mereka malah nangis alias ngambek -,-. Duh, emang enggak bakat gue main sama anak kecil -,-.
Di rumah gue ngapain aja terus? Galau. Skripsi. Main. Galau. Skripsi. Main. Ulang aja terus. Itulah siklus hidup gue (yang enggak bener sama sekali). Diiringi dengan tangisan anak kecil yang waktu nangisnya begitu dadakan. Gimana gue enggak stres.

Zem. Dia itu teman SD gue yang sangat baik. Teman main dari SD dulu. Pas SMP enggak pernah ngobrol lagi, karena kami berdua enggak se-SMP. Pas SMA, gue tahu kabarnya dari dia melalui bapaknya. Bapaknya yang bernama Pak Amir adalah pegawai Logistik dan Pergudangan di YPAI. Setiap kali istirahat, gue selalu mengajak beliau untuk berbincang. Akhirnya, gue kuliah dan menekuni bidang Antropologi Sosial di Universitas Indonesia. Eh, ternyata Zem juga ikut memilih jurusan yang mirip (emang sih, enggak sama) sama gue, yaitu Sosiologi Universitas Islam Negeri. Setelah mengetahui alamat kontak di facebook, akhirnya gue ngajak dia ngobrol dan berdiskusi soal keilmuan kita. Ternyata, diskusi tersebut begitu membantu. Hingga dia mau ke rumah gue buat belajar....

Eh, ada Zem.
Selagi gue ngebantuin dia UAS soal Sosiologi Kriminal, dia ajak ngobrol gue. Gue juga ajak ngobrol dia, sih *eh apa bedanya?? Nah...
Gue: Udah, pake aja kualitatif. Inget, omongin satu konteks aja, ya.
Zem: Jadi, gue cuma omongin kejahatan kecil aja?
Gue: Ya, kalau bisa yang lebih spesifik lagi, boleh?
Zem: Maling aja?
Gue: Iya.
Zem: Oke.
Lima menit kemudian...
Zem: Di, mahasiswa tingkat akhir itu nasibnya macem2 ya. Ada yang mulus, jadi dia lancar lulus empat tahun karena skripsinya juga lancar. Ada yang udah dari awal enggak mulus, jadi dari dulu dia ngulang melulu. Ada yang sbeenarnya udah lancar, kuliahnya. Tapi pas lagi skripsi, dia enggak lancar.
Gue: ITU GUE, GOBLOK!!! -,-"
Zem: EH, SORRY SORRY, DI. GUE ENGGAK MAKSUD NGATAIN LO, LHO. ENGGAK PUNYA MAKSUD.
Gue: Ye, ye.
Hening sesaat. Kemudian, Zem bertanya kembali untuk memecahkan keheningan itu.
Zem: Tapi emang kenapa sih, Di? Kok skripsi lo bisa enggak lancar begitu?
Gue: Ya, banyak faktor ya, Zem. Pertama, gue itu revisi Bab 1 melulu. Enggak pernah selesai itu. Ya, baru mau selesai sekarang ini. Dan pembimbing gue itu maunya sistematis. Kalau mau kerjain Bab 2, ya selesein dulu Bab 1 nya. Kedua, faktor dari diri aja sih. Mental gue kambuh lagi. Gue enggak tahan menghadapi keadaan rumah. Berisik banget, minta ampun. Pengen banget ngekos, tapi enggak dibolehin nyokap. Yaudah, di rumah aja kerjanya. Eh, di rumah berisiknya minta ampun. Jadi enggak konsen ngerjain.
Zem: Ooh.
Gue: Dan, akibatnya gue jadi jenuh sama skripsi gue. Gue jadi enggak mau ngerjain itu dalam beberapa waktu ini. Seenggak-enggaknya, ampe mental gue udah bener kembali.
Zem: Iya... Kalau gitu, kan palingan sidang lo entar Oktober kalo gak November, ya.
Gue: Akhir tahun ini. Ya, kurang lebih begitu.
Zem: Mulai sekarang rencanain aja, Di. Mesti ngapain2. Lo sih gue lihat udah enggak bisa kerja di rumah lagi. Betul?
Gue: Ye. I'm so fucking done of these bullshits.
Zem: Sabar, Di. Coba mikir jernih, jangan pake emosi. Jadi, mesti gimana?
Gue: Ke depannya, kalo mau kerjain skripsi gue mesti ngampus. Pagi siang gue di kampus ngerjain tugas ampe selese. Siang pulang. Pulang2nya gue main2. Leha2 ampe puas, ampe bosan!
Zem: Nah, gitu!
Gue: Fiyuh. Thanks a fucking lot, Zem.
Zem: You are fucking welcome, Ardi.
Gue sama Zem lalu ketawa. Susah sekali buat menghentikan ketawa kami, tapi Alhamdulillah Dengan Kasih Sayang Allah Swt, Beliau mengizinkan kami buat berhenti ketawa (!?).
Gue: Udah lanjut. Jadi, balik lagi ke masalah. Lo jadi perlu ke Kapolsek nih buat wawancarain polisi.
Zem: Kapolsek Ciledug aja, deh.
Gue: Mana aja.

Waktu sudah malam. Zem lalu izin pamit.
Zem: Thanks ya, Di. Besok kita ke Kapolsek yuk!
Gue: Yoi!
*Zem lalu pergi*
Gue: ... (Dalam hati: Sial. Kenapa ketemu sama Zem-nya bentar banget ya? Udahlah, ada hari esok lagi. Gue bakal manfaatin waktu itu buat bercengkrama dengannya).

Besok paginya, gue ngobrol sama dia via SMS.
Zem: Di, jadi kan hari ini mau nemenin gue?
Gue: Jadi, dong.
Zem: Oke, gue mandi dulu ya sekarang. Sorry gue baru bangun nih/
Gue: Iya. Gue juga baru bangun kok. Ya, gue juga mandi.
*Gubrak!*

Gak lama kemudian, Zem datang dengan membawa mobil Opel Blazer-nya. Kami bercengkrama sepuasnya di tengah menuju ke Kapolsek Ciledug. Eh, sesampainya di sana, ada sebuah kabar buruk: polisinya lagi cuti! -,-

Kami pulang dengan rasa yang agak hampa.
Lalu, untuk menyegarkan suasana...
Gue: Zem, boleh gak gue yang nyupirin lo, sekarang?
Zem: Boleh, Di. Inget ya, koplingnya tinggi.
Gue: Ooh, oke.
Kami berdua lalu tukaran posisi.
Zem: Lihat spion, Di. Udah cocok apa belum.
Gue: Belum. Ada di sini kan penggeraknya (menengok ke kanan). Lho, kok enggak mau gerak, kacanya?
Zem: Mesin penggerak kacanya lagi mati.
*Gubrak!*
Gue: Oke, tolong deh, manual aja, ya.
Gue coba mobil Blazer-nya ini. Hmm, agak berat sih. Tapi, begitu stabil. Mirip sama Innova aja, tapi lebih berat dan lebih stabil. Tapi, inget kalau mobil ini merupakan mobil retro yang lahir tahun 1997. Mobil yang klasik, yaitu jadul dalam artian yang keren. Intinya, mobil yang bisa diajak bersenang2 ketika mau jalan santai bersama banyak teman. :D.
Gue: Akhirnya... (memasang tampang terharu)
Zem: Akhirnya kenapa, Di?
Gue: Akhirnya gue sempet bisa nyetir mobil Eropa! LOL
*Gubrak!*
Zem: Haha, lo pernahnya nyetir mobil Asia doang ya. Ya tapi saran aja sih. Kalau mau nyetir yang lebih enak, maksudnya kelas yang lebih bagus, coba cari mobil2 kayak Mercy, BMW, dst. Itu semua kan Eropa2 yang bagus.
Gue: (mulut manyun)
Zem: Iye, sabar. Pasti maksud lo masang mulut kayak gitu, mahal kan harganya? Ya, kali kapan2 rejeki lo bisa beli mobil kayak begitu.
Gue: AAMIINN!!
Zem: Iya, Aamiin. Jawab doanya yang biasa2 aja dong, Di.
Gue: ...
Akhirnya, Alhamdulillah sampai juga di rumah dengan selamat.
Zem lalu pulang dengan tangan kosong. Ya, hari ini perjuangan dia cukup sia2 sih kalau dipikir2 :(

Dan. Dalam hati gue berkata, "Mengapa waktu gue buat have fun bersama teman begitu cepat? This life is so fucking short!".

Lusanya, Zem ke rumah lagi. Buat belajar ngerjain dua tugas, yaitu Organisasi Sosial dan Pembangunan Berkelanjutan. Gue bantu sebisa mungkin, seiring bercengkrama dengannya. Ternyata, waktu sudah malam.

Zem: Di, apa gue balik aja ya? Udah Maghrib, nih. Kan kumpulinnya lusa. Kirim feed back nya lewat email aja. Nih, alamat email gue.
Gue: Oke. (menengok ke alamat emailnya)... Ya, udah gue catat. Hati2 di jalan, Zem.
Zem: Iya, Di. Makasih ya.
Gue: Enggak masalah.
Gue menjawab dua kata terakhir itu dengan memasang tampang poker. Bukan gara2 gue enggak seneng sama kerjaannya Zem yang belakangan ini ngerepotin diri gue melulu, enggak sama sekali padahal. Tapi. Ya betul. Gue menjawab dengan jawaban itu, dan memasang tampang itu, sambil bertanya di dalam hati, "Mengapa waktu gue buat have fun bersama teman begitu cepat? This life is so fucking short!".

....

Mengapa waktu bermain bersama teman begitu lama? Bahkan, waktu yang digunakan juga bukan buat bermain, melainkan buat bekerja. Pekerjaan itu bikin waktu bersenang2 kami menjadi no fun. Seriously no fucking fun! :"(

Rabu, 23 April 2014

Kesan Gue terhadap Game Baru: Gran Turismo 6

assalamu'alaikum Wr. Wb!
Hai semua, apa kabar? Mudah2an kalian semua sehat-sehat, sukses dalam beraktivitas, terus produktif juga :D .

Uiih... Udah lama gue gak nulis2 lagi di blog tercinta ini. Habisan, urusan ini itu cukup banyak, sih.

Gue mau sharing tentang game baru nih. Bukan maksud gue sombong, pamer, atau bagaimana2, tapi emang mau berbagi cerita aja. Berbagi cerita terutama buat kalian semua yang kebetulan juga berstatus sebagai anak gamer! XD. Soal game balap yang begitu fantastis. Apa namanya? Gran Turismo.

Siapa yang enggak tahu Gran Turismo? (kalo enggak tahu juga enggak apa2 sih, hehehe) Game balap yang satu ini pasti menjadi sahabat bagi anak2 retro yang lahir di tahun 90an kayak gue. Anak2 retro itu yang suka banget sama balap mobil. Enggak perlu kepo soal mesin, ban, body works, dan segala macemnya sih, yang penting senang aja sama balap. Ya kayak gue ini :D .

Seperti namanya, GT pada awalnya dirancang oleh Kazunori Yamauchi dari perusahaan Polyphony Digital untuk mewadahi gamer yang mau tahu soal mobil2 Grand Touring, yaitu mobil mewah yang terdiri dari dua pintu dan punya down force yang besar2, begitu juga dengan tenaga kudanya. Bayangannya, bentuk tubuhnya seksi2 dan ceper2. Tetapi, semakin ke depan-depannya, konsep GT semakin berubah dari yang tadinya terbatas hanya untuk mobil Grand Touring menjadi mobil2 yang macem2. Mobil yang macem2 itu kayak mobil konsep alias mobil yang belum jadi.

Kira2 begitu buat pendahuluannya, mudah2an cukup menarik buat kalian. Gak menarik ya mohon maaf :( .

Awalnya, gue kenal GT dari tahun 1998. Tahun ketika gue baru mau masuk kelas 1 SD, hehehe. Ketika itu, gue coba iseng main GT 2 sampai begadang terus gak karuan (gile masih kecil udah bisa begadang, hahaha!). Entah kenapa - dengan otak gue yang masih kecil itu - gue bisa beli Mazda RX-7 (FD3S Spirit) Le Mans Edition.

Karena itu, jadilah gue suka sama game balap. Gue juga jadi perhatian sama mobil balap, minimal ke Mazda RX-7. Mobil seksi yang bermesin rotari itu terus menggoda gue! Dia berkata, "Ayo, Di. Cintai terus mobil balap dan game balap!".
Oke, sulit dibayangin sih kalau Mazda RX-7 beneran ngomong gitu ke gue. Mudah2an itu cuma delusi aja. Atau imajinasi gue yang kelewat lebay, hehehe.

Lanjut. Itu kisah gue di PS 1. Gimana dengan PS 2? Gue coba lagi beli GT edisi selanjutnya. Tapi sayangnya, gue salah beli. Karena keburu nafsu beli, gue malah ditawarin sama mas2 penjualnya, "Dek, GT 3 belum ada, soalnya belum jadi. Tapi, ada sih versi Prologue. Mau dicoba gak, dek?". Maklum, saat itu gue masih SD kelas 4 dan masih (bahkan) masih belajar soal meluruskan air kencing... Alias baru aja disunat... Hahaha... Dengan keadaan gue yang kayak gitu, otomatis pemikiran gue juga begitu instan. Akibatnya, gue beli aja tuh game yang salah.

Iya, betul sekali. Gue gak tahu, gue gak nyadar tentang apa sih arti dari Prologue itu.
Ternyata, prologue itu game yang belum jadi sepenuhnya, sialan -,-.
Ya, dan gue dalam bermain game itu enggak bisa beli mobil yang baru. Sama sekali. Gue juga gak bisa masuk ke simulation mode. Ya, bagi pecinta RPG, simulation mode itu ibaratnya sama aja kayak 'Adventure Mode'. Jadi, seri petualangan. Tapi, kalau di game balap ini, seri petualangannya itu agak2 mengikuti kenyataan pebalap gitu. Agak mengikuti, tapi gak meniru persis luar dalamnya, lho. Ya, di seri petualangan ini lo bisa berbuat yang macam2 kayak ikut perlombaan (Cup, Endurance Hall, Training and Licences, dan sebagainya) dan beli mobil baru. Khusus buat soal mobil baru ini, gamer benar2 diasah otaknya buat membeli mobil yang cocok buat dirinya. Ingat, beli mobil bukan karena pengen pamer alias gengsi. Tapi, beli mobil karena emang dipikir dan bisa dirasa buat memenuhi kebutuhan diri pengemudinya. Hukum itu enggak cuma berlaku di lalu lintas Jakarta dan sekitarnya, tapi juga buat game balap yang satu ini. Intinya, you are what you drive. I am the car, and the car is me. Sekali di atas aspal, jadikan mobil sebagai belahan jiwamu! XD.
Lah, jadi tipsnya gimana dong kalau mau beli mobil di GT? Suka sama mobil yang bisa diajak ngebut di tengah belokan secara lancar? Cari mobil yang bisa nge-grip. Jangan lupa sama jenis ban dan takaran down force nya. Oke, kalau repot, biasanya mobil2 yang udah biasa dipake buat Endurance Hall 24 Hours Le Mans rata2 pada bisa diajak bekerja sama buat urusan yang beginian.
Suka sama mobil yang bisa diajak ngesot? Cari mobil yang bisa nge-drift. Berhubung ngesot adalah seni untuk mengendalikan keadaan membelok yang lebay alias over-steer, maka soal kelancaran dari ngesot ini ya urusan lo sendiri (practice makes perfect, after all! Never give up for doing the art of controlling the oversteer!). Yep, ayo buktikan bahwa mobil lo bisa lebih lancar ngesotnya dibandingkan suster ngesot! Kalau berani, ajak aja suster ngesot ikutin drift competition! XD.
Terus juga, suka sama mobil yang bisa ngebut gak karuan? Bisa lari lurus alias nge-drag? Cari yang tenaga kudanya gede. Cek juga nilai maksimal RPM nya berapa. Ujung2nya, lari lurus kayak gitu emang terpaut dalam minimal tiga faktor: kecepatan maksimal alias top speed, akselerasi alias percepatan, sama kemampuan pebalapnya sendiri. Ada lho korelasi antara denyut nadi, konsentrasi kerja syaraf dan otak pebalap dengan kesiapannya menghadapi lampu hijau. Gak percaya? Lihat GT Academy yang baru dibuat pada tahun 2008.
Oke, sekarang mari kita beralih ke fitur yang cuma bisa dinikmati di game Prologue itu. Hemm, kita cuma bisa nikmati satu fitur aja, yaitu Arcade Mode. Sekali lagi, buat pecinta RPG bolehlah Arcade Mode ini dianalogikan sama Free Mode atau Free Run. Di mode ini, kita bebas memilih mobil, apa saja... Yang jumlahnya terbatas... Dan relatif pelan2... -,- .
Makanya, gue kecewa banget sama edisi Prologue.
Kalaupun ditawarin lagi, pasti gue gak bakalan mau lah. Menyesal seumur hidup. Pasti.

selanjutnya, gue akhirnya beli GT 4. Kali ini enggak Prologue, beneran. Bener2 asli. Yang covernya itu Ford GT '02 Concept. Buat info aja, GT 4 ini masih khusus untuk PS 2. Atau juga bisa buat PC, asalkan Emulator buat PS 2 nya juga ada.

Dan... Asli dah... Subhanaullah... GT 4 itu... Bener2... Bisa dikatakan sebagai... Game balap terbaik buat PS 2. Kalaupun enggak secara umum, ya secara khusus. GT 4 secara khusus jadi game balap versi simulasi terbaik buat PS 2.. Ya, anggap aja game balap versi action terbaik buat PS 2 itu macam2nya Need For Speed.

Terharu gue. Segala macam mobil2 super seksi alias supercar diperkenalin secara cuma2 di GT 4. Gue jadi kenal Pagani Zonda, Saleen S7, Acura NSX, Spyker C8 Laviollette, Ford GT '02, dan sebagainya. Grafiknya juga super sekali! Sirkuitnya banyak, mulai dari yang original (dibikin sendiri sama PD), sirkuit dunia (sirkuit asli, real, emang beneran ada kayak nurburgring nordschleife sama Mazda Laguna Seca), sirkuit kota (Tokyo Route, Seoul City, New York, Opera V Paris, dan sebagainya... Kalau di waktu malam bikin hati nangis terharu saking indahnya! X"D), ampe sirkuit off-road alias dirt trial.

GT versi PSP juga gue mainin. Yang ini juga bikin gue terharu. Ada beberapa merk mobil Eropa yang ditambahin untuk mengoreksi kekurangan yang ada di GT 4 kayak Ferrari, Bugatti, dan Lamborghini. Lho? Jadi, tiga merk ini enggak ada dong di GT 4? Ya, betul. Enggak ada :"( . GT 4 emang lebih memberikan postulat kelengkapan manufaktur di wilayah Asia-Pasifik-Amerika, sih. Jadi, jumlah Muscle Car dan Asia-Pacific Sport Cars lebih banyak daripada European Super Cars. Kebalik banget ya sama NFS? Ya begitulah. Masing2 game punya kepentingannya sendiri2.

Oh iya, ada satu fitur lagi yang gak kalah bagusnya. Fitur ini jadi pelengkap GT dari awal hingga akhir. Fitur ini sering banget dilupain sama gamer nya yang gak begitu menganggap kalau hal ini ternyata penting.
Fitur apa itu? MUSIK!

Dari GT 1 sampai GT 4, biasanya musik buat menu itu bernuansa Nu Jazz dan Lounge. Ada Acid Jazz nya juga sih. Ya intinya Nu Jazz dah, Jazz yang punya campuran dengan genre lainnya. Musiknya dipimpin oleh Isamu Ohira. Kalau GT 1, gue paling suka "Beat the Corner", yaitu Theme buat TVR. Kalau di GT 2, gue sangat merekomendasikan "From the East" - Theme buat East City di Simulation Mode sama juga "Windroad" - Theme buat Arcade Mode. Kalau GT 3 Prologue itu "Slipstream", yaitu Theme buat Arcade Mode. Akhirnya, kalau GT 4 itu "Light Velocity II", yaitu Theme buat Arcade Mode. Eh, buat Simulation Mode nya GT 4 itu juga bagus2 lho kayak "Mr. 4WD", "Hypnosis", "The Drift of Air", dan sebagainya. Nah, di GT PSP, artisnya kayaknya bukan Isamu Ohira deh. Coba dengerin Musik di Menu nya. Cek aja sendiri, gue ampe sekarang sih gak tahu siapa. Kalau tahu dan berminat, boleh komentarin di mari! :D

Nah, buat musik di balapannya, genre yang keluar justru malah rock. Kalau di PS Version, nama artist nya Daiki Kasho. Kalau di PSP Version, nama artist nya Masanori Mine. Cek sendiri, bagus2 kok :D. Kalo ngerasa bosen ada di jalanan Jakarta yang macetnya minta ampun, dengerin aja musik yang kayak beginian, dijamin bikin semangat. Apalagi buat lo2 yang suka banget sama musik rock! :D.

Nah, jujur aja gue gak ikutin GT 5.
Ini karena kejadian gue mau dibeliin hadiah ulang tahun ke 22. Gue ceritain dulu ya, kronologisnya. Kayak biasa, nyokap gue bertanya, "Mau apa? Apa aja boleh lho. Yang lagi diidamin aja.". Terus gue bilang, "Ma, aku lagi ngidam simulator balap. Tapi kalau emang gak pantes buat aku, ya jangan dibeli deh.".

Eh, nyokap gue malah ngomong, "Ayo, mama beliin itu. Soalnya, prestasi kamu selama ini bagus banget. You're so worthed, after all.".

Hmm... Ya Allah, makasih ya Engkau telah menganugrahi gue akan nyokap yang begitu baik sama diri gue. Emang, ibu sejati adalah ibu yang mencerminkan peribahasa, "Kasih ibu sepanjang jalan, tak terhingga sepanjang masa.". :"D.

(Sekalipun gue agak bingung, kok gue punya bokap yang jahatnya minta ampun? Ah yasudahlah. Takdir kadang berkata pahit buat diri gue. Jahatnya dia, ya urusannya dia, ya tanggung jawab dia, bukan tanggung jawab gue. Siapa suruh jadi orang jahat?)

Akhirnya... Akhirnya, Logitech G27, PS3, dan Gran Turismo 6 (15th Anniversary) dibeli... GT 5 udah habis stock nya karena pabrik yang jual Blue Ray nya udah gak nyediain lagi. Tapi untung banget! GT 6 nya kesisa cuma di Gandaria City aja, lho! Satu2nya! Emang takdir yang indah! Buat merayakan hadiah ultah gue yang ke 22 tahun. Buat melawan takdir pahit punya bokap yang kejam, huhuu. Oh My Fucking God, these are too lux, just for me! Mudah2an hadiah ultahnya ini bikin gue bingung buat hadiah tahun depan: jadinya, tahun depan gak ada hadiah lagi. Udah ah, gue udah cukup bingung mau dihadiahin apa lagi X"D. Alhamdulillah Wa Syukurillah. Thank God, Many Thanks Mum. Many Thanks for you all, my beloved family. :"D. Makasih juga buat dukungannya, pembaca sekalian :"D.

Nah, jadilah gue coba itu semua. Tahu apa? G27 DENGAN GT 6 ADALAH KERJA SAMA TERBAIK UNTUK GAME SIMULASI BALAP. G27 mampu menghasilkan kenyataan seperti getaran akibat tekanan udara yang di setting langsung di Force Feedback GT 6. Bisa diatur. Bahkan kalau gak mau ada getaran sama sekali juga bisa diatur, kok. G27 juga mampu menghasilkan kenyataan lainnya seperti traction control. Makin kecil nilai traction controlnya, sensasi kenyataan makin besar. Kalau mau aman alias cuma have fun yang gak berat2 amat (yang tantangannya kecil), ya perbesar aja nilai traction control nya. Intinya, G27 dan GT 6 itu pas bangetlah. Lo gak bakalan nyesal kalau beli dan mencoba dua itu kalau lo emang pecinta otomotif roda empat dan juga sebagai pecinta berat game :"D.

Fitur sirkuit juga pasti lebih lengkap daripada yang sebelum2nya. Kalau dulu gak ada fitur cuaca, sekarang ada fiturnya lho! Bisa diatur, mulai dari yang cerah hingga mendung. Jadi, rasakan sensasi balap-membalap di kala hujan. Rasakan sensasi terganggunya pemandangan sirkuit dan rasakan juga sensasi terganggunya setir akibat roda yang kena basah.
Tapi, menurut gue gak ada sensasi paling baik kecuali sensasi balap di tengah kota pada waktu malam hari. Contohnya, di Clubman Stage. Silahkan deh, cek sendiri. Itu sirkuit fiksi yang dibikin oleh GT buat menggoda gamersnya untuk mencintai sirkuit kota di waktu malam hari. Ini serius! :D.

Musik? Tetep aja bagus! Ternyata, banyak artis yang meneruskan Isamu Ohira buat mengurus Nu Jazz dan Lounge Music di GT 6 ini. Denger2, ini udah ada sejak GT 5 berlangsung, sih. Ada beberapa artis kayak Annayamada, Yuki Oike, Yuto Takei, Yudai Satoh, Pnau, Seigen Tokuzawa, Keiji Inai, Satoshi Bando, Akimasa Yamada, dan Makoto. ada sih artis2 lainnya, tapi silahkan pembaca cek sendiri ya. Nih, ada list lagu yang sering gue dengerin, baik di Hand Phone, Laptop, maupun di GT 6 itu sendiri. Ohya, ini juga bercampur dengan GT 5 itu sendiri. Jadi, silahkan pembaca dengar, ini sangat gue rekomendasikan lho:

1. 4 Chords (Annayamada)
2. 8Va Curves (Yuto Takei)
3. Are You Ready (Yudai Satoh)
4. Baby - Breakbot Remix (Pnau)
5. Cecile (Seigen Tokuzawa)
6. Dark Line (Satoshi Bando)
7. Globe (Yuki Oike)
8. Mesmerium (Satoshi Bando)
9. Passion (Yuki Oike)
10. Two Carfuls of Mementos (Gonno)
11. Alony (Yuki Oike)
12. Wind (Yuki Oike)
13. Prunus in Guanhua (Akimasa Yamada)
14. Red (Yuki Oike)
15. Rising (Makoto)
16. White Out (Yuki Oike)
17. Easy Drive (Keiji Inai)

Selamat mendengar! :D.

Intinya, GT 6 is such a master-fucking-piece!! :"D Thanks Polyphony Digital! :D

Minggu, 16 Februari 2014

Sekali2 Hedon (2): Main ke Rumah Gue, Yok

Ini, ada cerita kedua mengenai hedonisme yang belakangan ini sedang gue geluti. Ya, sebenernya enggak hedonis juga sih. Sekedar refreshing, melepas penat atas kegiatan perkuliahan yang cukup melelahkan lahir dan batin.

Kayak judul yang gue kasih di atas itu, ceritanya enggak jauh dari main ke rumah temen. Kalo enggak, main ke rumah gue.

Ada suatu kali gue undang beberapa teman untuk main ke rumah. Enggak cuma main aja, tapi juga nginep. Gue pikir, boleh juga ada acara yang kayak beginian. Toh masih halal juga (enggak ada narkoba, enggak ada miras, dan sebagainya yang membahayakan diri sendiri). Dan toh sebagai anak UI, slogan mahasiswanya enggak boleh kekurangan dari tiga2nya: buku, pesta, dan cinta.

Buku? Udah jadi rahasia umum kalau anak antrop UI selalu (dipaksa) belajar. Enggak cuma buku. Skripsi, jurnal, dokumen tidak diterbitkan alias karbitan, dan sebagainya juga kita telan satu persatu.

Pesta? Anak antrop UI juga terkenal dengan pestanya. Mau itu di lingkungan internal maupun eksternal. Kalau gue, jujur aja sekedar ke lingkungan internal yang lebih dalam lagi alias teman bermain. Kayak yang sekarang ini mau gue lakuin.

Cinta? Nah ini yang susah. Lupain sejenak soal siapapun yang saat ini sedang berhasil mendapatkan pasangan hidupnya, baik dalam artian yang bercanda (baca: pacaran) maupun yang sedang serius (baca: menikah. Iya lho!). Semua anak antrop UI pasti juga mengalami hal ini, baik yang masih berjuang maupun yang udah lulus. Termasuk diri gue. Bedanya, gue masih dalam tahapan cinta monyet sama frienzoned. Cinta monyet dan friendzoned boleh diringkas jadi jones alais jomblo ngenes *forever alone.

Hmm... Kapan ya gue punya pasangan hidup? Minimal berpacaran aja? Dari dulu ampe sekarang gagal melulu. :"(.
Tapi, di samping gue sedih menerima kabar buruk itu, ada kabar baik sih. Kebetulan gue lagi menyendiri, maka gue bisa bebas. Gue bisa fokus terlebih dahulu untuk menyukseskan diri sendiri. Kalau diri ini udah sukses, gue baru bisa berani membuat anak istri di kemudian hari sukses. Ya enggak?

Mengutip dari kata salah seorang sahabat gue yang bernama Tomank, "Di, lo mesti nunggu sukses dulu. Sekali sukses, lo yang dikejar banyak cewek. Abis itu, tinggal pilih salah satu aja kan (tertawa terbahak2)".

Nice said, best man X"D.

Oke, cukup dengan cerita 'cinta'nya.
Mari kita beralih ke cerita 'pesta'.

Suatu kali gue abis bimbingan skripsi untuk pertama kalinya. Abis itu, gue cukup stres karena perlu direvisi secara total *hah! Nah, setelah itu datanglah teman2 yang gue kenal baik.

Giri, Darsya, Zae, dan Imam menunggu gue di luar dan bertanya mengenai kabar gue. Gue jawab, "Cukup buruk, bro". Semuanya langsung memasang tampang berduka cita.
Hingga Zae bertanya, "Di, boleh main ke rumah lo gak? (tertawa) becanda aja kok, Di.". Lalu, gue minta izin ke nyokap. Alhamdulillah nyokap memperbolehkan.
Gue jawab, "Ini kan udah sore, nginep aja ye!".
Sontak Giri, Darsya, dan Imam menyambut berita tersebut dengan suka cita. Tapi, Zae kemudian membalas, "Eh iya Di, tapi gue ada acara di Bandung. Kapan2 aja ya.".
GUBRAK! Zaenya yang ngajak, Zaenya yang enggak bisa. Oh My God LMFAO X"D.

Kita langsung ke Bintaro. Perjalanan dari Depok menuju Bintaro sebenarnya tidak lama karena sudah ada tol JORR. Tapi - udah jadi rahasia umum, sih - yang bikin lama gak lain dan gak bukan ialah MACET. Kebetulan kita pulang di sore hari, maka kita udah pasti berhadapan dengan orang2 pulang pergi pekerja kantoran yang juga pulang.

Kejadiannya juga enggak banget. Di Lenteng Agung ada banyak angkot yang ngetem dan bikin kemacetan. Di situ juga banyak pejalan kaki yang suka nyebrang mendadak. Terus juga, di jalan tol sore2 rame banget. Terus lagi, masuk Bintaro juga macet parah. Belum lagi ada banyak pengendara sepeda motor yang masuk ke jalur yang enggak bener.

Memang seperti itu ya, lalu lintas yang ada di Jakarta dan sekitarnya? Tidak memanusiakan manusia penggunanya?
Kalau udah kayak gitu, mendingan dalam hati kita menjawab, "Yang waras yang ngalah. Yang brengsek ya artinya enggak waras.".

Akhirnya, kita sampai juga di rumah tepat ketika Adzan Maghrib berkumandang dengan syahdunya.
Setelah kita semua menunaikan sholat, kita langsung main2 di kamar gue. Imam mencoba menawarkan gue untuk install Internet Download Manager. Gue setuju. Dan memang itu berguna banget buat laptop gue. Haha, maklum gue gaptek, gue baru tahu banget kalau itu emang berguna.

Darsya dan Giri langsung meminjam TV kecil yang ada di kamar gue. Mereka menonton anime One Piece sambil terus berkomentar dengan seronok. Giri berkata, "Nami toketnya gede banget.". Darsya dan Imam tertawa, dan gue menjawab sesantun mungkin, "Haha, ya iya... Godaan buat jones.".

Gak lama kemudian kami diminta untuk makan malam bersama2. Makan malam bersama keluarga dan teman di rumah merupakan acara yang paling gue tunggu2. Itu membahagiakan lahir dan batin gue, bro. Menyenangkan sekali dapat melihat teman2 bisa bercengkrama dengan keluarga gue. Padahal latar belakangnya beda2 juga. Giri asli dari Cirebon dan pasti berlatar budaya jalur pantura (!?). Darsya orang Minang yang kebetulan merantau ke Ketapang, Kalimantan Barat. Imam adalah orang Jawa Kebumen yang sudah lama enggak pulang kampung dan berdomisili di Jakarta Timur... Jadilah dia setengah Jawa dan setengah Betawi.
Tiga orang baik2 yang sudah cukup merepresentasikan sebagian Indonesia yang baik2... Mereka semua main ke rumah gue dengan niat yang baik juga. Alhamdulillah wa syukurilah :"D.

Setelah makan malam, kami kembali lagi bermain2 di kamar gue. Gue bertanya ke Imam mengenai situs download PSX, dan dia menjawab dengan sempurna. Gue langsung download Gran Turismo dan berencana untuk main besok pagi. Seperti biasa, Darsya dan Imam sedang sibuk menonton One Piece. Suatu anime yang dari dulu ampe sekarang enggak pernah tamat dan selalu menghadirkan cerita yang unik di tiap detail rute perjalanannya, ya enggak? :D.

Eh, gue enggak kuasa menahan kantuk. Gue minta izin untuk tidur, dan semuanya menjawab, "Enggak masalah Di, santai aja.". Gue tidur dengan cukup pulas.

Paginya, gue langsung main GT di laptop. Pas main Arcade di level easy, gue dapet ranking 1. Eh, pas mainnya di level hard, gue dapet ranking terakhir -,-. Lalu, kami diajak untuk sarapan bersama nyokap karena kebetulan nyokap masih ada di rumah. Setelah itu, kami main2 kembali di kamar gue.

Akhirnya, gue anterin mereka semua ke kampus lagi ada sore hari. Wuih, macetnya juga sama aja, enggak karuan. Emang deh, enggak pagi, enggak siang, enggak sore, hampir setiap saat jalanan yang ada di Jakarta dan sekitarnya selalu aja macet. Solusi utama untuk mengatasinya emang cuma satu: SABAR.

Kami sampai di kampus juga tepat ketika Adzan Maghrib berkumandang. Walah2, benar2 perjalanan yang melelahkan. Kita sementara istirahat dulu di kosannya Giri sambil memakan nasi goreng langganan tiga sahabat itu. Terus, kita jalan2 ke Margonda untuk melihat pameran elektronik. Di situ gue disaranin sama Imam untuk membeli kabel ekstensi untuk joystick.
Lah, tadi mainnya pake apaan? Ya, gue pinjem ke Abang Giri dulu. Hehehe. :D.

Setelah membeli dengan tawar-menawar terlebih dahulu, akhirnya kami pulang ke rumah masing2.

'Hedonisme' kedua gue lakuin lagi di awal2 Februari 2014.
Awalnya, gue ke kosannya Giri untuk bercengkrama dengannya terlebih dahulu.

Giri: Di, lo tahu tempat jualan kondom, ga?

Gue: (kaget) Kondom?

Giri: Iya nih, susah banget nih nyarinya.... (tampangnya mengeluh)

Ini ada apa? Pria asal Cirebon itu kok jauh2 ke Jakarta cuma mau cari kondom??

Gue: ... Iya... Entar pas main ke rumah gue kita ke Bintaro Plaza deh, mampir dulu ke sana. Kali2 aja ada.

Giri: Oke broh...

Gue: ... (mikir keras, abisan gue enggak biasa cari2 barang yang begituan) Seinget2 gue sih, di supermarket juga ada kok. Biasanya dekat tempat2 yang jual eskrim, batre, sama permen karet. Berbagai merek sama rasa juga ada kok...

Tiba2 Giri menyahut!

Giri: BUKAN KONDOM YANG ITU, DI! KONDOM BUAT BUNGKUS HAND PHONE!

GUBRAK!

Gue: Yaelah gue kira buat apaan! Gue kira 'kondom' dalam artian yang literal. Gue heran, lo mau seks bebas ke siapa?? Haduh... Gue baru tahu kalau 'kondom' itu nama lainnya bungkus Hape... -,-

Giri: (tertawa sekencang mungkin).

Setelah itu, Giri berkata, "Di, gue udah DL GT nih. Susah banget!". Gue menjawab, "Hahaha, yang namanya seni game balap emang kayak gitu. Enggak ada serunya kalau enggak pernah kalah atau enggak susah sama sekali. Sini, gue bantuin.".
Gak lama kemudian, Darsya datang. Darsya lalu berkata bahwa Imam sedang ada urusan tertentu di rumahnya, maka dia belum tentu bisa ikut. Darsya juga menawarkan sesuatu, "Eh Di, mau main ke rumahnya Imam, enggak? Kita ngangkot aja".

Sontak gue menjawab, "Ayo! Kapan lagi kalau enggak sekarang?".

Akhirnya, kami naik angkot arah Kp. Rambutan dari Margonda. Kebetulan gue duduk tepat di belakang sang supir. Dan ketika gue iseng2 melihat speedometer dan tachometernya...

SPEEDOMETER DAN TACHOMETERNYA ENGGAK NYALA !!??

Ya Allah... Kenapa manajemen angkutan umum sedemikian buruknya!? Mudah2an para patron dan segenap manajer angkutan umum mau lebih memperhatikan keamanan dan kenyamanan transportasinya, ya... :( bukan apa2, keuntungan juga harus disertai dengan keamanan dan kenyamanan supir maupun penumpangnya dong... :"( .

Akhirnya, kami sampai juga di rumah Imam. Rumah yang bertingkat dua itu menyambut kedatangan kami dengan... Seorang anak perempuan kecil..?
Oh, anak perempuan itu bernama Debi. Dia itu adeknya Imam.
Katanya, "Imam! Di luar ada orang yang minta2 uang!".

HAHAHA, KITA DISANGKA PENGAMEN SAMA TUH BOCAH TOH! X"D.

Imam kemudian menyambut kami dengan muka yang cukup kaget. Rupanya dia enggak nyangka kalau kita mau datang ke rumahnya.
"Ardi?". Katanya masih kebingungan. Gue menjawab seadanya, "Hola. Ya dong, lo kan udah pernah main ke rumah gue. Masa gue gak pernah main ke rumah lo.".

Kita langsung menyapa bapaknya Imam. Beliau baik sekali dan langsung mempersilahkan kami untuk ke atas, main2 ke kamarnya Imam maksudnya.

Setelah itu, kami langsung bercengkrama seenak jidat. Darsya dan Imam terus-terusan mengomentari musik Trance yang sedang didengar oleh Imam di MP3nya itu. Gue sama Imam sendiri bercengkrama mengenai minatur dan die cast Gundam dan otomotif roda empat.

Lama-kelamaan, kami langsung menumpahkan gundah gulana akan... Skripsi - suatu musuh abadi mahasiswa S1 (betul, enggak?).  Kita semua galau. Imam galau ketemu dengan dosen pembimbingnya. Darsya galau sama hubungan dengan dosen pembimbingnya yang terlampau kaku. Gue juga galau mengenai jadwal pertemuan. Sedangkan Giri galau karena dosen pemimbingnya maksain dia terus buat menghadapi deadline tertentu.

Sore akhirnya ditutup dengan bermain Asphalt 8 di Lumia-nya Imam. Setelah puas2 bermain action racing game tersebut, kami kembali ke UI dengan naik angkot.
Sialnya, di angkot gue nemuin... Untungnya bukan copet atau jambret sih... Tapi, seorang pria muda yang dikelilingi dua gadis. Entah benar entah salah, mereka bertiga kayak Three some bikin acara flirting sendiri... Disertai dengan Boso Jowo *Nosara... :"(

Gadis satu: Mas... Angkot itu sempit, ya...

Gadis dua: Iya, panas pula...

Pria: Hehe... Aku waktu itu pernah kok, dapet angkot yang bagus. Yang punya AC, yang punya TV. udah pernah, belum?

Gadis satu sama gadis dua: Ah, belum... Masa sih, mas..?

Pria: Udah dong... Kalau jadi, kalau mas udah bikin angkot, pasti mas kasih AC sama TV nya... (tertawa dan senyum mesum).

Gadis satu sama gadis dua: Aah... Mas bisa aja... (senyum mesum).

GUBRAK !! Gombalnya enggak jelas, tapi cewek2nya tetep aja kegoda! GRRHH, Ya Allah, kasihanilah hambamu yang masih jones ini... Udah jones, nemu pemandangan yang ngenes pula, makin ngenes aja diri gua!! :"(

Fyuh, sampailah kami di kampus kembali. Setelah itu kami langsung menuju ke rumah gue dan berkegiatan seperti biasanya. Main2 aja.

Makan malam bersama keluarga tetap dilakukan. Seperti biasa gue ngantuk duluan, bersamaan waktunya dengan Darsya dan Giri menonton One Piece.

Gue kebangun jam satu malam.
Gue langsung buka laptopnya Giri. Gue bantuin GTnya dia. Belum tamat sih, tapi seenggak2nya dia udah dapet dua mobil bagus sama uang satu juta kredit. Dua mobil bagus itu ialah Nissan Daishin Sylvia dan Ford GT40 LM Race Car.

Besok paginya, gue sama Darsya tanding CTR. Di saat yang bersamaan Giri mengejar setorannya si dosen pemimbing. Siangnya, kami makan siang dan sholat.
Kata Darsya, "Habis makan, duduk.. Ngantuk... Terus tidur, deh! (tertawa)".
Kata gue, "(tertawa terbahak2)... Iya nih.. (duduk santai) Eh... Sob, gue kok ngantuk ya? Gue pengen tidur dulu, ya! Bangunin gue pas Adzan Ashar".

GUBRAK !! X"D.

Bangun dari tidur, gue langsung sholat dan mandi sore. Setelah itu ke kampus untuk mengatar dua sahabat itu. Sesampainya di kampus, kami istirahat dulu di kosannya Giri sambil seperti biasa makan nasi goreng. Gak lama Giri berkata, "Di, Sya, jagain kosan gue dulu ya. Gue mau beli kondom nih. Ke ITC Depok, nih. Cepet kok, enggak lama.".
Kami mengamini permintaannya. Akhirnya, sembari menunggu kami berdua berbincang mengenai lagu dan musik. Gak lama kemudian, Giri datang dengan tangan kosong disertai tampang melas.

Kami bertanya, "Enggak ada barangnya?". Giri menjawab, "Iya... (melas)".

GUBRAK!

Malam menyambut kami dengan riang gembira. Gue dan Darsya akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya gue di rumah, gue tidur dengan pulas. Gue bersyukur, punya teman dan kejadian yang seperti itu. Sebuah memori indah dari kampus UI buat hidup gue. Sebuah kenangan tak tergantikan. Sebuah hedonisme yang baik2 aja, hehehe :"D.

Minggu, 09 Februari 2014

Sekali-kali Hedon: Main Ke Rumah Bayu, Yok

Assalamu'alaikum.
Hai semua, apa kabar? Mudah2an pada sukses semua ya seperti biasa. Dan sampaikan salam sukses ini kepada yang lagi enggak membaca ini juga, jangan lupa ya :D.
Sebelumnya, maaf juga baru ngasih kabar soal tahun baru. Selamat tahun baru 2014. Semoga kita semua sukses. Semoga kita semua semakin cerdas dalam hidup, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Dan semoga... Gue lulus tahun ini... Aamiin. :D

Jadi, apa yang selama ini gue lakuin, tepatnya setelah MPE sudah selesai? Ya, setengah bekerja dan setengah menganggur. Jadilah gue pengacara - pengangguran banyak acara -,-. Kadang gue bekerja buat membantu beberapa adek kelas. Kadang gue bekerja juga buat fokus skripsi. Dan kadang gue bekerja buat mempersiapkan apa-apa yang mesti dipersiapkan buat ke Inggris, Insya Allah tahun depan.

Kadang gue menganggur. Kegiatan menganggur yang gue lakuin gak lain dan enggak bukan ialah bermain bersama teman kampus. Siapapun yang gue temui di kampus - asal gue kenal baik dengan mereka - pasti dengan minimal gue ajak ngobrol. Maksimal gue ajak bermain. Kadang juga diskusi sosial politik budaya. Santai saja sih diskusinya.

Salah satu kegiatan menganggur yang paling gue senangi ialah bermain ke rumah teman, atau mengundang teman main ke rumah gue :D. Menyenangkan sekali.

Pertama-tama, gue diundang buat main ke rumah teman raksasa yang bernama Bayu. Bayu ngajak kita ketemuan di parkiran FISIP jam delapan pagi. Ia menunggu kita dengan memakai mobil raksasanya juga, maksudnya Ford Everest.
Gue menyapanya, sesampainya di parkiran tersebut.

Gue: Amigo, Bayu! XD

Bayu: Haha, Ardi toh. Cie, bawa Avanza.

Gue: Yoi. Nih mobil sekalipun murahan tapi gue isi pake Pertamax lho. Asyik, mobil kayak gini kalau sekalinya dirawat dengan bagus, dipake buat jalan ya bagus juga.

Bayu: Asyik... Kalo gue mah Diesel aja.

Gue: Wah, Diesel ya. Lumayan irit tuh. Eh, btw, ada kegiatan apa, Bay?

Bayu: Ya... Gue lagi siap2 ke Kampung Inggris yang ada di Jawa itu, Di. Lo mau ikut ga? Lo di sana bisa ikut latihan Bahasa Inggris buat persiapan ke Inggris lho. Ke mana sih?

Gue: Brighton County. University of Sussex.

Bayu: Nah...

Gue: Tapi belum yakin juga sih gue. Eh, lo ke sana rencananya kapan?

Bayu: Rencananya... Kira2 akhir Januari sih kalo bisa.

Gue: Bulan depan alias tahun depan ya. Oke, kalo emang gue gak dapet tempat yang pasti buat kursus sama tes Bahasa Inggris ya gue ikut aja ya Bay.

Bayu: Sip. Kabari gue ya. Eh, Giri, Darsya, sama Imam ke mana?

Gue: Katanya tinggal nunggu Imam. Giri sama Darsya udah ada di kos. Imam mau ke kos buat naruhin motor bebeknya dia.

Bayu: Oke. Lanjut yuk ngobrolnya. Eh, btw dosen pembimbing skripsi lo siapa, Di?

Obrolan terus dilanjutkan hingga Imam, Darsya, dan Giri datang ke parkiran FISIP. Gue pergi dulu ke WC, buat pipis. Setelah itu, kita semua berangkat.

Kami mengobrol dengan puas di tengah-tengah perjalanan jauh ini. Imam sama Giri kebetulan sedang berbincang mengenai Hand Phone baru. Darsya dan gue berbincang mengenai Warkop. Dan terkadang gue sama Bayu berbicara mengenai ruwetnya lalu lintas di Jakarta. Kemudian, Bayu menyalakan MP3 di layar radionya dan berkata, "Di... Pasti lo tahu dan suka ini... BGM (Back Ground Music) - nya Ace Combat Zero 'Glacial Skies' sama Chris Daughtry..". Gue menjawab, "Mantap banget! Hey, Daughtry yang American Idol itu ya? Wah gue juga senang banget. Gue sukanya yang 'It's Not Over' bro. Kapan2 masukin aja ke MP3 nya yak...".

Akhirnya kami sampai juga di rumahnya Bayu. Rumahnya yang berada di Rawamangun itu bagus - menurut pandangan gue. Tampilannya begitu klasik tetapi rapi - mirip2 rumah gue. Sebelum masuk ke rumah, kita bertegur sapa terlebih dahulu dengan ayahnya Bayu.

Kamar Bayu. Kamar yang unik. Ada lemari komik, lemari buku pelajaran, dan lemari majalah. Ada beberapa rakitan dan miniatur gundam dan pesawat tempur. Ada juga komputer yang setia menemaninya. Kadang komputer itu digunakan untuk bermain game, kadang juga buat menonton Jack Ass. Hahaha XD.
Tiba2, ayahnya Bayu mengetuk pintu kamar. Ternyata, beliau membawakan kami akan sirup. Baiknya :'D.

Siangnya, kami makan soto. Dengan senyum dan tertawa kecil, gue makan dengan nikmat. Bayu bertanya, "Apa sih Di, senyum2 aja. Baru pertama kali makan soto, ya (tertawa).". Gue menjawab, "Enak aja! Justru itu dia, soto di rumah gue kok mirip banget sama soto di sini.". Imam dan Darsya ternyata menyahut dengan kompak, "Iya, gue juga sama.".
He? Ternyata soto di seluruh Jakarta itu isinya yang beginian2 juga ya. Hahaha, sekalipun isinya sama aja, yang penting rasanya nikmat dan mengenyangkan perut. Fair enough, isn't it? :D

Hingga sorenya, kami akan bersiap menuju ke kampus untuk pulang. Sebelumnya, Bayu bertanya, "Ada apaan lagi ya?". Gue menjawab, "Ada sih satu lagi yang bikin bete hati: judul skripsi. Kirimin ke emailnya Apiz.".
Sontak dia menjawab, "OH IYA! BANTUIN GUE, DI!".
... Tentu saja, gue membantunya dengan sepenuh hati :"D.

Kami akhirnya diantar pulang ke kampus. Dengan kecepatan yang cukup santai di jalan tol - 90 kpj - tiba2 Bayu ditelpon sama ibunya.
"Bay, mama tungguin ya. Yang agak cepat ya.".
Sontak Bayu meninggikan percepatan si Everestnya sebisa mungkin. Dengan tenaga kuda 143 per 5000 RPM, kita semua dibawa olehnya hingga menggapai kecepatan 140 kpj.
Sontak gue berkata pula, "BAY! JANGAN CEPET2 BAY! GUE TRAUMA SAMA KECELAKAAN!!".
Kami tiba di pintu tol keluar secara mendadak. Pintu tol keluar mana gue juga enggak inget, gara2 terlalu terbayangkan dengan kecepatan gila itu. Haduh, mentang2 ibunya Bayu minta cepetan, mentang2 Everest punya tenaga kuda yang berlebih, kita jadinya dibawa cepet juga nih -,-.

Kami akhirnya tiba di jalan. Dengan agak minggir mengikuti angkot yang ngetem, Bayu berkata, "Percaya Di. Nih mobil kalau dibawa 100 kpj kerasa lambat.". Gue menjawab, "Iya, makasih buat pesannya. Daripada mobil gue si Avanza, sekalipun pake Pertamax, kalo dibawa 100 kpj langsung Over-Steering.". Bayu tertawa keras mendengar komentar konyol gue.

"Terima kasih ya Bay. Sampai jumpa dan semoga sukses!". Kami berempat terlebih dahulu singgah di kosnya Giri untuk istirahat. Kami di situ puas2an ngobrol tentang rumahnya Bayu. Hingga akhirnya kami berdebat soal musik.
Oh iya, berbicara soal musik, kami mempunyai kesukaan di genre masing2. Kalau gue biasanya suka sama Nu Jazz sekalipun gue cukup terbuka dengan genre lainnya. Imam suka sama Trance. Darsya suka sama Metal dan Punk Rock. Kalau Giri suka sama Pop.

Darsya: Abang Giri apaan sih. Sukanya sama lagu yang alay2. Kayak ST12, sama Ariel. Apaan tuh!

Giri: Hey, Ariel Noah enggak alay, ya! -,-

Darsya: Haduh, dari dulu kita debat ini mulu... Tapi, gimana industri musik kita enggak berkembang...

Imam: Haha, Darsya serius amat. Santai aja, dengerin nih Trance...

Darsya dan Giri: GAK NGERTII!! -,-

Imam: ???

Gue: Halo semua? Sabar... Jangan berantem...

Gue (lagi): Namanya juga musik. Musik itu soal rasa, soal selera. Masalahnya, rasa dan selera orang maupun kolektif itu beda2. Ciyaelah, gue bijak bener. Masing2 rasa dan selera juga punya kelemahan dan kelebihan masing2. Tinggal gimana kita toleransi ke genre lain aja sih. Kita boleh enggak suka, tapi kita gak boleh benci.

Semua: Hmm...

Darsya: Kalau Kufaku gimana?

Gue: Banyak yang benci Kufaku, ya. Gue kemarin ngobrol ke Damar, katanya Kufaku sebenarnya bisa bagus. Tapi dia banyak salah teknis dan kurang penghayatan. Kalau kedua kesalahan itu enggak terjadi, Insya Allah mereka bisa berkembang.

Darsya: Hahaha, mandek di kesalahan mendasar ya. Kasihan banget.

Gue: Yeah, what a pity. Musik apapun itu asalkan teknis dan penghayatannya maksimal, pasti bagus. No doubt about it, gak diragukan lagi. Gue juga setuju kata si Damar, katanya ketika kedua hal itu sudah maksimal, bukan enggak mungkin kalau penyimaknya bakal mengalami body experience.

Semua: Body experience?

Gue: Hahaha, kita main istilah lagi. Ya maksudnya, ketika jiwa raga kita begitu menghayati musiknya. Nih, yang namanya musik itu pasti seni. Seni itu artinya pesan implisit. Seni itu pasti mau menyampaikan sesuatu secara gak langsung. Kalau suatu lagu mau berbicara tentang kesedihan, out put body experience si penyimaknya adalah keluar air mata.

Semua: Ooh...

Gue: Orang suka meledek satu sama lain karena dia gemas terhadap lagu2 yang enggak bisa membuat dia merasakan body experience di tiap2 liriknya.

Akhirnya, malam telah menanti kehadiran kami. Giri akhirnya menutup pintu kamar kosnya, sedangkan Darsya pulang ke Stasiun. Gue sama Imam pulang ke parkiran dengan motor bebeknya. Gue mengucapkan terima kasih ke Imam karena dia sudah bersedia mengantarkan gue ke parkiran FISIP.

Gue jalan dari kampus jam sembilan malam. Sebuah waktu yang begitu sepi di jalan tol. Gue bisa menikmati gedung2 malam hari dengan damai tanpa kegilaan lalu lintas Jakarta. Akhirnya, gue sampai di rumah dengan kondisi baik tanpa suatu kekurangan apapun.

Minggu, 08 Desember 2013

Sederhana dan Semangat - Mental Dasar untuk Tenaga Pendidik

Sesuai dengan janji di post gue sebelumnya,
gue di tulisan ini mau bercerita sepatah kisah mengenai kesan gue terhadap seorang guru yang pernah mendidik gue. Seorang guru yang tentu saja sangat bermakna dalam kehidupan gue. Seorang guru yang membuat hidup gue bermakna karena beliau selalu mengajarkan kepada gue arti dari kehidupan itu sendiri.
Siapa nama guru itu? Namanya Pak Sunardi. Biasanya dipanggil Pak Nardi.
Kedengarannya seperti nama orang Indonesia yang biasa aja, kan? Kalau lo melihat penampilannya, lo juga pasti juga akan mendapatkan kesimpulan yang sama, lho. Iya, penampilannya biasa aja. Enggak menunjukan kemegahan alias kelebihan harta suatu apapun. Gaya tubuhnya begitu santun. Senyum sapanya begitu ramah.
Dan yang paling penting: di hatinya tersirat keihklasan Atas Nama Yang Ilahi. Itulah yang enggak semua orang bisa lakukan. Termasuk diri gue malah! Yang mana orang itu merupakan anak muridnya sendiri! Oh God please give me a strenght to do it! :"(

Pak Nardi. Waktu itu, gue masih inget banget. Gue pertama kali ketemu dengan beliau ketika gue masih menginjakan diri gue di kelas 1 SMP. Sebuah masa indah nan berkesan (palingan yang enggak bikin berkesan sama sekali itu dikejar2 sama senior pada masa Masa Orientasi Murid, betul? Sama sekali enggak lucu, tuh.).
Gue bertemu dengan beliau ketika gue nyasar di Ruang Guru.
Kenapa gue ke Ruang Guru?
Karena gue mesti minta tanda tangan para guru biar aman pas dikasih lihat sama kakak2 pengurus MOM. God please save me!
Ada seorang pria yang tersenyum santai sembari duduk-duduk di ruang tersebut. Ademnya AC yang ada di ruang itu tidak mampu menyejukan suasana hati gue yang begitu hectic akibat tekanan para senior pengurus MOM. Termasuk senyuman santai nan ramah dari pria tersebut.
Siapa gerangan pria tersebut?
Ya, pasti pria itu adalah salah seorang guru yang lagi aktif mengajar di sini. Terlihat jelas dari pakaiannya yang berbentuk kemeja panjang dan berwarna biru. Dengan memakai pula celana bahan berwarna hitam ditambah sepatu pantofel versi KW. Pria itu masih tersenyum geli nan ramah melihat tingkah laku gue.
"Mau mencari siapa, ya?". Tegur salah seorang pria yang bukan merupakan pria tersebut.
Gue menjawab sekenanya aja, "Iya... Mau cari... Guru...".
Kontan seisi ruangan tersebut disambut nyanyian tawa cetar membahana.
Diri gue begitu malu.
Pria yang sedang duduk santai-santai itu menjawab, "Semua yang ada di sini juga guru, nak!". Tidak lupa dengan meninggalkan senyum geli nan ramahnya yang begitu traumatis di hati gue.
Gue diem aja mendengar komentar tersebut.
Kemudian, pria di sebelahnya bertanya, "Kalau enggak gini aja, mas. Tebak aja siapa nama kami? Gimana? Entar boleh deh kami kasih tanda tangannya.". Sepertinya terlihat jelas bahwa pria di sebelahnya merupakan pria paling ramah saat itu!
Gue menjawab, "Bapak... Bapak itu... Pak Nasikhun, ya?".
Pria ramah tersebut menjawab, "Wah, kok kamu tahu nama saya? Yaudah.. Sini, mana tanda tangannya... Biar saya kasih... Jangan lupa, yang menyapa pertama kali itu namanya Pak Dedi - Guru Sejarah. Kalau yang ada di samping saya nih, yang kerjaannya ketawa ketiwi melulu, namanya Pak Sunardi - Guru Geografi. Ingat-ingat, ya!".
Pria yang kerjaannya senyum-senyum itu bernama Pak Nardi. Gue langsung mencatat hal tersebut secara otomatis di benak. Begitu juga dengan Pak Dedi.
Pak Nardi berkomentar sambil tertawa terbahak-bahak, "Ya Allah! Kok nama saya dikasih tahu sih, Khun? Gimana sih, lo!?".

Seisi ruangan itu kembali lagi diiringi oleh nyanyian tawa yang begitu merdu. Kali ini, gue termasuk di dalam orkestra tawa tersebut. Gue masuk di dalam barisan orkestra tawa bahagia menjadi pemain biola tawa (?). Sebuah orkestra berserajah di dalam hati gue yang tak tergantikan. Sebuah untaian melodi bahagia pengisi kenangan indah duniawi gue yang orang lain bisa aja enggak ngerti atau enggak menganggap bahwa hal tersebut penting bagi hidupnya.

Jadi, namanya Pak Nardi.

Suatu kali di kelas, gue bertanya kepadanya mengenai apa bedanya vertikal dan horizontal. Beliau menjawab dengan begitu ramah. Beliau menjawab dengan ikhlas, tanpa suatu beban apapun.
Suatu kali di kelas yang berbeda harinya, gue bertanya kepadanya mengenai apa yang dimaksud dengan delta. Beliau menjawab dengan begitu santun. Beliau menjawab dengan rasa yang berbahagia.
Hingga suatu kali pernah gue berpikir, "Kenapa Pak Nardi mau-mau aja menjawab pertanyaan gue yang malah kedengerannya begitu konyol? Apakah beliau enggak sama sekali berpikiran bahwa gangguan berupa 'Nih anak murid gue kok ngeganggu banget ya!' bisa aja meledak di benaknya?".

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan jawaban penuh retorika berlandaskan denotatif: Guru adalah makhluk yang ikhlas dalam menjawab kebutuhan murid-muridnya. Para muridnya sedang kebingungan! Mereka sedang mencari arah ke mana mereka akan menuju! Dan hebatnya, mereka sebenarnya enggak usah bingung, karena komandan maupun kompas utama penunjuk arah budayanya ada di... Guru mereka.

Komandan dan kompas utama gue ada di Pak Nardi. Terutama kalau menyangkut soal sekolah dan urusan geografi yang sama sekali enggak gue ngerti.

Pernah suatu kali gue mengeluh. Oke, ini sih urusan yang agak2 berada di luar kelasnya Pak Nardi, sih. Tapi, waktu itu Pak Nardi jadi wali kelas gue. Gue waktu itu ngeluh banget. Teman2 gue ada aja yang usil banget ke gue. Pelajaran juga makin susah pas gue lagi di Kelas 2 SMP. Jadwal remedial alias ngulang ulangan harian makin banyak.
Gue makin ragu untuk terus mempertahankan prestasi gemilang gue pas Kelas 1 SMP: selalu masuk sepuluh besar.
Gue sampaikan keluhan tersebut kepada Pak Nardi.
Apakah beliau menjawabnya dengan tertawa santai seperti biasa?
Tidak.
Ternyata, beliau menjawab dengan penuh perhatian. Diiringi dengan muka empati, beliau menjawab dengan penuh totalitas, "Sabar dan semangat ya, nak! Jangan ragu untuk terus mempertahankan prestasi kamu! Emang sih, cobaan di luar sana banyak. Ada anak2 nakal. Ada jadwal remedial. Tapi yang penting, kamu masih tetap semangat!".
Oke, semangat. Jangan ragu. Jangan menyerah. Maju terus, pantang mundur.

Apa akibatnya? Pesan traumatis tersebut mengimplikasikan kabar berbahagia Atas Nama Yang Ilahi: GUE TETEP BERTAHAN DI RANKING SEPULUH BESAR, SEKALIPUN SERING BANGET REMEDIAL DAN DIJAHILIN SAMA BOCAH2 SEUSIA GUE. Akhirnya, gue akhiri masa pertengahan tersebut dengan... Bahagia lahir batin... :"D

Kemudian, masuklah diri gue ke Kelas 3 SMP. Sebuah panggung di mana gue akan segera meninggalkan sekolah itu. Sekolah yang selalu mengantarkan kenangan indah ke dalam benak gue.

Seperti biasa, di kala itu gue sedang hectic dalam mengurus persiapan Ujian Nasional, Ujian Praktik, Ujian Blok, Ujian Semester, Ujian Sekolah, dan Ujian Masuk SMA.
Banyak juga ya? Banyak banget malahan! Ya, masa terakhir emang bikin pusing pikiran dan lelah hati! -,-.

Di saat yang bersamaan, eh muncul Pak Nardi. Kali ini beliau mau memberikan kepada gue akan sebuah petuah yang penting. Katanya, "Nak, jangan lupa sederhanakan dirimu ketika berjalan di mana pun di dunia ini. Ingat siapa pun yang serba kekurangan. Dan kalau kamu bisa, bantu mereka sebisa kamu aja. Semampunya".

Oh. Pak Nardi, gue akan melakukan hal tersebut sebisa mungkin. Sekali pun gue enggak tahu apa sih nalar utama yang melatar belakangi pentingnya kesederhanaan tersebut.
Mengapa kita harus menyederhanakan diri apabila keadaan kita udah terlanjur mewah? Mengapa pula kita harus menolong orang yang kurang, padahal bisa aja loh dia jadi serba kekurangan karena dianya aja yang males sendiri!
Gue tutup pintu pemikiran kritis itu rapat-rapat di dalam sanubari. Gue biarkan itu, karena gue enggak enak membantah petuah seseorang yang gue hormati baik-baik.
Iya, gue enggak berani nanya ke Pak Nardi karena gue udah terlanjur enggak enak sama beliau. :"(

Gini deh, apa katanya? Sederhanakan diri dengan terus menolong orang yang kurang mampu? Terus laksanakan itu dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga rasa semangat akan terus menggelora dalam sanubari? Oke, baik, laksanakan!

Ada seorang teman baik yang menjadi sahabat gue pada kemudian hari di saat itu. Namanya Arif. Dia itu, kasihan banget. Badannya emang gendut, dia sering banget diledek gendut. Prestasinya emang kebalikan dari diri gue: masuk ke sepuluh besar dari bawah. Jadinya, lengkap pula: dia dikatain 'bego' pula sama teman2nya.
Tanpa mengurangi rasa hormat gue ke dia, gue sampaikan duka cita tersebut dengan apa adanya. Intinya, dia itu kasihan banget, deh.
Enggak ada yang mau menemani dia. Yang ada, dia dimusuhin atas dasar alasan apa pun lah itu.
Dia itu kasihan banget, makanya diri gue yang dirasa mampu buat menolongnya, perlu banget buat menolong dia.
Sesuai dengan anjuran Pak Nardi, gue bantu Arif semampunya. Gue terus mendongkrak apa-apa yang masih membingungkan dirinya. Apabila ada teman2 yang mengejeknya, gue mencoba untuk mempertahankan dirinya. Responsnya? "Ardi kan anak baik, kok nyebelin ya belakangan.". Dasar bocah nakal. Dari situ aja lo ketahuan kan - enggak ngerti apa sih makna 'kebaikan' itu sendiri! Okelah, urusi urusan lo sendiri! -,-.
Hingga akhirnya, Alhamdulillah... Atas Nama Yang Ilahi, di semester pertama gue mendapatkan prestasi yang gemilang: ranking dua! Gimana dengan Arif? Dia dapet ranking di atas sepuluh besar dari bawah! Enggak apa-apa, Rif. Satu demi satu. Tahap demi tahap. Yang penting, lo bisa lolos dari cengkraman naas sepuluh besar dari bawah. Itu prestasi, lho. Enggak semua orang bisa melakukan yang demikian. Selamat! :D

Pak Nardi selaku Wali Kelas tersenyum riang melihat perilaku gue dan Arif. Khusus ke diri gue, beliau berkata apa sih nalar sederhana dan semangat itu sendiri.
Apa katanya! Apa katanya!? Hati gue begitu penasaran, kembali penasaran setelah lama gue melupakan pertanyaan tersebut!

"Inilah. Ketika kamu sederhana, maka kamu akan terus semangat menolong orang - di samping tentu saja menolong diri kamu sendiri. Kalau berhasil dengan sebaik-baiknya, gimana rasanya? Kamu akan mendapatkan dua kebahagiaan: bahagia karena sukses buat diri sendiri, dan bahagia karena membuat orang lain bahagia!".
Ooh..
"Ingat! Enggak semua orang berpikiran seperti itu lho, Di. Orang kan bisa saja mikir, 'Ngapain gue membahagiakan orang lain. Gue enggak punya waktu dan tenaga yang cukup buat bisa melakukan itu!'. Ya, itu sih, karena mereka itu punya mental jangka pendek aja sih. Simple minded.".
Ooh..
"Jadi, selamat dan sukses ya, dalam melakukan kesederhanaan. Terus semangat, karena bisa saja suatu saat nanti kamu akan bisa berbahagia bersama dengan orang lain. Bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai jauh lebih menyenangkan dibandingkan bahagia sendiri. Kalau kamu bahagia sendiri, orang di sekitar kamu bisa kebingungan apalagi bisa iri. Sayang sekali kalau hal itu terjadi, jadi jangan sampai hal itu terjadi, ya.".
Ooh... Lagi-lagi gue cuma bisa bilang "Ooh" ke beliau saat pembagian rapot semester 1 Kelas 3 SMP itu..

Akhirnya, gue berhasil lulus UN dengan hasil yang sangat memuaskan dan masuk ke SMA Alpust 1. Iya, sudah pasti... Sudah pasti gue harus segera melupakan sejenak tentang kenangan gue di masa lalu (baca: gue sama Pak Nardi, terutama) dan terus melihat ke masa depan.
Tapi, apa yang terjadi ketika gue masuk?
Ketika gue masuk lift, ada seorang pria yang sepertinya gue kenal. Pria tersebut menatap gue dengan ramah seperti... Biasanya...?
Pria tersebut bernama... Pak Nardi...?
"Pak Nardi...?". Gue berusaha menenangkan suara gue, tetapi enggak bisa karena sudah terlanjur tercampur dengan ramuan keharuan.
Pria tersebut menjawab, "Saya dipindahtugaskan mengajar di SMA Alpust 1 jadi Guru Sosiologi dan Guru Geografi. Jadi, saya kembali mengajar kamu!". Senyum geli nan ramahnya mekar kembali menyambut kedatangan gue di Alpust 1.
Baru saja gue mau memeluk diri beliau, eh ternyata lift sudah terbuka. Oke, mari sejenak kita lupakan nostalgia dadakan tersebut.
Akhirnya, masuklah diri gue ke masa pertengahan alias Kelas 2 SMA. Kita loncat aja ya, ceritanya.

Ternyata: Pak Nardi jadi wali kelas gue di Kelas 2...


Gue mengeluh kembali. Gue ceritakan kepada beliau bahwa diri gue sempat putus asa karena prestasi di kelas 1 yang lalu sangat sangat buruk. Terburuk sepanjang masa.
Tapi apa katanya?
Kata beliau, "Tetap semangat dan sederhana.".
Lagi-lagi! Apa nalarnya?
Eh, gue lupa. Nalarnya... Karena pasti kita akan berbahagia suatu saat nanti... Bersama dengan orang yang kita cintai.
Kemudian gue bertanya yang lebih kritis lagi, "Pak, kenapa sih cobaan mesti berat-berat?".
Beliau menjawab dengan penuh perhatian, "Nak, Allah enggak akan ngasih ke kita cobaan yang lebih berat daripada kemampuan kita. Kamu masuk ke Alpust 1 ini udah pasti karena Ketetapan dan Keputusan Dari-Nya. Udah pasti karena Takdir Yang Ilahi. Udah pasti karena kamu emang pantas berada di sini. Tinggal satu hal, Allah pengen melihat sejauh mana kamu tetap bisa mempertahankan kesederhanaan dan semangat kamu.".
Oke... Kemudian beliau melanjutkan, "Cobaan kelihatan berat karena... Kamu akan mempersiapkan diri kamu menuju jembatan kebahagiaan yang lebih bagus lagi. Lebih indah lagi. Jadi, semakin besar cobaan kamu, maka hasil kebahagiaan yang akan kamu raih nanti setelahnya akan lebih besar juga, lho!".

Lagi-lagi, gue cuma bisa berkata, "Ooh.".

Di samping perjuangan gue memajukan prestasi, gue juga sempat menolong beberapa teman seperti Azizi, Reyno, Reyhan, Boutros, Andri, dan sebagainya. (mohon maaf kalau ada yang enggak kesebut) Apa dampaknya?
GUE BERHASIL MASUK SEPULUH BESAR DAN RANGKING PERTAMA DITUNDA! :"D (nb: gue enggak jadi ranking satu karena dibalap sama yang dibawah gue. Namanya Danta sama Irham. Mereka berdua seharusnya ranking dua dan tiga. Tapi mereka bisa ngebalap ranking gue karena mereka berhasil masuk ke juara nasional Olimpiade Ekonomi. Well, salute to you all! Kita harus sama2 saling mengakui bahwa tiap2 dari diri kita itu emang bisa menunjukan kualitas tinggi, ya enggak?)

Hingga akhirnya... Menuju ke kelas 3 SMA... Masa terheboh yang pernah gue alami... Malah lebih heboh daripada masa kuliah gue (?).
Suatu kali, ada berbagai kelas intensif yang bisa gue ikuti dibuka. Itu ditujukan buat siapa pun yang merasa butuh buat memperdalam materi yang dikira masih belum dikuasai.
Salah satunya adalah kelas Geografinya Pak Nardi.
Seperti biasa, gue adalah murid yang paling cerewet di kelas itu. Apa pun gue tanya. Mulai dari konsep alam semesta, satelit, bentukan gunung, bentukan awan, hingga kembali berkontemplasi bahwa air putih yang biasa gue minum sebenarnya berasal dari air kencing gue (?).
Tetapi, kelas waktu itu sedang ramai. Ramai dalam artian ribut. Artinya, ramai dalam artian yang enggak bener.
Seisi kelas jenuh. Semua anak pada akhirnya ngobrol. Cuma gue dan beberapa teman seperti Reyno, Ponco, Asa, Atsa, Andri, Disti, Tasya, dan Abang yang serius dan cerewet bertanya dan berkomentar mengenai pelajaran. Pak Nardi mulai ikutan jenuh. Gue terus menyemangati beliau secara implisit.

Hingga akhirnya suatu kali gue bertemu dengan beliau. Papasan aja sih. Tiba2 beliau minta curhat.
What the hell is going on?

Katanya dengan mata yang berbinar-binar, "Di... Cuma kamu... Cuma kamu aja yang terus semangat dan sederhana. Yang lain, enggak bisa. Tahu enggak, saya ngajarin makna sederhana dan semangat enggak cuma ke kamu aja. Tapi ke yang lainnya. Kenapa mereka enggak perhatikan juga?".

"Kenapa mereka mesti ikutan kelas intensif, padahal ujung-ujungnya juga saya dicuekin? Padahal ujung-ujungnya mereka juga ngobrol ke sesamanya juga, enggak mau belajar juga!?".

Gue menjawab dengan keheningan belaka.
Gue pengen banget menjawab, "Karena mereka menganggap bahwa pelajaran tersebut adalah gak penting.". Tapi, tentu aja enggak gue jawab yang demikian. Sekali lagi, karena gue enggak enak. Karena gue hormat.

Kemudian gue menjawab sekenanya, "Pak... Ini cobaan yang berat. Kita harus tetap semangat dan sederhana dalam menjalani cobaan ini. Mudah2an kita bisa berbahagia pada akhirnya.".

Pak Nardi menjawab dengan anggukan disertai dengan isakan... Beliau mengeluarkan air matanya untuk pertama kalinya di hadapan gue. Kemudian, gue menyampaikan sampai jumpa kepadanya,

Dan... Tanpa gue sadari... Aliran air mata serta-merta membasahi pipi gue yang begitu kecil ini... Gue juga ikutan menangis terharu di tengah kegalauan yang amat sangat ini...

Hasil UN akhirnya diumumkan. Ya Allah, Inna lillahi, rata2 mata pelajaran yang paling rendah jatuh di Geografi! :"(
Gue sendiri dapet nilai 54. Emang sih, buruk amat.
Setelah kita dapat berita, ternyata SKL (Standar Kompetensi Lulus - jadi itu kayak kisi2 materi yang akan diujikan di UN) yang didapatkan di SMA Alpust 1 khusus Geografi ternyata enggak sesuai dengan yang dijanjikan oleh Kemendiknas! Dasar politik pendidikan yang begitu kotor! Berani2nya kesalahan struktural koruptif tersebut menghancurkan... Happy ending yang akan gue dan Pak Nardi jalani... :"(

Reyhan kemudian berkata, "Di. Pak Nardi sekarang lagi nangis. Menangis karena menyesali perbuatannya yang enggak begitu kompeten dalam mengurus kita2. Katanya, 'Gara2 saya, nilai kalian pada jelek!'...".

Gue membalas rentetan kejadian naas tersebut dengan termenung. Ya Allah, seriously, what the hell is going on, again and again!?

Gue akhirnya kuliah. Gue jalani kuliah dengan tetap berlandaskan kepada kesederhanaan dan semangat Atas Nama Yang Ilahi. Berbagai cobaan terus datang. Mulai dari Ospek Antrop yang enggak jelas sama sekali, ada beberapa temen yang resek2 juga (termasuk Tango, malah yang paling resek emang si Tango, sih), hingga berbagai mata kuliah yang susah (apalagi Teori Antropologi!!!).

Tapi, semua itu terus gue jalani. Terus, dengan sabar.
Kemudian, gue dapet nilai yang bagus. Alhamdulillah.
Hingga akhirnya, gue menjanjikan diri gue untuk bertemu dengan SMA Alpust 1 lagi. Saat itu, gue sih enggak berniat secara pasti mau ketemu dengan siapa-siapanya. Bebas2 aja sih.
Seperti biasa, gue naik ke lift yang udah lama enggak gue temui itu... Dan lift itu terbuka...

Ada sesosok pria yang sepertinya gue kenal menunggu terbukanya lift yang gue lagi tumpangi ini. Senyumnya begitu ramah dan menunjukan implikasi canda dan tawa setelahnya. Penampilannya seperti seorang tenaga pendidik sejati.
Seperti biasa?
Seperti biasa!?

"Pak Nardi!" - sontak gue langsung menyahut keras-keras!

Pak Nardi langsung menyambut diri gue dengan pelukan hangat. Bagaikan pelukan seorang ayah kepada anak lelaki satu-satunya.
(nb: dan kebetulan juga kan, gue juga enggak punya bokap dalam artian yang normatif. You know what I mean-lah, LMFAO. Bokap gue bukan orang yang bener alias orang yang enggak mendidik).

Pelukan hangat berjiwa nostalgis tersebut diakhiri dengan sambutan dan perjumpaan,

"Nilai kamu tetap bagus, karena kamu terus semangat dan sederhana. Orang2 yang kamu cintai selalu mendukung kamu, karena kamu terus semangat dan sederhana. Intinya, selamat dan sukses, jangan lupa berbahagia dengan orang yang kamu cintai. Satu lagi, oh iya, maaf... Saya mau ada urusan dulu ya, di kantin bawah. Saya mau beli makanan, habisan laper, sih! Hahahah!".

Pak Nardi masuk ke lift tersebut dan saya kembali tertegun... Kali ini ketegunan tersebut enggak dilandasi dengan kegalauan, tapi dilandasi dengan orkestra keharuan.

'Ayah kandung' gue itu berkata secara implisit, "Sederhana dan Semangat menjadi mental utama bagi seorang peneliti, pendidik, maupun cendekiawan! Hasil usaha itu emang enggak selalu happy ending sih, tapi suatu saat pasti bakal jadi happy ending!". :"D

Senin, 02 Desember 2013

Tenaga Pendidik: Tokoh Lain yang Membakar Semangat

Kali ini, gue mau berbicara mengenai tenaga pendidik. Apa yang berharga dari mereka. Apa yang bisa kita pandang dari mereka. Tentu saja, pandangan yang gue maksudkan itu sifatnya positif.

Sekaligus, gue mengenang dua hari yang penting: Pertama-tama, yaitu hari wafatnya Prof. Dr. James Danandjaja selaku guru besar Antropologi yang seringkali berkecimpung di bidang antropologi psikologi dan folklor. Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia Di Sisi-Nya di akhirat. Aamiin.

Hari kedua yang gue maksudkan ialah tepat di tanggal 25 November yang lalu. Mohon maaf gue baru bisa nulis sekarang karena gue lagi galau kemarin2. Ditambah sibuk. Jadinya galau plus sibuk. Kembali lagi pada tanggal 25 November, hari apa itu? Tepat, Hari Guru Nasional.

Di Hari Guru Nasional itu, jujur aja gue enggak memperingatinya lewat facebook maupun yang lainnya. Begitu juga dengan berita duka wafatnya Prof James. Artinya, dalam tulisan ini izinkan gue mengenang kedua hari itu.

Mengapa mesti gue kenang? Memangnya sedih banget ya, ceritanya? Bisa dikatakan, sedih dalam artian terharu. Gue begitu bangga akan kehadiran beliau sekalian yang telah mendidik diri gue dengan berbagai kerepotan yang mereka alami. Ada dan tiadanya beliau sekalian tetap saja terkenang di dalam hati nurani, terbayang di dalam benak, dan bisa saja dialirkan melalui air mata yang mengalir secara tidak sengaja - membanjiri pipi gue yang begitu kecil ini.

Bayangin aja, memang sih gue enggak pernah diajar secara langsung oleh Prof. James. Tapi, gue pernah membaca - bahkan menyelesaikan buku yang pernah beliau tulis tentang folklor Indonesia. Dengan tulisannya yang mengalir dan menawan itu, beliau mampu membuat gue membaca buku (yang padahal) ilmiah itu dengan begitu mengalir. Gue bahagia karena ilmu gue makin kaya. Dan gue bahagia karena gue banyak tertawa sama tulisannya. Sebenernya, bukan tulisannya yang ngelawak, tapi ada beberapa budaya tertentu yang tertulis di situ mampu buat bikin gue ketawa.

Begitu juga dengan berbagai Prof yang lain. Beliau sekalian - entah masih hidup maupun sudah wafat - tetap saja demikian simpulannya. Ada dan tiada beliau sekalian tetap saja membuat diri gue terharu. Ucapan terima kasih yang paling bermanfaat bagi beliau sekalian ialah satu hal: kontribusi bagi masyarakat2 di Indonesai lewat ilmu yang pernah diajarkannya ke diri gue.

Sekalipun gue membingungkan satu hal: akankah diri gue mampu buat berkontribusi dalam hal tersebut? Apakah usaha gue udah cukup, atau mesti digenjot lagi? Apakah yang harus gue lakukan ketika badan ini terlalu lelah dalam mengemban amanat tersebut? Apakah gue harus nyerah atau rehat sementara terlebih dahulu?

Dan pertanyaan yang paling bikin hati galau: apakah gue suatu saat bisa menggantikan beliau sekalian menjadi Profesor? Tentu saja, yang enggak main2 alias berkualitas tinggi. Yang berguna bagi bangsa dan Negara Indonesia? :"(

Termasuk pula untuk dosen yang pernah ngajarin gue. Gue enggak pilih kasih. Betapapun reseknya beliau sekalian terhadap diri gue (baca: udah ngasih tugas banyak, susah pula, abis dikerjain malah diledek gara2 hasilnya kurang kritis), dan betapapun baiknya mereka pula (baca: jarang ngasih tugas, sekalinya ngasih tugas seisi kelas dipukul rata dapet A), gue tetap menghargainya. Toh, beliau sekalian juga mendidik gue. Artinya, bayaran kuliah selama ini enggak sia2. Enggak, bukan maksudnya itu. Artinya, kedatangan gue di kampus enggak sia2. Kedatangan diri gue di kampus harus memperkaya ilmu pengetahuan di otak. Mumpung masih muda, jiwa menantang ilmu mesti terus digenjot (baca: udah tua nanti belum tentu cara mikirnya kayak gitu!).

Dan pertanyaan yang paling bikin hati galau: apakah gue bisa suatu saat meneruskan jejak beliau sekalian dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi di Indonesia? Kalau enggak, kenapa gue mesti jadi kuli pikir dan kuli ajar? Apakah kompetensi diri gue mampu dikenang oleh para mahasiswa yang kelak akan gue ajari? :"(

Termasuk pula untuk guru yang pernah ngajarin gue. Kalau soal guru, beliau mah jauh lebih sabar daripada dosen dan Profesor. Percaya deh. Kerjaan gue di kelas pas sekolah dulu itu aneh2: suka ngobrol, suka tidur di kelas, dan sekalinya serius memperhatikan guru - gue bakalan nanya yang aneh2. Nanya yang aneh2 baik dalam artian kritis maupun dalam artian yang literal. Apa buktinya? Respons teman2 sekelas setelah mendengar pertanyaan gue pasti cuma dua: kalau enggak tepuk tangan karena menghargai pertanyaan kritis gue, kalau enggak KETAWA TERBAHAK2 karena menganggap bahwa pertanyaan gue emang nyampah banget. Tapi, guru sejati yang memahami gue pasti menasihati sekelas dengan berkata, "Harap tenang semua. Jangan menertawakan pertanyaannya Ardi. Pertanyaannya bagus ini. Oke, jadi begini ya Ardi, bla bla bla". Dan sekelas pun sunyi setelah hingar bingar sesaat tadi, bahkan biang keributan (baca: geng anak nakal di kelas, yang jadi promotor penghinaan diri gue yang tadi itu) juga bakalan bungkam seribu bahasa karena nasihatnya yang santun tersebut. Karena jawaban itulah, maka diri gue begitu terharu dan semakin bisa untuk menyerap ilmu di hari itu.
Kelak ilmu itu akan berguna buat diri gue di masa depan. Enggak. Gak sekedar berguna, tapi SANGAT BERGUNA - pada kenyataannya. :"D

Dan pertanyaan yang paling bikin hati gue galau: apakah gue bisa suatu saat meneruskan ajaran2 kebaikan dan kebajikan a la beliau sekalian? Karena, ada sebuah hal yang mengganjal perasaan gue: ternyata, diri gue ini bisa baik ke orang lain (baca: sering nolongin teman, sabar ketika kekacauan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya merajalela - karena orang lain gak bakalan sabar tapi diri gue tetep aja sabar tuh, dan berbakti kepada keluarga terutama kepada orang tua dan kakak2, dan lain2 pokoknya yang baik2 dan bajik2) karena beliau sekalian telah memberikan tips2 mengenai kebaikan dan kebajikan? Dari yang mendasar hingga yang kompleks. Dari yang gampang ampe bikin pusing, bikin sakit hati, bikin muntah, berak, dan diare *eh kok gak nyambung. :"(

Termasuk pula untuk guru les privat dan kakak2 mentor pesantren kilat di Diklat al-Azhar, Cigombong yang pernah ngajarin gue dari SD ampe SMA. Lho? Iya, mesti! Beliau sekalian enggak cuma mendidik diri gue dalam ilmu pengetahuan di kelas, tapi juga di luar itu. Sekali lagi, mereka ngajarin gue yang baik2 kok. Gue sebutin aja deh siapa namanya (karena kan dikit): Kak Yon (guru dari kelas 6 SD ampe 1 SMP), Kak Tomo (guru dari kelas 2 SMP ampe 3 SMP), Kak Cholis (guru dari kelas 3 SMP ampe 1 SMA), Kak Maruf (guru dari kelas 2 SMA ampe 3 SMA), Kak Adim dan Kak Dedi sebagai tenaga pengganti, Kak Rani (guru di kelas 3 SMA khusus ngajarin bahasa Inggris gue yang bloonnya minta ampun), dan berbagai guru BTA Alpust 1 persiapan SIMAK dan UN 2010 seperti Kak Eros SP dan Kak Yudha VBT dkk. Maaf ya, gue lupa namanya satu satu. Tapi, gue jamin kok kalau gue inget banget sama mukanya! Begitu juga dengan berbagai guru pesantren kilat kayak Kang Jay dkk. XD

Kak Yon... Pas gue SD, gue itu pemales banget... Kak Yon selalu membangkitkan diri gue agar senantiasa berpikiran kritis dan enggak boleh nyerah...
Kak Tomo... Pas gue SMP gue itu suka kurang ajar, suka enggak bisa mengendalikan diri... Gue senang ketika gue terus diingati berbagai hal seperti "Ke masjid jangan pake celana pendek, karena kan tujuannya nutup aurat - malu sama Allah Swt dong. Ngomong ke orang lain harus natep muka, biar sopan.".
Kak Cholis, pas gue SMA prestasi gue nurun drastis. Tapi, beliau selalu menyemangati gue. Katanya, "Jangan ampe nilai merah yang berlimpah bikin Ardi nyerah dalam menuntut ilmu atas Nama-Nya!".
Kak Maruf, pas gue SMA gue suka kerepotan luar biasa ngadepin soal akuntansi. Nyebelin banget, mau seberapa gedenya angka yang muncul, kiri dan kanan mesti seimbang. Kalo enggak, nanti dianggap korupsi! Tapi, beliau selalu sabar dan telaten dalam menyampaikan tips ke gue gimana caranya buat nyeimbangin neraca dagang. Satu lagi, ada kata2 dari beliau yang hebat, "Jangan pernah nyerah nuntut ilmu. Terus, bagaikan ilmu padi, makin merunduk makin berisi. Orang yang punya banyak ilmu tapi suka ngesok, mendingan jangan ditiru. Jadilah diri sendiri yang bagaikan ilmu padi. Sehingga, suatu sata orang minta tolong ke kamu, kamu pasti nolong mereka secara ikhlas. Karena, sembari menolong mereka, kamu juga sebenarnya sekalian menuntut ilmu.".
Kakak2 pengganti yang selalu sabar dan setia menemani diri gue di kala gue lagi galau ngerjain matematika, fisika, dan kima... Tiga pelajaran yang terus bikin diri gue hampir kehilangan jiwa. Kalo bener2 kehilangan, malah sakit jiwa, kan? *!?
Kak Rani... Di saat gue lagi galau UN Bahasa Inggris dan improvisasi nilai, karenanya gue bisa meraih angka 80 - ingat, sebelum2nya gue bahkan kesusahan lho kalau mau dapet nilai 60!
Kakak2 di BTA Alpust 1... Dengan gaya2nya yang santai tapi gak ngesok alias rendah hati, selalu menyemangati dan membimbing diri gue yang lagi galau soal UN dan SIMAK... Hingga akhirnya gue keterima lewat jalur SIMAK dan lulus UN... Katanya apa? "Jangan lupa makan2 alias traktir2. Hahaha!". Gubrak! Apaan sih, kak XD.
Dan pada akhirnya, gue juga mengenang kakak2 di diklat al-Azhar. Pesan utama yang hadir di benak dan nurani gue ialah: jangan takut dan selalu berbakti kepada orang tua. Pesan yang gampang diingat, tapi susah buat dijalani... Tapi juga: akan begitu berharga buat hidup kan kalau kedua itu bisa kita jalani, ya enggak? :D

Termasuk pula untuk para guru muda itu, gue jadi mau nawarin pertanyaan yang bikin diri ini galau: apakah diri gue akan bisa mewarisi semangat pendidikan dari para senior yang berjiwa muda - bahkan lebih muda jiwanya dari diri gue? Mereka selalu menyemangati diri gue. Bahwa, yang namanya pemuda Indonesia itu enggak selalu bisa dikaitkan dengan kedurhakaannya terhadap kedua orang tuanya, hedonisme yang akut dan selalu menghabiskan harta kedua orang tuanya, taruwan antar pelajar, senioritas, dan berbagai konsep perpeloncoan lainnya, lho. Pemuda Indonesia juga bisa bebas berkreasi dan selalu cakap dalam menunjukan prestasinya. Untuk menghormati para jasa pahlawan di Sumpah Pemuda (bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa nasional), pemuda bisa menjadi hebat di mata dunia. Gimana? Para guru muda itu telah memberikan gue teladan2 yang kayak gitu. Jadi, akankah gue menjadi termasuk ke dalam dunia pemuda Indonesia yang begitu romantis tersebut? :"(

Terima kasih gue ucapkan kepada semua tenaga pendidik. Kalau kata lagu mungkin cuma 'sebatas' di lirik 'Terima kasih... Kuucapkan.. Pada guruku.." - ternyata, terima kasih gue enggak terbatas di Guru sekolah, tapi berbagai tenaga pendidik lain yang udah capek2nya mendidik gue.

Ada sebuah kisah di post berikutnya mengenai salah seorang guru gue. Seorang guru yang selalu bikin gue terharu. Sekali lagi, ada dan tiadanya beliau tetap mampu membuat diri gue begitu traumatis mengenangnya. Selamat membaca, bagi yang membaca ini. Dan bagi yang belum membaca ini, bahkan tidak berniat sama sekali, selamat menunaikan aktivitas seperti biasanya. Karena gue enggak menghujat hal itu: semoga - seperti biasa - kalian semua sukses - baik yang membaca maupun yang tidak membaca ini. :D