Sesuai dengan janji di post gue sebelumnya,
gue di tulisan ini mau bercerita sepatah kisah mengenai kesan gue terhadap seorang guru yang pernah mendidik gue. Seorang guru yang tentu saja sangat bermakna dalam kehidupan gue. Seorang guru yang membuat hidup gue bermakna karena beliau selalu mengajarkan kepada gue arti dari kehidupan itu sendiri.
Siapa nama guru itu? Namanya Pak Sunardi. Biasanya dipanggil Pak Nardi.
Kedengarannya seperti nama orang Indonesia yang biasa aja, kan? Kalau lo melihat penampilannya, lo juga pasti juga akan mendapatkan kesimpulan yang sama, lho. Iya, penampilannya biasa aja. Enggak menunjukan kemegahan alias kelebihan harta suatu apapun. Gaya tubuhnya begitu santun. Senyum sapanya begitu ramah.
Dan yang paling penting: di hatinya tersirat keihklasan Atas Nama Yang Ilahi. Itulah yang enggak semua orang bisa lakukan. Termasuk diri gue malah! Yang mana orang itu merupakan anak muridnya sendiri! Oh God please give me a strenght to do it! :"(
Pak Nardi. Waktu itu, gue masih inget banget. Gue pertama kali ketemu dengan beliau ketika gue masih menginjakan diri gue di kelas 1 SMP. Sebuah masa indah nan berkesan (palingan yang enggak bikin berkesan sama sekali itu dikejar2 sama senior pada masa Masa Orientasi Murid, betul? Sama sekali enggak lucu, tuh.).
Gue bertemu dengan beliau ketika gue nyasar di Ruang Guru.
Kenapa gue ke Ruang Guru?
Karena gue mesti minta tanda tangan para guru biar aman pas dikasih lihat sama kakak2 pengurus MOM. God please save me!
Ada seorang pria yang tersenyum santai sembari duduk-duduk di ruang tersebut. Ademnya AC yang ada di ruang itu tidak mampu menyejukan suasana hati gue yang begitu hectic akibat tekanan para senior pengurus MOM. Termasuk senyuman santai nan ramah dari pria tersebut.
Siapa gerangan pria tersebut?
Ya, pasti pria itu adalah salah seorang guru yang lagi aktif mengajar di sini. Terlihat jelas dari pakaiannya yang berbentuk kemeja panjang dan berwarna biru. Dengan memakai pula celana bahan berwarna hitam ditambah sepatu pantofel versi KW. Pria itu masih tersenyum geli nan ramah melihat tingkah laku gue.
"Mau mencari siapa, ya?". Tegur salah seorang pria yang bukan merupakan pria tersebut.
Gue menjawab sekenanya aja, "Iya... Mau cari... Guru...".
Kontan seisi ruangan tersebut disambut nyanyian tawa cetar membahana.
Diri gue begitu malu.
Pria yang sedang duduk santai-santai itu menjawab, "Semua yang ada di sini juga guru, nak!". Tidak lupa dengan meninggalkan senyum geli nan ramahnya yang begitu traumatis di hati gue.
Gue diem aja mendengar komentar tersebut.
Kemudian, pria di sebelahnya bertanya, "Kalau enggak gini aja, mas. Tebak aja siapa nama kami? Gimana? Entar boleh deh kami kasih tanda tangannya.". Sepertinya terlihat jelas bahwa pria di sebelahnya merupakan pria paling ramah saat itu!
Gue menjawab, "Bapak... Bapak itu... Pak Nasikhun, ya?".
Pria ramah tersebut menjawab, "Wah, kok kamu tahu nama saya? Yaudah.. Sini, mana tanda tangannya... Biar saya kasih... Jangan lupa, yang menyapa pertama kali itu namanya Pak Dedi - Guru Sejarah. Kalau yang ada di samping saya nih, yang kerjaannya ketawa ketiwi melulu, namanya Pak Sunardi - Guru Geografi. Ingat-ingat, ya!".
Pria yang kerjaannya senyum-senyum itu bernama Pak Nardi. Gue langsung mencatat hal tersebut secara otomatis di benak. Begitu juga dengan Pak Dedi.
Pak Nardi berkomentar sambil tertawa terbahak-bahak, "Ya Allah! Kok nama saya dikasih tahu sih, Khun? Gimana sih, lo!?".
Seisi ruangan itu kembali lagi diiringi oleh nyanyian tawa yang begitu merdu. Kali ini, gue termasuk di dalam orkestra tawa tersebut. Gue masuk di dalam barisan orkestra tawa bahagia menjadi pemain biola tawa (?). Sebuah orkestra berserajah di dalam hati gue yang tak tergantikan. Sebuah untaian melodi bahagia pengisi kenangan indah duniawi gue yang orang lain bisa aja enggak ngerti atau enggak menganggap bahwa hal tersebut penting bagi hidupnya.
Jadi, namanya Pak Nardi.
Suatu kali di kelas, gue bertanya kepadanya mengenai apa bedanya vertikal dan horizontal. Beliau menjawab dengan begitu ramah. Beliau menjawab dengan ikhlas, tanpa suatu beban apapun.
Suatu kali di kelas yang berbeda harinya, gue bertanya kepadanya mengenai apa yang dimaksud dengan delta. Beliau menjawab dengan begitu santun. Beliau menjawab dengan rasa yang berbahagia.
Hingga suatu kali pernah gue berpikir, "Kenapa Pak Nardi mau-mau aja menjawab pertanyaan gue yang malah kedengerannya begitu konyol? Apakah beliau enggak sama sekali berpikiran bahwa gangguan berupa 'Nih anak murid gue kok ngeganggu banget ya!' bisa aja meledak di benaknya?".
Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan jawaban penuh retorika berlandaskan denotatif: Guru adalah makhluk yang ikhlas dalam menjawab kebutuhan murid-muridnya. Para muridnya sedang kebingungan! Mereka sedang mencari arah ke mana mereka akan menuju! Dan hebatnya, mereka sebenarnya enggak usah bingung, karena komandan maupun kompas utama penunjuk arah budayanya ada di... Guru mereka.
Komandan dan kompas utama gue ada di Pak Nardi. Terutama kalau menyangkut soal sekolah dan urusan geografi yang sama sekali enggak gue ngerti.
Pernah suatu kali gue mengeluh. Oke, ini sih urusan yang agak2 berada di luar kelasnya Pak Nardi, sih. Tapi, waktu itu Pak Nardi jadi wali kelas gue. Gue waktu itu ngeluh banget. Teman2 gue ada aja yang usil banget ke gue. Pelajaran juga makin susah pas gue lagi di Kelas 2 SMP. Jadwal remedial alias ngulang ulangan harian makin banyak.
Gue makin ragu untuk terus mempertahankan prestasi gemilang gue pas Kelas 1 SMP: selalu masuk sepuluh besar.
Gue sampaikan keluhan tersebut kepada Pak Nardi.
Apakah beliau menjawabnya dengan tertawa santai seperti biasa?
Tidak.
Ternyata, beliau menjawab dengan penuh perhatian. Diiringi dengan muka empati, beliau menjawab dengan penuh totalitas, "Sabar dan semangat ya, nak! Jangan ragu untuk terus mempertahankan prestasi kamu! Emang sih, cobaan di luar sana banyak. Ada anak2 nakal. Ada jadwal remedial. Tapi yang penting, kamu masih tetap semangat!".
Oke, semangat. Jangan ragu. Jangan menyerah. Maju terus, pantang mundur.
Apa akibatnya? Pesan traumatis tersebut mengimplikasikan kabar berbahagia Atas Nama Yang Ilahi: GUE TETEP BERTAHAN DI RANKING SEPULUH BESAR, SEKALIPUN SERING BANGET REMEDIAL DAN DIJAHILIN SAMA BOCAH2 SEUSIA GUE. Akhirnya, gue akhiri masa pertengahan tersebut dengan... Bahagia lahir batin... :"D
Kemudian, masuklah diri gue ke Kelas 3 SMP. Sebuah panggung di mana gue akan segera meninggalkan sekolah itu. Sekolah yang selalu mengantarkan kenangan indah ke dalam benak gue.
Seperti biasa, di kala itu gue sedang hectic dalam mengurus persiapan Ujian Nasional, Ujian Praktik, Ujian Blok, Ujian Semester, Ujian Sekolah, dan Ujian Masuk SMA.
Banyak juga ya? Banyak banget malahan! Ya, masa terakhir emang bikin pusing pikiran dan lelah hati! -,-.
Di saat yang bersamaan, eh muncul Pak Nardi. Kali ini beliau mau memberikan kepada gue akan sebuah petuah yang penting. Katanya, "Nak, jangan lupa sederhanakan dirimu ketika berjalan di mana pun di dunia ini. Ingat siapa pun yang serba kekurangan. Dan kalau kamu bisa, bantu mereka sebisa kamu aja. Semampunya".
Oh. Pak Nardi, gue akan melakukan hal tersebut sebisa mungkin. Sekali pun gue enggak tahu apa sih nalar utama yang melatar belakangi pentingnya kesederhanaan tersebut.
Mengapa kita harus menyederhanakan diri apabila keadaan kita udah terlanjur mewah? Mengapa pula kita harus menolong orang yang kurang, padahal bisa aja loh dia jadi serba kekurangan karena dianya aja yang males sendiri!
Gue tutup pintu pemikiran kritis itu rapat-rapat di dalam sanubari. Gue biarkan itu, karena gue enggak enak membantah petuah seseorang yang gue hormati baik-baik.
Iya, gue enggak berani nanya ke Pak Nardi karena gue udah terlanjur enggak enak sama beliau. :"(
Gini deh, apa katanya? Sederhanakan diri dengan terus menolong orang yang kurang mampu? Terus laksanakan itu dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga rasa semangat akan terus menggelora dalam sanubari? Oke, baik, laksanakan!
Ada seorang teman baik yang menjadi sahabat gue pada kemudian hari di saat itu. Namanya Arif. Dia itu, kasihan banget. Badannya emang gendut, dia sering banget diledek gendut. Prestasinya emang kebalikan dari diri gue: masuk ke sepuluh besar dari bawah. Jadinya, lengkap pula: dia dikatain 'bego' pula sama teman2nya.
Tanpa mengurangi rasa hormat gue ke dia, gue sampaikan duka cita tersebut dengan apa adanya. Intinya, dia itu kasihan banget, deh.
Enggak ada yang mau menemani dia. Yang ada, dia dimusuhin atas dasar alasan apa pun lah itu.
Dia itu kasihan banget, makanya diri gue yang dirasa mampu buat menolongnya, perlu banget buat menolong dia.
Sesuai dengan anjuran Pak Nardi, gue bantu Arif semampunya. Gue terus mendongkrak apa-apa yang masih membingungkan dirinya. Apabila ada teman2 yang mengejeknya, gue mencoba untuk mempertahankan dirinya. Responsnya? "Ardi kan anak baik, kok nyebelin ya belakangan.". Dasar bocah nakal. Dari situ aja lo ketahuan kan - enggak ngerti apa sih makna 'kebaikan' itu sendiri! Okelah, urusi urusan lo sendiri! -,-.
Hingga akhirnya, Alhamdulillah... Atas Nama Yang Ilahi, di semester pertama gue mendapatkan prestasi yang gemilang: ranking dua! Gimana dengan Arif? Dia dapet ranking di atas sepuluh besar dari bawah! Enggak apa-apa, Rif. Satu demi satu. Tahap demi tahap. Yang penting, lo bisa lolos dari cengkraman naas sepuluh besar dari bawah. Itu prestasi, lho. Enggak semua orang bisa melakukan yang demikian. Selamat! :D
Pak Nardi selaku Wali Kelas tersenyum riang melihat perilaku gue dan Arif. Khusus ke diri gue, beliau berkata apa sih nalar sederhana dan semangat itu sendiri.
Apa katanya! Apa katanya!? Hati gue begitu penasaran, kembali penasaran setelah lama gue melupakan pertanyaan tersebut!
"Inilah. Ketika kamu sederhana, maka kamu akan terus semangat menolong orang - di samping tentu saja menolong diri kamu sendiri. Kalau berhasil dengan sebaik-baiknya, gimana rasanya? Kamu akan mendapatkan dua kebahagiaan: bahagia karena sukses buat diri sendiri, dan bahagia karena membuat orang lain bahagia!".
Ooh..
"Ingat! Enggak semua orang berpikiran seperti itu lho, Di. Orang kan bisa saja mikir, 'Ngapain gue membahagiakan orang lain. Gue enggak punya waktu dan tenaga yang cukup buat bisa melakukan itu!'. Ya, itu sih, karena mereka itu punya mental jangka pendek aja sih. Simple minded.".
Ooh..
"Jadi, selamat dan sukses ya, dalam melakukan kesederhanaan. Terus semangat, karena bisa saja suatu saat nanti kamu akan bisa berbahagia bersama dengan orang lain. Bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai jauh lebih menyenangkan dibandingkan bahagia sendiri. Kalau kamu bahagia sendiri, orang di sekitar kamu bisa kebingungan apalagi bisa iri. Sayang sekali kalau hal itu terjadi, jadi jangan sampai hal itu terjadi, ya.".
Ooh... Lagi-lagi gue cuma bisa bilang "Ooh" ke beliau saat pembagian rapot semester 1 Kelas 3 SMP itu..
Akhirnya, gue berhasil lulus UN dengan hasil yang sangat memuaskan dan masuk ke SMA Alpust 1. Iya, sudah pasti... Sudah pasti gue harus segera melupakan sejenak tentang kenangan gue di masa lalu (baca: gue sama Pak Nardi, terutama) dan terus melihat ke masa depan.
Tapi, apa yang terjadi ketika gue masuk?
Ketika gue masuk lift, ada seorang pria yang sepertinya gue kenal. Pria tersebut menatap gue dengan ramah seperti... Biasanya...?
Pria tersebut bernama... Pak Nardi...?
"Pak Nardi...?". Gue berusaha menenangkan suara gue, tetapi enggak bisa karena sudah terlanjur tercampur dengan ramuan keharuan.
Pria tersebut menjawab, "Saya dipindahtugaskan mengajar di SMA Alpust 1 jadi Guru Sosiologi dan Guru Geografi. Jadi, saya kembali mengajar kamu!". Senyum geli nan ramahnya mekar kembali menyambut kedatangan gue di Alpust 1.
Baru saja gue mau memeluk diri beliau, eh ternyata lift sudah terbuka. Oke, mari sejenak kita lupakan nostalgia dadakan tersebut.
Akhirnya, masuklah diri gue ke masa pertengahan alias Kelas 2 SMA. Kita loncat aja ya, ceritanya.
Ternyata: Pak Nardi jadi wali kelas gue di Kelas 2...
Gue mengeluh kembali. Gue ceritakan kepada beliau bahwa diri gue sempat putus asa karena prestasi di kelas 1 yang lalu sangat sangat buruk. Terburuk sepanjang masa.
Tapi apa katanya?
Kata beliau, "Tetap semangat dan sederhana.".
Lagi-lagi! Apa nalarnya?
Eh, gue lupa. Nalarnya... Karena pasti kita akan berbahagia suatu saat nanti... Bersama dengan orang yang kita cintai.
Kemudian gue bertanya yang lebih kritis lagi, "Pak, kenapa sih cobaan mesti berat-berat?".
Beliau menjawab dengan penuh perhatian, "Nak, Allah enggak akan ngasih ke kita cobaan yang lebih berat daripada kemampuan kita. Kamu masuk ke Alpust 1 ini udah pasti karena Ketetapan dan Keputusan Dari-Nya. Udah pasti karena Takdir Yang Ilahi. Udah pasti karena kamu emang pantas berada di sini. Tinggal satu hal, Allah pengen melihat sejauh mana kamu tetap bisa mempertahankan kesederhanaan dan semangat kamu.".
Oke... Kemudian beliau melanjutkan, "Cobaan kelihatan berat karena... Kamu akan mempersiapkan diri kamu menuju jembatan kebahagiaan yang lebih bagus lagi. Lebih indah lagi. Jadi, semakin besar cobaan kamu, maka hasil kebahagiaan yang akan kamu raih nanti setelahnya akan lebih besar juga, lho!".
Lagi-lagi, gue cuma bisa berkata, "Ooh.".
Di samping perjuangan gue memajukan prestasi, gue juga sempat menolong beberapa teman seperti Azizi, Reyno, Reyhan, Boutros, Andri, dan sebagainya. (mohon maaf kalau ada yang enggak kesebut) Apa dampaknya?
GUE BERHASIL MASUK SEPULUH BESAR DAN RANGKING PERTAMA DITUNDA! :"D (nb: gue enggak jadi ranking satu karena dibalap sama yang dibawah gue. Namanya Danta sama Irham. Mereka berdua seharusnya ranking dua dan tiga. Tapi mereka bisa ngebalap ranking gue karena mereka berhasil masuk ke juara nasional Olimpiade Ekonomi. Well, salute to you all! Kita harus sama2 saling mengakui bahwa tiap2 dari diri kita itu emang bisa menunjukan kualitas tinggi, ya enggak?)
Hingga akhirnya... Menuju ke kelas 3 SMA... Masa terheboh yang pernah gue alami... Malah lebih heboh daripada masa kuliah gue (?).
Suatu kali, ada berbagai kelas intensif yang bisa gue ikuti dibuka. Itu ditujukan buat siapa pun yang merasa butuh buat memperdalam materi yang dikira masih belum dikuasai.
Salah satunya adalah kelas Geografinya Pak Nardi.
Seperti biasa, gue adalah murid yang paling cerewet di kelas itu. Apa pun gue tanya. Mulai dari konsep alam semesta, satelit, bentukan gunung, bentukan awan, hingga kembali berkontemplasi bahwa air putih yang biasa gue minum sebenarnya berasal dari air kencing gue (?).
Tetapi, kelas waktu itu sedang ramai. Ramai dalam artian ribut. Artinya, ramai dalam artian yang enggak bener.
Seisi kelas jenuh. Semua anak pada akhirnya ngobrol. Cuma gue dan beberapa teman seperti Reyno, Ponco, Asa, Atsa, Andri, Disti, Tasya, dan Abang yang serius dan cerewet bertanya dan berkomentar mengenai pelajaran. Pak Nardi mulai ikutan jenuh. Gue terus menyemangati beliau secara implisit.
Hingga akhirnya suatu kali gue bertemu dengan beliau. Papasan aja sih. Tiba2 beliau minta curhat.
What the hell is going on?
Katanya dengan mata yang berbinar-binar, "Di... Cuma kamu... Cuma kamu aja yang terus semangat dan sederhana. Yang lain, enggak bisa. Tahu enggak, saya ngajarin makna sederhana dan semangat enggak cuma ke kamu aja. Tapi ke yang lainnya. Kenapa mereka enggak perhatikan juga?".
"Kenapa mereka mesti ikutan kelas intensif, padahal ujung-ujungnya juga saya dicuekin? Padahal ujung-ujungnya mereka juga ngobrol ke sesamanya juga, enggak mau belajar juga!?".
Gue menjawab dengan keheningan belaka.
Gue pengen banget menjawab, "Karena mereka menganggap bahwa pelajaran tersebut adalah gak penting.". Tapi, tentu aja enggak gue jawab yang demikian. Sekali lagi, karena gue enggak enak. Karena gue hormat.
Kemudian gue menjawab sekenanya, "Pak... Ini cobaan yang berat. Kita harus tetap semangat dan sederhana dalam menjalani cobaan ini. Mudah2an kita bisa berbahagia pada akhirnya.".
Pak Nardi menjawab dengan anggukan disertai dengan isakan... Beliau mengeluarkan air matanya untuk pertama kalinya di hadapan gue. Kemudian, gue menyampaikan sampai jumpa kepadanya,
Dan... Tanpa gue sadari... Aliran air mata serta-merta membasahi pipi gue yang begitu kecil ini... Gue juga ikutan menangis terharu di tengah kegalauan yang amat sangat ini...
Hasil UN akhirnya diumumkan. Ya Allah, Inna lillahi, rata2 mata pelajaran yang paling rendah jatuh di Geografi! :"(
Gue sendiri dapet nilai 54. Emang sih, buruk amat.
Setelah kita dapat berita, ternyata SKL (Standar Kompetensi Lulus - jadi itu kayak kisi2 materi yang akan diujikan di UN) yang didapatkan di SMA Alpust 1 khusus Geografi ternyata enggak sesuai dengan yang dijanjikan oleh Kemendiknas! Dasar politik pendidikan yang begitu kotor! Berani2nya kesalahan struktural koruptif tersebut menghancurkan... Happy ending yang akan gue dan Pak Nardi jalani... :"(
Reyhan kemudian berkata, "Di. Pak Nardi sekarang lagi nangis. Menangis karena menyesali perbuatannya yang enggak begitu kompeten dalam mengurus kita2. Katanya, 'Gara2 saya, nilai kalian pada jelek!'...".
Gue membalas rentetan kejadian naas tersebut dengan termenung. Ya Allah, seriously, what the hell is going on, again and again!?
Gue akhirnya kuliah. Gue jalani kuliah dengan tetap berlandaskan kepada kesederhanaan dan semangat Atas Nama Yang Ilahi. Berbagai cobaan terus datang. Mulai dari Ospek Antrop yang enggak jelas sama sekali, ada beberapa temen yang resek2 juga (termasuk Tango, malah yang paling resek emang si Tango, sih), hingga berbagai mata kuliah yang susah (apalagi Teori Antropologi!!!).
Tapi, semua itu terus gue jalani. Terus, dengan sabar.
Kemudian, gue dapet nilai yang bagus. Alhamdulillah.
Hingga akhirnya, gue menjanjikan diri gue untuk bertemu dengan SMA Alpust 1 lagi. Saat itu, gue sih enggak berniat secara pasti mau ketemu dengan siapa-siapanya. Bebas2 aja sih.
Seperti biasa, gue naik ke lift yang udah lama enggak gue temui itu... Dan lift itu terbuka...
Ada sesosok pria yang sepertinya gue kenal menunggu terbukanya lift yang gue lagi tumpangi ini. Senyumnya begitu ramah dan menunjukan implikasi canda dan tawa setelahnya. Penampilannya seperti seorang tenaga pendidik sejati.
Seperti biasa?
Seperti biasa!?
"Pak Nardi!" - sontak gue langsung menyahut keras-keras!
Pak Nardi langsung menyambut diri gue dengan pelukan hangat. Bagaikan pelukan seorang ayah kepada anak lelaki satu-satunya.
(nb: dan kebetulan juga kan, gue juga enggak punya bokap dalam artian yang normatif. You know what I mean-lah, LMFAO. Bokap gue bukan orang yang bener alias orang yang enggak mendidik).
Pelukan hangat berjiwa nostalgis tersebut diakhiri dengan sambutan dan perjumpaan,
"Nilai kamu tetap bagus, karena kamu terus semangat dan sederhana. Orang2 yang kamu cintai selalu mendukung kamu, karena kamu terus semangat dan sederhana. Intinya, selamat dan sukses, jangan lupa berbahagia dengan orang yang kamu cintai. Satu lagi, oh iya, maaf... Saya mau ada urusan dulu ya, di kantin bawah. Saya mau beli makanan, habisan laper, sih! Hahahah!".
Pak Nardi masuk ke lift tersebut dan saya kembali tertegun... Kali ini ketegunan tersebut enggak dilandasi dengan kegalauan, tapi dilandasi dengan orkestra keharuan.
'Ayah kandung' gue itu berkata secara implisit, "Sederhana dan Semangat menjadi mental utama bagi seorang peneliti, pendidik, maupun cendekiawan! Hasil usaha itu emang enggak selalu happy ending sih, tapi suatu saat pasti bakal jadi happy ending!". :"D
Ayo Berjuang
Pantang Mundur
Minggu, 08 Desember 2013
Senin, 02 Desember 2013
Tenaga Pendidik: Tokoh Lain yang Membakar Semangat
Kali ini, gue mau berbicara mengenai tenaga pendidik. Apa yang berharga dari mereka. Apa yang bisa kita pandang dari mereka. Tentu saja, pandangan yang gue maksudkan itu sifatnya positif.
Sekaligus, gue mengenang dua hari yang penting: Pertama-tama, yaitu hari wafatnya Prof. Dr. James Danandjaja selaku guru besar Antropologi yang seringkali berkecimpung di bidang antropologi psikologi dan folklor. Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia Di Sisi-Nya di akhirat. Aamiin.
Hari kedua yang gue maksudkan ialah tepat di tanggal 25 November yang lalu. Mohon maaf gue baru bisa nulis sekarang karena gue lagi galau kemarin2. Ditambah sibuk. Jadinya galau plus sibuk. Kembali lagi pada tanggal 25 November, hari apa itu? Tepat, Hari Guru Nasional.
Di Hari Guru Nasional itu, jujur aja gue enggak memperingatinya lewat facebook maupun yang lainnya. Begitu juga dengan berita duka wafatnya Prof James. Artinya, dalam tulisan ini izinkan gue mengenang kedua hari itu.
Mengapa mesti gue kenang? Memangnya sedih banget ya, ceritanya? Bisa dikatakan, sedih dalam artian terharu. Gue begitu bangga akan kehadiran beliau sekalian yang telah mendidik diri gue dengan berbagai kerepotan yang mereka alami. Ada dan tiadanya beliau sekalian tetap saja terkenang di dalam hati nurani, terbayang di dalam benak, dan bisa saja dialirkan melalui air mata yang mengalir secara tidak sengaja - membanjiri pipi gue yang begitu kecil ini.
Bayangin aja, memang sih gue enggak pernah diajar secara langsung oleh Prof. James. Tapi, gue pernah membaca - bahkan menyelesaikan buku yang pernah beliau tulis tentang folklor Indonesia. Dengan tulisannya yang mengalir dan menawan itu, beliau mampu membuat gue membaca buku (yang padahal) ilmiah itu dengan begitu mengalir. Gue bahagia karena ilmu gue makin kaya. Dan gue bahagia karena gue banyak tertawa sama tulisannya. Sebenernya, bukan tulisannya yang ngelawak, tapi ada beberapa budaya tertentu yang tertulis di situ mampu buat bikin gue ketawa.
Begitu juga dengan berbagai Prof yang lain. Beliau sekalian - entah masih hidup maupun sudah wafat - tetap saja demikian simpulannya. Ada dan tiada beliau sekalian tetap saja membuat diri gue terharu. Ucapan terima kasih yang paling bermanfaat bagi beliau sekalian ialah satu hal: kontribusi bagi masyarakat2 di Indonesai lewat ilmu yang pernah diajarkannya ke diri gue.
Sekalipun gue membingungkan satu hal: akankah diri gue mampu buat berkontribusi dalam hal tersebut? Apakah usaha gue udah cukup, atau mesti digenjot lagi? Apakah yang harus gue lakukan ketika badan ini terlalu lelah dalam mengemban amanat tersebut? Apakah gue harus nyerah atau rehat sementara terlebih dahulu?
Dan pertanyaan yang paling bikin hati galau: apakah gue suatu saat bisa menggantikan beliau sekalian menjadi Profesor? Tentu saja, yang enggak main2 alias berkualitas tinggi. Yang berguna bagi bangsa dan Negara Indonesia? :"(
Termasuk pula untuk dosen yang pernah ngajarin gue. Gue enggak pilih kasih. Betapapun reseknya beliau sekalian terhadap diri gue (baca: udah ngasih tugas banyak, susah pula, abis dikerjain malah diledek gara2 hasilnya kurang kritis), dan betapapun baiknya mereka pula (baca: jarang ngasih tugas, sekalinya ngasih tugas seisi kelas dipukul rata dapet A), gue tetap menghargainya. Toh, beliau sekalian juga mendidik gue. Artinya, bayaran kuliah selama ini enggak sia2. Enggak, bukan maksudnya itu. Artinya, kedatangan gue di kampus enggak sia2. Kedatangan diri gue di kampus harus memperkaya ilmu pengetahuan di otak. Mumpung masih muda, jiwa menantang ilmu mesti terus digenjot (baca: udah tua nanti belum tentu cara mikirnya kayak gitu!).
Dan pertanyaan yang paling bikin hati galau: apakah gue bisa suatu saat meneruskan jejak beliau sekalian dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi di Indonesia? Kalau enggak, kenapa gue mesti jadi kuli pikir dan kuli ajar? Apakah kompetensi diri gue mampu dikenang oleh para mahasiswa yang kelak akan gue ajari? :"(
Termasuk pula untuk guru yang pernah ngajarin gue. Kalau soal guru, beliau mah jauh lebih sabar daripada dosen dan Profesor. Percaya deh. Kerjaan gue di kelas pas sekolah dulu itu aneh2: suka ngobrol, suka tidur di kelas, dan sekalinya serius memperhatikan guru - gue bakalan nanya yang aneh2. Nanya yang aneh2 baik dalam artian kritis maupun dalam artian yang literal. Apa buktinya? Respons teman2 sekelas setelah mendengar pertanyaan gue pasti cuma dua: kalau enggak tepuk tangan karena menghargai pertanyaan kritis gue, kalau enggak KETAWA TERBAHAK2 karena menganggap bahwa pertanyaan gue emang nyampah banget. Tapi, guru sejati yang memahami gue pasti menasihati sekelas dengan berkata, "Harap tenang semua. Jangan menertawakan pertanyaannya Ardi. Pertanyaannya bagus ini. Oke, jadi begini ya Ardi, bla bla bla". Dan sekelas pun sunyi setelah hingar bingar sesaat tadi, bahkan biang keributan (baca: geng anak nakal di kelas, yang jadi promotor penghinaan diri gue yang tadi itu) juga bakalan bungkam seribu bahasa karena nasihatnya yang santun tersebut. Karena jawaban itulah, maka diri gue begitu terharu dan semakin bisa untuk menyerap ilmu di hari itu.
Kelak ilmu itu akan berguna buat diri gue di masa depan. Enggak. Gak sekedar berguna, tapi SANGAT BERGUNA - pada kenyataannya. :"D
Dan pertanyaan yang paling bikin hati gue galau: apakah gue bisa suatu saat meneruskan ajaran2 kebaikan dan kebajikan a la beliau sekalian? Karena, ada sebuah hal yang mengganjal perasaan gue: ternyata, diri gue ini bisa baik ke orang lain (baca: sering nolongin teman, sabar ketika kekacauan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya merajalela - karena orang lain gak bakalan sabar tapi diri gue tetep aja sabar tuh, dan berbakti kepada keluarga terutama kepada orang tua dan kakak2, dan lain2 pokoknya yang baik2 dan bajik2) karena beliau sekalian telah memberikan tips2 mengenai kebaikan dan kebajikan? Dari yang mendasar hingga yang kompleks. Dari yang gampang ampe bikin pusing, bikin sakit hati, bikin muntah, berak, dan diare *eh kok gak nyambung. :"(
Termasuk pula untuk guru les privat dan kakak2 mentor pesantren kilat di Diklat al-Azhar, Cigombong yang pernah ngajarin gue dari SD ampe SMA. Lho? Iya, mesti! Beliau sekalian enggak cuma mendidik diri gue dalam ilmu pengetahuan di kelas, tapi juga di luar itu. Sekali lagi, mereka ngajarin gue yang baik2 kok. Gue sebutin aja deh siapa namanya (karena kan dikit): Kak Yon (guru dari kelas 6 SD ampe 1 SMP), Kak Tomo (guru dari kelas 2 SMP ampe 3 SMP), Kak Cholis (guru dari kelas 3 SMP ampe 1 SMA), Kak Maruf (guru dari kelas 2 SMA ampe 3 SMA), Kak Adim dan Kak Dedi sebagai tenaga pengganti, Kak Rani (guru di kelas 3 SMA khusus ngajarin bahasa Inggris gue yang bloonnya minta ampun), dan berbagai guru BTA Alpust 1 persiapan SIMAK dan UN 2010 seperti Kak Eros SP dan Kak Yudha VBT dkk. Maaf ya, gue lupa namanya satu satu. Tapi, gue jamin kok kalau gue inget banget sama mukanya! Begitu juga dengan berbagai guru pesantren kilat kayak Kang Jay dkk. XD
Kak Yon... Pas gue SD, gue itu pemales banget... Kak Yon selalu membangkitkan diri gue agar senantiasa berpikiran kritis dan enggak boleh nyerah...
Kak Tomo... Pas gue SMP gue itu suka kurang ajar, suka enggak bisa mengendalikan diri... Gue senang ketika gue terus diingati berbagai hal seperti "Ke masjid jangan pake celana pendek, karena kan tujuannya nutup aurat - malu sama Allah Swt dong. Ngomong ke orang lain harus natep muka, biar sopan.".
Kak Cholis, pas gue SMA prestasi gue nurun drastis. Tapi, beliau selalu menyemangati gue. Katanya, "Jangan ampe nilai merah yang berlimpah bikin Ardi nyerah dalam menuntut ilmu atas Nama-Nya!".
Kak Maruf, pas gue SMA gue suka kerepotan luar biasa ngadepin soal akuntansi. Nyebelin banget, mau seberapa gedenya angka yang muncul, kiri dan kanan mesti seimbang. Kalo enggak, nanti dianggap korupsi! Tapi, beliau selalu sabar dan telaten dalam menyampaikan tips ke gue gimana caranya buat nyeimbangin neraca dagang. Satu lagi, ada kata2 dari beliau yang hebat, "Jangan pernah nyerah nuntut ilmu. Terus, bagaikan ilmu padi, makin merunduk makin berisi. Orang yang punya banyak ilmu tapi suka ngesok, mendingan jangan ditiru. Jadilah diri sendiri yang bagaikan ilmu padi. Sehingga, suatu sata orang minta tolong ke kamu, kamu pasti nolong mereka secara ikhlas. Karena, sembari menolong mereka, kamu juga sebenarnya sekalian menuntut ilmu.".
Kakak2 pengganti yang selalu sabar dan setia menemani diri gue di kala gue lagi galau ngerjain matematika, fisika, dan kima... Tiga pelajaran yang terus bikin diri gue hampir kehilangan jiwa. Kalo bener2 kehilangan, malah sakit jiwa, kan? *!?
Kak Rani... Di saat gue lagi galau UN Bahasa Inggris dan improvisasi nilai, karenanya gue bisa meraih angka 80 - ingat, sebelum2nya gue bahkan kesusahan lho kalau mau dapet nilai 60!
Kakak2 di BTA Alpust 1... Dengan gaya2nya yang santai tapi gak ngesok alias rendah hati, selalu menyemangati dan membimbing diri gue yang lagi galau soal UN dan SIMAK... Hingga akhirnya gue keterima lewat jalur SIMAK dan lulus UN... Katanya apa? "Jangan lupa makan2 alias traktir2. Hahaha!". Gubrak! Apaan sih, kak XD.
Dan pada akhirnya, gue juga mengenang kakak2 di diklat al-Azhar. Pesan utama yang hadir di benak dan nurani gue ialah: jangan takut dan selalu berbakti kepada orang tua. Pesan yang gampang diingat, tapi susah buat dijalani... Tapi juga: akan begitu berharga buat hidup kan kalau kedua itu bisa kita jalani, ya enggak? :D
Termasuk pula untuk para guru muda itu, gue jadi mau nawarin pertanyaan yang bikin diri ini galau: apakah diri gue akan bisa mewarisi semangat pendidikan dari para senior yang berjiwa muda - bahkan lebih muda jiwanya dari diri gue? Mereka selalu menyemangati diri gue. Bahwa, yang namanya pemuda Indonesia itu enggak selalu bisa dikaitkan dengan kedurhakaannya terhadap kedua orang tuanya, hedonisme yang akut dan selalu menghabiskan harta kedua orang tuanya, taruwan antar pelajar, senioritas, dan berbagai konsep perpeloncoan lainnya, lho. Pemuda Indonesia juga bisa bebas berkreasi dan selalu cakap dalam menunjukan prestasinya. Untuk menghormati para jasa pahlawan di Sumpah Pemuda (bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa nasional), pemuda bisa menjadi hebat di mata dunia. Gimana? Para guru muda itu telah memberikan gue teladan2 yang kayak gitu. Jadi, akankah gue menjadi termasuk ke dalam dunia pemuda Indonesia yang begitu romantis tersebut? :"(
Terima kasih gue ucapkan kepada semua tenaga pendidik. Kalau kata lagu mungkin cuma 'sebatas' di lirik 'Terima kasih... Kuucapkan.. Pada guruku.." - ternyata, terima kasih gue enggak terbatas di Guru sekolah, tapi berbagai tenaga pendidik lain yang udah capek2nya mendidik gue.
Ada sebuah kisah di post berikutnya mengenai salah seorang guru gue. Seorang guru yang selalu bikin gue terharu. Sekali lagi, ada dan tiadanya beliau tetap mampu membuat diri gue begitu traumatis mengenangnya. Selamat membaca, bagi yang membaca ini. Dan bagi yang belum membaca ini, bahkan tidak berniat sama sekali, selamat menunaikan aktivitas seperti biasanya. Karena gue enggak menghujat hal itu: semoga - seperti biasa - kalian semua sukses - baik yang membaca maupun yang tidak membaca ini. :D
Sekaligus, gue mengenang dua hari yang penting: Pertama-tama, yaitu hari wafatnya Prof. Dr. James Danandjaja selaku guru besar Antropologi yang seringkali berkecimpung di bidang antropologi psikologi dan folklor. Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia Di Sisi-Nya di akhirat. Aamiin.
Hari kedua yang gue maksudkan ialah tepat di tanggal 25 November yang lalu. Mohon maaf gue baru bisa nulis sekarang karena gue lagi galau kemarin2. Ditambah sibuk. Jadinya galau plus sibuk. Kembali lagi pada tanggal 25 November, hari apa itu? Tepat, Hari Guru Nasional.
Di Hari Guru Nasional itu, jujur aja gue enggak memperingatinya lewat facebook maupun yang lainnya. Begitu juga dengan berita duka wafatnya Prof James. Artinya, dalam tulisan ini izinkan gue mengenang kedua hari itu.
Mengapa mesti gue kenang? Memangnya sedih banget ya, ceritanya? Bisa dikatakan, sedih dalam artian terharu. Gue begitu bangga akan kehadiran beliau sekalian yang telah mendidik diri gue dengan berbagai kerepotan yang mereka alami. Ada dan tiadanya beliau sekalian tetap saja terkenang di dalam hati nurani, terbayang di dalam benak, dan bisa saja dialirkan melalui air mata yang mengalir secara tidak sengaja - membanjiri pipi gue yang begitu kecil ini.
Bayangin aja, memang sih gue enggak pernah diajar secara langsung oleh Prof. James. Tapi, gue pernah membaca - bahkan menyelesaikan buku yang pernah beliau tulis tentang folklor Indonesia. Dengan tulisannya yang mengalir dan menawan itu, beliau mampu membuat gue membaca buku (yang padahal) ilmiah itu dengan begitu mengalir. Gue bahagia karena ilmu gue makin kaya. Dan gue bahagia karena gue banyak tertawa sama tulisannya. Sebenernya, bukan tulisannya yang ngelawak, tapi ada beberapa budaya tertentu yang tertulis di situ mampu buat bikin gue ketawa.
Begitu juga dengan berbagai Prof yang lain. Beliau sekalian - entah masih hidup maupun sudah wafat - tetap saja demikian simpulannya. Ada dan tiada beliau sekalian tetap saja membuat diri gue terharu. Ucapan terima kasih yang paling bermanfaat bagi beliau sekalian ialah satu hal: kontribusi bagi masyarakat2 di Indonesai lewat ilmu yang pernah diajarkannya ke diri gue.
Sekalipun gue membingungkan satu hal: akankah diri gue mampu buat berkontribusi dalam hal tersebut? Apakah usaha gue udah cukup, atau mesti digenjot lagi? Apakah yang harus gue lakukan ketika badan ini terlalu lelah dalam mengemban amanat tersebut? Apakah gue harus nyerah atau rehat sementara terlebih dahulu?
Dan pertanyaan yang paling bikin hati galau: apakah gue suatu saat bisa menggantikan beliau sekalian menjadi Profesor? Tentu saja, yang enggak main2 alias berkualitas tinggi. Yang berguna bagi bangsa dan Negara Indonesia? :"(
Termasuk pula untuk dosen yang pernah ngajarin gue. Gue enggak pilih kasih. Betapapun reseknya beliau sekalian terhadap diri gue (baca: udah ngasih tugas banyak, susah pula, abis dikerjain malah diledek gara2 hasilnya kurang kritis), dan betapapun baiknya mereka pula (baca: jarang ngasih tugas, sekalinya ngasih tugas seisi kelas dipukul rata dapet A), gue tetap menghargainya. Toh, beliau sekalian juga mendidik gue. Artinya, bayaran kuliah selama ini enggak sia2. Enggak, bukan maksudnya itu. Artinya, kedatangan gue di kampus enggak sia2. Kedatangan diri gue di kampus harus memperkaya ilmu pengetahuan di otak. Mumpung masih muda, jiwa menantang ilmu mesti terus digenjot (baca: udah tua nanti belum tentu cara mikirnya kayak gitu!).
Dan pertanyaan yang paling bikin hati galau: apakah gue bisa suatu saat meneruskan jejak beliau sekalian dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi di Indonesia? Kalau enggak, kenapa gue mesti jadi kuli pikir dan kuli ajar? Apakah kompetensi diri gue mampu dikenang oleh para mahasiswa yang kelak akan gue ajari? :"(
Termasuk pula untuk guru yang pernah ngajarin gue. Kalau soal guru, beliau mah jauh lebih sabar daripada dosen dan Profesor. Percaya deh. Kerjaan gue di kelas pas sekolah dulu itu aneh2: suka ngobrol, suka tidur di kelas, dan sekalinya serius memperhatikan guru - gue bakalan nanya yang aneh2. Nanya yang aneh2 baik dalam artian kritis maupun dalam artian yang literal. Apa buktinya? Respons teman2 sekelas setelah mendengar pertanyaan gue pasti cuma dua: kalau enggak tepuk tangan karena menghargai pertanyaan kritis gue, kalau enggak KETAWA TERBAHAK2 karena menganggap bahwa pertanyaan gue emang nyampah banget. Tapi, guru sejati yang memahami gue pasti menasihati sekelas dengan berkata, "Harap tenang semua. Jangan menertawakan pertanyaannya Ardi. Pertanyaannya bagus ini. Oke, jadi begini ya Ardi, bla bla bla". Dan sekelas pun sunyi setelah hingar bingar sesaat tadi, bahkan biang keributan (baca: geng anak nakal di kelas, yang jadi promotor penghinaan diri gue yang tadi itu) juga bakalan bungkam seribu bahasa karena nasihatnya yang santun tersebut. Karena jawaban itulah, maka diri gue begitu terharu dan semakin bisa untuk menyerap ilmu di hari itu.
Kelak ilmu itu akan berguna buat diri gue di masa depan. Enggak. Gak sekedar berguna, tapi SANGAT BERGUNA - pada kenyataannya. :"D
Dan pertanyaan yang paling bikin hati gue galau: apakah gue bisa suatu saat meneruskan ajaran2 kebaikan dan kebajikan a la beliau sekalian? Karena, ada sebuah hal yang mengganjal perasaan gue: ternyata, diri gue ini bisa baik ke orang lain (baca: sering nolongin teman, sabar ketika kekacauan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya merajalela - karena orang lain gak bakalan sabar tapi diri gue tetep aja sabar tuh, dan berbakti kepada keluarga terutama kepada orang tua dan kakak2, dan lain2 pokoknya yang baik2 dan bajik2) karena beliau sekalian telah memberikan tips2 mengenai kebaikan dan kebajikan? Dari yang mendasar hingga yang kompleks. Dari yang gampang ampe bikin pusing, bikin sakit hati, bikin muntah, berak, dan diare *eh kok gak nyambung. :"(
Termasuk pula untuk guru les privat dan kakak2 mentor pesantren kilat di Diklat al-Azhar, Cigombong yang pernah ngajarin gue dari SD ampe SMA. Lho? Iya, mesti! Beliau sekalian enggak cuma mendidik diri gue dalam ilmu pengetahuan di kelas, tapi juga di luar itu. Sekali lagi, mereka ngajarin gue yang baik2 kok. Gue sebutin aja deh siapa namanya (karena kan dikit): Kak Yon (guru dari kelas 6 SD ampe 1 SMP), Kak Tomo (guru dari kelas 2 SMP ampe 3 SMP), Kak Cholis (guru dari kelas 3 SMP ampe 1 SMA), Kak Maruf (guru dari kelas 2 SMA ampe 3 SMA), Kak Adim dan Kak Dedi sebagai tenaga pengganti, Kak Rani (guru di kelas 3 SMA khusus ngajarin bahasa Inggris gue yang bloonnya minta ampun), dan berbagai guru BTA Alpust 1 persiapan SIMAK dan UN 2010 seperti Kak Eros SP dan Kak Yudha VBT dkk. Maaf ya, gue lupa namanya satu satu. Tapi, gue jamin kok kalau gue inget banget sama mukanya! Begitu juga dengan berbagai guru pesantren kilat kayak Kang Jay dkk. XD
Kak Yon... Pas gue SD, gue itu pemales banget... Kak Yon selalu membangkitkan diri gue agar senantiasa berpikiran kritis dan enggak boleh nyerah...
Kak Tomo... Pas gue SMP gue itu suka kurang ajar, suka enggak bisa mengendalikan diri... Gue senang ketika gue terus diingati berbagai hal seperti "Ke masjid jangan pake celana pendek, karena kan tujuannya nutup aurat - malu sama Allah Swt dong. Ngomong ke orang lain harus natep muka, biar sopan.".
Kak Cholis, pas gue SMA prestasi gue nurun drastis. Tapi, beliau selalu menyemangati gue. Katanya, "Jangan ampe nilai merah yang berlimpah bikin Ardi nyerah dalam menuntut ilmu atas Nama-Nya!".
Kak Maruf, pas gue SMA gue suka kerepotan luar biasa ngadepin soal akuntansi. Nyebelin banget, mau seberapa gedenya angka yang muncul, kiri dan kanan mesti seimbang. Kalo enggak, nanti dianggap korupsi! Tapi, beliau selalu sabar dan telaten dalam menyampaikan tips ke gue gimana caranya buat nyeimbangin neraca dagang. Satu lagi, ada kata2 dari beliau yang hebat, "Jangan pernah nyerah nuntut ilmu. Terus, bagaikan ilmu padi, makin merunduk makin berisi. Orang yang punya banyak ilmu tapi suka ngesok, mendingan jangan ditiru. Jadilah diri sendiri yang bagaikan ilmu padi. Sehingga, suatu sata orang minta tolong ke kamu, kamu pasti nolong mereka secara ikhlas. Karena, sembari menolong mereka, kamu juga sebenarnya sekalian menuntut ilmu.".
Kakak2 pengganti yang selalu sabar dan setia menemani diri gue di kala gue lagi galau ngerjain matematika, fisika, dan kima... Tiga pelajaran yang terus bikin diri gue hampir kehilangan jiwa. Kalo bener2 kehilangan, malah sakit jiwa, kan? *!?
Kak Rani... Di saat gue lagi galau UN Bahasa Inggris dan improvisasi nilai, karenanya gue bisa meraih angka 80 - ingat, sebelum2nya gue bahkan kesusahan lho kalau mau dapet nilai 60!
Kakak2 di BTA Alpust 1... Dengan gaya2nya yang santai tapi gak ngesok alias rendah hati, selalu menyemangati dan membimbing diri gue yang lagi galau soal UN dan SIMAK... Hingga akhirnya gue keterima lewat jalur SIMAK dan lulus UN... Katanya apa? "Jangan lupa makan2 alias traktir2. Hahaha!". Gubrak! Apaan sih, kak XD.
Dan pada akhirnya, gue juga mengenang kakak2 di diklat al-Azhar. Pesan utama yang hadir di benak dan nurani gue ialah: jangan takut dan selalu berbakti kepada orang tua. Pesan yang gampang diingat, tapi susah buat dijalani... Tapi juga: akan begitu berharga buat hidup kan kalau kedua itu bisa kita jalani, ya enggak? :D
Termasuk pula untuk para guru muda itu, gue jadi mau nawarin pertanyaan yang bikin diri ini galau: apakah diri gue akan bisa mewarisi semangat pendidikan dari para senior yang berjiwa muda - bahkan lebih muda jiwanya dari diri gue? Mereka selalu menyemangati diri gue. Bahwa, yang namanya pemuda Indonesia itu enggak selalu bisa dikaitkan dengan kedurhakaannya terhadap kedua orang tuanya, hedonisme yang akut dan selalu menghabiskan harta kedua orang tuanya, taruwan antar pelajar, senioritas, dan berbagai konsep perpeloncoan lainnya, lho. Pemuda Indonesia juga bisa bebas berkreasi dan selalu cakap dalam menunjukan prestasinya. Untuk menghormati para jasa pahlawan di Sumpah Pemuda (bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa nasional), pemuda bisa menjadi hebat di mata dunia. Gimana? Para guru muda itu telah memberikan gue teladan2 yang kayak gitu. Jadi, akankah gue menjadi termasuk ke dalam dunia pemuda Indonesia yang begitu romantis tersebut? :"(
Terima kasih gue ucapkan kepada semua tenaga pendidik. Kalau kata lagu mungkin cuma 'sebatas' di lirik 'Terima kasih... Kuucapkan.. Pada guruku.." - ternyata, terima kasih gue enggak terbatas di Guru sekolah, tapi berbagai tenaga pendidik lain yang udah capek2nya mendidik gue.
Ada sebuah kisah di post berikutnya mengenai salah seorang guru gue. Seorang guru yang selalu bikin gue terharu. Sekali lagi, ada dan tiadanya beliau tetap mampu membuat diri gue begitu traumatis mengenangnya. Selamat membaca, bagi yang membaca ini. Dan bagi yang belum membaca ini, bahkan tidak berniat sama sekali, selamat menunaikan aktivitas seperti biasanya. Karena gue enggak menghujat hal itu: semoga - seperti biasa - kalian semua sukses - baik yang membaca maupun yang tidak membaca ini. :D
Rabu, 20 November 2013
Teman sebagai Penghibur Sejati – Teman itu Bernama Damar (3)
Ada sebuah cerita lagi mengenai teman itu. Teman yang bernama
Damar. Teman yang selalu menghibur gue ketika gue lagi sedih maupun ketika gue
lagi senang. Jadi, gimana enggak gue bahagia mempunyai teman yang seperti itu
:D
Cerita itu
bermacam-macam. Jauh lebih asyik ketika gue menceritakan dalam konteks berduka
yang dulu, deh. Waktu itu pernah gue lagi heboh mengenai organisasi alias
himpunan mahasiswa. Gue enggak tahu: himpunan mahasiswa itu kerjanya ribet
alias enggak simpel. Ada aja yang ribet dan mikin malas hati, malas gerak.
Waktu itu gue
disuruh buat ikutin lomba ilmiah. Tepatnya, Lomba Ilmiah Mahasiswa FISIP 2013
alias Limas 2013. Haduh, awalnya gue berniat buat pensiun alias mengundurkan
diri. Tetapi – apa daya dan upaya – yang namanya kejadian ya tetep aja
kejadian. Mau gimana lagi? Gue tetep ikut karena sumber daya manusia yang
terlampau sedikit. Maksudnya? Tepat: peserta lomba buat tahun ini semakin
sedikit – jauh lebih berkurang daripada yang tahun lalu malahan!
Alhasil gue
ikutan meramaikan suasana… Dengan batin yang terpaksa. Gue ikut menjadi peserta
sama seperti tahun yang lalu, dan dua tahun yang lalu, yaitu lomba esai kritis.
Lomba esai kritis kali ini membahas mengenai Good Governance pada beberapa hal seperti lingkungan. Gue mau milih
yang lingkungan, sekalipun gue kurang tertarik sama issue tersebut. Gue berencana buat membuat tulisan soal keterkaitan
antara kebudayaan macet di lalu lintas Jakarta dan Good Governance. Kenapa macet? Karena macet itu lingkungan
sekunder, yaitu lingkungan yang bisa dan biasa dimanipulasi oleh manusia.
Mantap! Di saat yang kritis begini, ternyata otak gue jalan juga! Kirain mandek
di tengah jalan! Wuihii, Thank God :D
Mungkin aja
tahun ini mempunyai cerita yang berbeda buat diri gue. Ketika dua tahun yang
lalu, gue mencoba menggagas mengenai kembali ke Pancasila. Hasilnya gagal
total. Setahun yang lalu, gue mencoba menggagas mengenai deprivasi relatif dan
absolut di Bintaro yang berakhir permukiman kumuh. Eh, hasilnya juga sama aja.
Buat tahun ini, gue berharap justru malah gagal aja. Kenapa? Biar gue enggak
capek2 presentasi. Capek banget, belum lagi soal pelajaran yang masih banyak.
Intinya, membosankan, deh.
Kemudian,
Devita sang kepala Keilmuan meminta diri gue buat ikut serta ke lomba yang satu
lagi, yaitu debat. Gue udah cukup berusaha buat menolak permintaannya, tetapi
ia tetep kekeh. Hasilnya, gue enggak tega menolak permintaannya -,-. Emang, gue
ini makhluk manusia yang penuh rasa iba – entah kenapa.
Setelah itu,
gue pulang ke rumah. Malamnya, gue diminta untuk cek ricek twitter Limas. Ada pemberitahuan mengenai siapa saja yang menang
lomba. Wah! Alhamdulillah… Sekaligus Inna Lillahi… Gue menang… Gue lolos dalam
lima besar bersama dengan dua teman seperjuangan lain seperti Ubed dan Wieldan.
Gue bingung. Saat itu gue mesti bersyukur apa enggak ya.
Yasudah, gue melampiaskannya dengan berteriak hingga Kak Titi dan Mama kaget
mendengar teriakan gue tersebut.
Esok paginya, gue langsung mempresentasikan materi gue.
Hasilnya, gue dibantai abis2an sama Pak Ganda Upaya. Ya Allah. -,-
Kemudian, gue
pulang ke rumah dan kembali jadi orang yang galau. Setelah gue abis2an dikritik
sama Pak Ganda, gue harus mempersiapkan diri buat melaksanakan lomba debat
besok. Asli, capek banget. Capek, gue mesti nyari2 bahan buat debat. Ketika gue
mencari2 bahan, tiba2… LISTRIK MENYAMBAR. Alhamdulillah masih jauh sih dari
diri gue, jadi diri gue enggak kesambar alias mati konyol. Tapi…. Netbook yang lagi gue pake itu mati
mendadak alias rusak.
Astaghfirullah… Cobaan yang datang di saat2 yang enggak gue
harapkan sama sekali.
Gimana kalau gue ceritain ini ke
Devita, biar gue bisa mengundurkan diri besok? Pasti gue dibilang melanggar
etika profesionalitas, pikir gue. Gimana kalau besok gue gak masuk aja? Besok
ada beberapa kuliah yang penting yang sebenarnya bisa gue lakukan abis debat.
Dan lagian, gue juga males banget kalau dibilang pengecut sama temen seangkatan
sendiri.
Apa yang mesti gue lakukan? :”(
Gue cerita aja!
Kalau emang gue gak berani cerita ke Devita, kenapa enggak gue cerita ke Damar?
Seorang teman yang bisa membuat diri gue nyaman. Akhirnya, gue cerita bersama
dengan dia.
Damar: Halo…
Gue: Damar! Gue mau curhat nih! Galau gue, sedih gue! Huhu…. :”(
Damar: Cup cup… Ada apa nih…?
Gue: Iya, Mar. Gue ampe bingung… Kenapa gue besok mesti ikutan
lomba debat. Terusan juga, kan gue mesti cari bahan buat dijadiin dasar argumentasi yang valid, kenapa laptop gue rusak gara2 petir tadi! Galau
gue, Mar.. Galau..! -,-
Damar: Sabar, Di. Tenangkan dirimu.. Sekarang, rileks aja dulu.
Gue perhatiin dari tadi pagi lo begitu restless.
Kenapa?
Gue: Ya iya, Mar. Gimana enggak diri gue restless. Lagian sih, disuruh ini itu. Capek banget rasanya. Gue
pengen ngeluhin hal ini ke divisi keilmuan, tapi gue takut dibilang enggak
profesional. Jadinya, gue bingung mau ngapain..
Damar: Iya… Mendingan sekarang lo istirahat dulu. Sembari
dengerin motivasi dari gue. Gue juga sebenernya lagi mikir sih, kenapa lo
diajak buat ikutan Limas melulu, dari tahun ke tahun… Orang2 yang mengajak lo
itu enggak pertimbangin kesibukan apa yang lo temui selain menolong mereka2
yang ngajak lo. Benar?
Gue: Iya.
Damar: Tahu kenapa alasannya?
Gue: Karena kekurangan sumber daya manusia. Gak ada lagi yang bisa
dipaksa buat ikutan kecuali gue.
Damar: Bukan itu.
Gue: …? Tapi?
Damar: Sumber daya manusia mah sebenernya enggak dikit juga di
Antrop. Sekalipun emang enggak banyak juga sih. Kalau2 tiap orang bisa dipaksa,
ya mereka bisa dipaksa. Nah, kenapa lo disuruh? Karena lo itu kaya akan sumber
daya pengetahuan.
Gue: Kaya akan sumber daya pengetahuan?
Damar: Karena mereka tahu, mereka pengen mengoptimalkan kekayaan
sumber daya pengetahuan lo lebih detail lagi. Bahkan kalau bisa dimodif
sekalian. Bayangin, otak lo dimodif, kayak modifikasi mobil aja.
Gue: Iya ya. Tenaga kuda gue bisa nambah. Downforce gue bisa ditinggikan. Berat gue bisa diturunkan. Racing mode on-deh.
Damar: Iya! Nah, sekarang, selamat mencoba buat memperkaya
sumber daya pengetahuan lo.
Gue: Oke, Mar.
Damar: Satu lagi, makanya banyak kan anak Antrop yang minta
tolong soal akademis ke lo?
Gue: Karena gue kelebihan sumber daya pengetahuan akademis?
Damar: Yoi!
Gue: Ah, itu mah juga terkadang karena orang yang minta tolong
ke gue.. Antara malas atau dilanda kegalauan tertentu.
Damar: Ya, tapi kan lo bisa menolong mereka melepaskan diri
mereka dari kemalasan dan kegalauan. Itu sumber daya lho! Dan lo punya semua
itu. You have it all. You have it all the
potence that you want it.
Damar (lagi): So, unleashed
your potentials! All of it! Let the world knows them! Let Devita knows them!
Gue: (Let Devita knows them?)…
Hehehe.. Oke, oke Mar. Thanks a lot ya… :”D
Damar: Anytime, mabroh!
…. Esok paginya, gue
menjalani hari tersebut dengan semangat. Sekalipun emang hancur: kalah lawan
Komunikasi, memang walkout lawan sosiologi, dan seri lawan administrasi fiskal.
Tapi, hal itu membanggakan. Bukan karena gue capek membuktikan profesionalitas
gue kepada Devita dan kawan-kawan. Tapi, gara2 gue bisa membuktikan bahwa…
Ternyata di tengah2 gue menderita, gue masih memiliki kekayaan akan sumber daya
pengetahuan! :D
Kamis, 14 November 2013
Teman sebagai Penghibur Sejati - Teman itu Bernama Damar (2)
Gue mau cerita lagi soal Damar. Seorang sahabat. Seorang teman seperjuangan gue yang begitu kocak.
Gara2 dia ada, gue jadi ngelupain apapun yang bikin gue bete. Misalnya, skirpsi dan kepengurusan Antropos 2013. Semua itu bikin gue bete. Tetapi, ketika dia ada - dia menghibur diri gue. Baik secara implisit maupun secara eksplisit. Enggak kayak temen2 gue yang lain. Mereka semua cuma bisa menuntut diri gue agar cepat menyelesaikan skripsi dan Antropos 2013.
Orang2 yang seperti itu lebih baik gue acuhin aja. Gue hargai diri mereka dengan sikap acuh gue dan... Kalaupun gue jawab, gue bakal jawab apa adanya. Mereka harus mengerti bahwa mengejrkana skripsi dan majalah itu bukanlah pekerjaan yang mudah.
Oke, lebih baik cerita duka mengenai skripsi dan majalah ditunda terlebih dahulu.
Enggak ada salahnya sih berduka. Tapi, rasa duka yang disimpan maupun diceritakan terlampau lama juga enggak baik baik buat psikis maupun fisiologi diri. Betul?
Kayak yang mau gue ceirtain ini. Cerita seorang pria yang mampu menghibur diri gue. Sekalipun ia menghibur diri gue dalam waktu yang sekejap, tapi gue merasakan manfaatnya berabad-abad - bisa jadi manfaatnya lebih lama ketimbang usia gue yang diprediksikan fana ini: kurang dari seabad.
Suatu kali kami semua berjalan ke Desa Nunuk dari Depok dengan naik Bus Loragung. Sebuah bus yang ditumpangi oleh para supir dan kenek Wong Jowo yang begitu piawai dalam mengatur jalannya melampaui jalur pantura. Para supir dan kenek tersebut juga begitu piawai dalam mengendarakan bus besarnya itu cepat-cepat. Mereka tidak merasa tergesa-gesa. Tetapi, mereka juga tidak merasa santai dalam mengendarai bus itu.
Mereka hanya santai dalam kecepatan yang begitu tinggi.
Alat ukur santai yang terdapat di dalam diri mereka begitu berbeda dengan diri gue: di atas 100 km/jam!
Hingga suatu kali bus itu rem mendadak karena harus bisa mengikuti kecepatan truk yang menghalanginya di depan. Kalau mereka tidak memaksakan rem tersebut, kami semua akan celaka. Truk yang ada di depan juga akan celaka.
Klakson dibunyikan. Gue begitu sakit hati melihat kelakuan supir yang 'begitu santai' itu. Ini merupakan sebuah ironi dari hati dan jantung gue yang begitu lemah terhadap budaya mengebut a la Supir dan Kenek Loragung jalur Pantura.
Sang Supir agak kesal. Sang Kenek agak tertawa melihat perilakunya itu. Ia menertawakan perilaku truk yang menghalangi kami. Sepertinya begitu. Atau mudah-mudahan interpretasi dalam benak imaji diri gue yang begitu minim ini salah sepenuhnya.
Gue sama sekali enggak bisa memahami budaya mereka. Karena gue enggak biasa melakukan budaya tersebut. Karena gue enggak bisa mengikuti budaya tersebut. Karena...
"Di, kenapa? Kok tampangnya stres gitu?". Sahut Damar kepada diri gue. Sahutannya itu membuat diri gue tenang dan sedikit demi sedikit melupakan pahitnya menumpang di Bus Loragung ini.
Gue: Iya. Biasa, gue tadi takut banget ngelihat supirnya hampir nabrak truk tadi. Gila, jantung gue mau copot. Untung aja selamat gara2 doa nyokap.
Damar: Hahaha, seloow. Gue juga mayan tegang kok (tertawa). By the way, lo tahu enggak, cheat terpenting di GTA San Andreas?
Gue: Hehehe. Tahu dong. R1 R2 L1 R2 kiri kanan atas bawah kiri kanan atas bawah.
Damar: Itu cheat health ya. Itu gak penting lho.
Gue: Lho, apaan lagi yang lebih penting?
Kemudian dia melantunkan sebuah cheat yang sama sekali enggak gue ngerti. Gue enggak inget sama cheat itu.
Damar: Tahu enggak?
Gue: Enggak. Apaan sih?
Damar: Jet pack.
Gue tertawa keras-keras di bus itu. Kali ini, kebalik. Semua hening bukan gara-gara melihat kecelakaan yang tadi hampir aja terjadi, melainkan... Hening gara-gara melihat diri gue tertawa terbahak-bahak. Lambat laun, anak antrop yang ikut pada tertawa, dosen juga ikutan tertawa, bahkan... Para supir dan kenek juga tersenyum - sinis, lebar, biasa, bahkan juga tertawa kecil melihat tingkah laku bocah dari Bintaro ini!
Terima kasih, Damar. Lo udah bisa membuat diri gue melupakan kerasnya hidup di jalan raya. Sekaligus, lo bisa membuat diri gue malu di depan umum! XD
baca: ucapan terima kasih gue terhadap Damar itu senada dengan ucapan terima kasih a la testimonial... Klinik Tong Tong... You know what I mean XD maaf kalau2 ada berbagai pihak yang tersungging eh salah tersinggung atas bercandaan yang satu ini. Gue gak bermaksud rasis kok :D
Gara2 dia ada, gue jadi ngelupain apapun yang bikin gue bete. Misalnya, skirpsi dan kepengurusan Antropos 2013. Semua itu bikin gue bete. Tetapi, ketika dia ada - dia menghibur diri gue. Baik secara implisit maupun secara eksplisit. Enggak kayak temen2 gue yang lain. Mereka semua cuma bisa menuntut diri gue agar cepat menyelesaikan skripsi dan Antropos 2013.
Orang2 yang seperti itu lebih baik gue acuhin aja. Gue hargai diri mereka dengan sikap acuh gue dan... Kalaupun gue jawab, gue bakal jawab apa adanya. Mereka harus mengerti bahwa mengejrkana skripsi dan majalah itu bukanlah pekerjaan yang mudah.
Oke, lebih baik cerita duka mengenai skripsi dan majalah ditunda terlebih dahulu.
Enggak ada salahnya sih berduka. Tapi, rasa duka yang disimpan maupun diceritakan terlampau lama juga enggak baik baik buat psikis maupun fisiologi diri. Betul?
Kayak yang mau gue ceirtain ini. Cerita seorang pria yang mampu menghibur diri gue. Sekalipun ia menghibur diri gue dalam waktu yang sekejap, tapi gue merasakan manfaatnya berabad-abad - bisa jadi manfaatnya lebih lama ketimbang usia gue yang diprediksikan fana ini: kurang dari seabad.
Suatu kali kami semua berjalan ke Desa Nunuk dari Depok dengan naik Bus Loragung. Sebuah bus yang ditumpangi oleh para supir dan kenek Wong Jowo yang begitu piawai dalam mengatur jalannya melampaui jalur pantura. Para supir dan kenek tersebut juga begitu piawai dalam mengendarakan bus besarnya itu cepat-cepat. Mereka tidak merasa tergesa-gesa. Tetapi, mereka juga tidak merasa santai dalam mengendarai bus itu.
Mereka hanya santai dalam kecepatan yang begitu tinggi.
Alat ukur santai yang terdapat di dalam diri mereka begitu berbeda dengan diri gue: di atas 100 km/jam!
Hingga suatu kali bus itu rem mendadak karena harus bisa mengikuti kecepatan truk yang menghalanginya di depan. Kalau mereka tidak memaksakan rem tersebut, kami semua akan celaka. Truk yang ada di depan juga akan celaka.
Klakson dibunyikan. Gue begitu sakit hati melihat kelakuan supir yang 'begitu santai' itu. Ini merupakan sebuah ironi dari hati dan jantung gue yang begitu lemah terhadap budaya mengebut a la Supir dan Kenek Loragung jalur Pantura.
Sang Supir agak kesal. Sang Kenek agak tertawa melihat perilakunya itu. Ia menertawakan perilaku truk yang menghalangi kami. Sepertinya begitu. Atau mudah-mudahan interpretasi dalam benak imaji diri gue yang begitu minim ini salah sepenuhnya.
Gue sama sekali enggak bisa memahami budaya mereka. Karena gue enggak biasa melakukan budaya tersebut. Karena gue enggak bisa mengikuti budaya tersebut. Karena...
"Di, kenapa? Kok tampangnya stres gitu?". Sahut Damar kepada diri gue. Sahutannya itu membuat diri gue tenang dan sedikit demi sedikit melupakan pahitnya menumpang di Bus Loragung ini.
Gue: Iya. Biasa, gue tadi takut banget ngelihat supirnya hampir nabrak truk tadi. Gila, jantung gue mau copot. Untung aja selamat gara2 doa nyokap.
Damar: Hahaha, seloow. Gue juga mayan tegang kok (tertawa). By the way, lo tahu enggak, cheat terpenting di GTA San Andreas?
Gue: Hehehe. Tahu dong. R1 R2 L1 R2 kiri kanan atas bawah kiri kanan atas bawah.
Damar: Itu cheat health ya. Itu gak penting lho.
Gue: Lho, apaan lagi yang lebih penting?
Kemudian dia melantunkan sebuah cheat yang sama sekali enggak gue ngerti. Gue enggak inget sama cheat itu.
Damar: Tahu enggak?
Gue: Enggak. Apaan sih?
Damar: Jet pack.
Gue tertawa keras-keras di bus itu. Kali ini, kebalik. Semua hening bukan gara-gara melihat kecelakaan yang tadi hampir aja terjadi, melainkan... Hening gara-gara melihat diri gue tertawa terbahak-bahak. Lambat laun, anak antrop yang ikut pada tertawa, dosen juga ikutan tertawa, bahkan... Para supir dan kenek juga tersenyum - sinis, lebar, biasa, bahkan juga tertawa kecil melihat tingkah laku bocah dari Bintaro ini!
Terima kasih, Damar. Lo udah bisa membuat diri gue melupakan kerasnya hidup di jalan raya. Sekaligus, lo bisa membuat diri gue malu di depan umum! XD
baca: ucapan terima kasih gue terhadap Damar itu senada dengan ucapan terima kasih a la testimonial... Klinik Tong Tong... You know what I mean XD maaf kalau2 ada berbagai pihak yang tersungging eh salah tersinggung atas bercandaan yang satu ini. Gue gak bermaksud rasis kok :D
Selasa, 12 November 2013
Teman sebagai Penghibur Sejati - Teman itu Bernama Damar (1)
Ada berbagai orang yang bisa kita klasifikasikan di dalam benak.
Ada orang-orang yang kita golongkan di dalam daftar 'orang-orang yang gue cintai'. Golongan ini hadir sebagai rumah dan kediaman. Tempat kita kembali - mengistirahatkan sejenak jiwa raga yang telah lelah akibat masalah-masalah yang enggak lain dan enggak bukan berasal dari perilaku tidak seronok makhluk sesama spesies kita - manusia! So, feel at home, safe as houses.
Itulah orang-orang yang kita. Oke, khususnya buat diri gue - merekalah orang yang gue cintai. Keberadaan mereka membuat gue bagaikan di rumah sendiri dan merasa aman dan nyaman. Ketika gue bertemu dengannya, kedua rasa yang menyenangkan itu muncul serta-merta.
Orang yang gue cintai ini secara primer berasal dari keluarga inti. Kecuali ayah kandung. Kemudian, itu melebar jadi keluarga luas. Hingga kemudian, itu meluas lagi menjadi teman-teman seperjuangan.
Dalam konteks teman seperjuangan, ada beberapa kelas lagi yang bisa gue bagi-bagi seenak jidat. Ada sahabat terbaik sepanjang masa: Arifi, Arif Gendut, Irrul, Gilang, dan Riandi. Ada sahabat tambahan yang juga setia: Naufal, Yudha Bibir, Tomang, Ben, dan... Semua teman di jurusan Antrop 2010. Selain itu, ada juga teman-teman biasa yang biasa gue tolong dan enggak gue acuhkan ketika mereka meminta tolong sampai nugging-nungging enggak karuan.
Salah seorang teman di jurusan Antrop 2010 itu ialah Damar.
Gue selalu tertawa terbahak-bahak ketika dia mendeskripsikan dirinya di twitter-nya hanya dalam sebuah kata: GANTENG. Mar, lo mau narsis apa mau jujur? XD
Damar ini merupakan teman yang gak mau pilih kasih dengan teman sesama Antropnya. Gue masih inget, ketika gue masih maba bersamanya, gue selalu takut diawasi oleh senior. Dia - bersama dengan Anis, Mbing, dan Bacang - serta-merta menenangkan diri gue dengan berkata, "Jangan takut, Di. Namanya juga senior. Mereka ngospekin kita cuma buat ngisengin mental kita aja. Kalau kita sadar, lama-lama rasa takut juga bakalan hilang!".
Sungguh baik teman itu. Dan diri gue sangat beruntung karena pernah memilikinya.
Ada seorang senior yang waktu itu paling gue takutin. Perawakannya besar, bongsor. Mukanya brewokan - subur makmur kalau sekedar soal jenggot dan kumis (?). Kemudian, dia suka banget berkata kasar ke juniornya yang menurutnya enggak becus. Waktu itu, dia kebetulan jadi senior yang suka mendisiplinkan juniornya dalam konteks Ospek di FISIP UI - biasa disebut denga kepanitaan Tibum (ketertiban umum).
Dia suka banget berkata, "Lari lari lari! Cepetan, gak pake lama!".
Gue takut sambil berlari. Damar menangkap gue dan berkata, "Enggak usah lebay, Di. Santai.". Gue menenangkan diri dengan mengikuti irama jalan cepatnya Damar. Kemudian, Damar berkata, "Gak pake lama. Kata si Paul... Gak pake lama, kayak mau mesen makanan di restoran aja.".
Gue tertawa terbahak-bahak.
Dan Paul pun berkata keras, "Siapa tuh yang ketawa?".
Gue dan Damar baru kemudian lari secepat Usain Bolt (?) atas peringatan yang lebih keras tersebut. Setelah sampai di tujuan, kami berdua tertawa terbahak-bahak melepaskan penat yang ada.
Ternyata, di tengah kejadian yang terkeras sekalipun ada juga hal yang lucu.
Ada orang-orang yang kita golongkan di dalam daftar 'orang-orang yang gue cintai'. Golongan ini hadir sebagai rumah dan kediaman. Tempat kita kembali - mengistirahatkan sejenak jiwa raga yang telah lelah akibat masalah-masalah yang enggak lain dan enggak bukan berasal dari perilaku tidak seronok makhluk sesama spesies kita - manusia! So, feel at home, safe as houses.
Itulah orang-orang yang kita. Oke, khususnya buat diri gue - merekalah orang yang gue cintai. Keberadaan mereka membuat gue bagaikan di rumah sendiri dan merasa aman dan nyaman. Ketika gue bertemu dengannya, kedua rasa yang menyenangkan itu muncul serta-merta.
Orang yang gue cintai ini secara primer berasal dari keluarga inti. Kecuali ayah kandung. Kemudian, itu melebar jadi keluarga luas. Hingga kemudian, itu meluas lagi menjadi teman-teman seperjuangan.
Dalam konteks teman seperjuangan, ada beberapa kelas lagi yang bisa gue bagi-bagi seenak jidat. Ada sahabat terbaik sepanjang masa: Arifi, Arif Gendut, Irrul, Gilang, dan Riandi. Ada sahabat tambahan yang juga setia: Naufal, Yudha Bibir, Tomang, Ben, dan... Semua teman di jurusan Antrop 2010. Selain itu, ada juga teman-teman biasa yang biasa gue tolong dan enggak gue acuhkan ketika mereka meminta tolong sampai nugging-nungging enggak karuan.
Salah seorang teman di jurusan Antrop 2010 itu ialah Damar.
Gue selalu tertawa terbahak-bahak ketika dia mendeskripsikan dirinya di twitter-nya hanya dalam sebuah kata: GANTENG. Mar, lo mau narsis apa mau jujur? XD
Damar ini merupakan teman yang gak mau pilih kasih dengan teman sesama Antropnya. Gue masih inget, ketika gue masih maba bersamanya, gue selalu takut diawasi oleh senior. Dia - bersama dengan Anis, Mbing, dan Bacang - serta-merta menenangkan diri gue dengan berkata, "Jangan takut, Di. Namanya juga senior. Mereka ngospekin kita cuma buat ngisengin mental kita aja. Kalau kita sadar, lama-lama rasa takut juga bakalan hilang!".
Sungguh baik teman itu. Dan diri gue sangat beruntung karena pernah memilikinya.
Ada seorang senior yang waktu itu paling gue takutin. Perawakannya besar, bongsor. Mukanya brewokan - subur makmur kalau sekedar soal jenggot dan kumis (?). Kemudian, dia suka banget berkata kasar ke juniornya yang menurutnya enggak becus. Waktu itu, dia kebetulan jadi senior yang suka mendisiplinkan juniornya dalam konteks Ospek di FISIP UI - biasa disebut denga kepanitaan Tibum (ketertiban umum).
Dia suka banget berkata, "Lari lari lari! Cepetan, gak pake lama!".
Gue takut sambil berlari. Damar menangkap gue dan berkata, "Enggak usah lebay, Di. Santai.". Gue menenangkan diri dengan mengikuti irama jalan cepatnya Damar. Kemudian, Damar berkata, "Gak pake lama. Kata si Paul... Gak pake lama, kayak mau mesen makanan di restoran aja.".
Gue tertawa terbahak-bahak.
Dan Paul pun berkata keras, "Siapa tuh yang ketawa?".
Gue dan Damar baru kemudian lari secepat Usain Bolt (?) atas peringatan yang lebih keras tersebut. Setelah sampai di tujuan, kami berdua tertawa terbahak-bahak melepaskan penat yang ada.
Ternyata, di tengah kejadian yang terkeras sekalipun ada juga hal yang lucu.
Malam itu Teman Berkata: Tentukan Sendiri, Lo Udah Dewasa, Di
Kali ini, gue mau ceritakan sebuah hal yang berbeda lagi dengan yang sebelum-sebelumnya.
Memang, ada benang merah antara tiga cerita ini. Benang merah yang muncul ialah pendapat teman mengenai diri gue. Gue butuh mereka berpendapat agar diri ini semakin baik. Demi kebaikan diri sendiri dan demi kebaikan orang-orang yang membutuhkan gue, Atas Nama Yang Ilahi.
Selama gue masih hidup. Selama jantung gue masih berdetak. Selama gue masih diizinkan menghisap dan menghembuskan nafas. Selama ruh gue masih bersambung dengan tubuh. Selagi pikiran dan jiwa gue masih dianggap normal.
Gue akan masih terus menunggu dan menampung kritik yang terus bertubi-tubi menusuk diri ini.
Kalau bukan buat kebaikan bersama, kenapa enggak?
Ada sebuah malam lagi yang gue paksakan ia untuk menemani gue biar berkontemplasi kembali bersama kawan.
Dan semoga saja Sang Rembulan tetap murka di samping ia mengingatkan diri gue dengan lembut.
"Jangan malam-malam. Kamu besok mesti nyupir." - katanya mungkin seperti itu.
Suatu siang, gue datang ke kampus awalnya untuk berdiskusi dengan salah seorang teman saya. Teman saya itu bernama Mbing. Seorang teman yang sangat baik ke diri ini. Dia selalu menenangkan diri gue ketika diri gue ini lagi dilanda kegalauan. Sangat jelas - saya berani menilai ia sebagai orang yang enggak tahan terhadap teman seperjuangan sendiri yang teralienasi atas dasar apapun.
Atas dasar apapun, dasar tersebut tetaplah menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Dan hal itu harus dihindarkan sebisa mungkin. Kalaupun terjadi, hal itu harus dicarikan solusinya dan dipraktikan sesegera mungkin.
Teman itu datang ke kampus agak siang. Dia menyuruh saya untuk menunggunya di penjara. Maksudnya, penjara itu tempat fotokopi yang ada di FISIP UI karena bentuknya mirip penjara. Tepat pukul 12.00 WIB, pria tersebut datang dan menyahut, "Udah lama nungguin? Sorry ya, Di!".
Kemudian, tanpa berbasa-basi gue langsung mengajak dia untuk belajar di rumah gue. Menginap dalam waktu sehari. Gue pikir dan gue rasa, Mbing merupakan teman pertama di waktu kuliah yang bermalam di rumah gue,
Berjalan dengan santai, kami berdua tiba di rumah pada pukul 13.15 WIB. Kami disambut dengan hangat oleh keluarga besar gue. Keponakan gue malu-malu melihat ada Om Mbing yang baru saja pertama kali datang ke rumah gue. Kemudian, kami berdua diajak makan siang bareng keluarga.
Sembari makan siang, Mbing diajak ngobrol sama nyokap. Nyokap banyak bertanya-tanya kepada Mbing. Mulai dari hal yang penting seperti waktu kuliah hingga hal yang enggak penting seperti udah pernah punya pacar apa belum. Tapi gue pribadi sama sekali enggak malu. Nyokap berhak buat bertanya tentang apapun tentang teman gue. Dan begitu juga dengan kebalikannya. Soal konsensus mengenai pertanyaan dan jawaban yang dirasa sensitif, ya itu merupakan urusan kedua belah pihak. Bukan gue yang mengurusnya. Bukan gue yang mengaturnya. Itu hak mereka semua sepenuhnya. Bukan hak gue.
Sore telah tiba. Mbing masih sibuk mengerjakan transkrip yang disuruh sama Kak Hestu. Setelah ia selesai, ia minta istirahat dulu. Ia gue izinkan untuk bersetubuh dengan kasur yang biasa gue setubuhi. Enggak apa-apa, teman laki ini. Kalau teman perempuan, itu ceritanya beda 180 derajat.
Malam telah tiba. Sang Rembulan gue perhatikan mulai bekerja dengan giat. Ia terus menatap kami semua yang masih berkegiatan. Ia merasa bahwa tugasnya selesai dalam mengurus masyarakat terisolir (remote communities) seperti Etnis Tengger di Pegunungan Semeru. Kemudian, ia merasa bahwa tugasnya baru separuh selesai dalam mengurus masyarakat pedesaan seperti Desa Nunuk di Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu - yang tidak lain dan tidak bukan merupakan desa kedua yang pernah gue temui setelah Desa Cigombong di Diklat Pesantren al-Azhar.
Dan, ia mulai mengeluh ketika diminta mengistirahatkan perkotaan, manusia, dan kebudayaannya.
Mereka masih saja sibuk. Ada yang kerja lembur. Ada yang masih mengatasi kemacetan. Ada yang masih bekerja di tengah jalan membangun proyek tertentu. Ada kuli yang masih melek matanya. Ada pramu syahwat yang baru saja bekerja. Ada berbagai orang yang baru saja memulai kegiatannya berfoya-foya di diskotik atau bar tertentu. Ada pula suami yang baru pulang dari kerja kantornya dan dicium oleh istrinya... Dan istrinya bertanya, "Bau apaan ini? Kok wangi bener - kayak bau cewek. Kamu enggak selingkuh, kan?". Enggak sih, yang terakhir ini cuma bayangan yang muncul secara random dari benak gue yang begitu minim fantasinya.
Tapi, begitulah sekelumit budaya perkotaan pada umumnya di malam hari. Dan semakin ke sini bukannya kita semakin menyadari, bahwa - kata 'budaya' itu bisa diganti menjadi 'masalah'. Jadi, apa bedanya budaya perkotaan dengan masalah perkotaan? Siapa suruh tinggal di kota kalau kota merupakan sumber daya masalah. Memang, kota mempunyai sumber daya yang enggak ada di desa maupun daerah terisolir. Misalnya, kemewahan. Tetapi, dalam konteks yang ada di saat ini, kota malahan juga mempunyai segala macam sumber daya masalah yang bikin sakit kepala manusia-manusianya, seperti: kemacetan, perselingkuhan, tipu muslihat, kriminalitas, gosip - kabar burung - fitnah, korupsi, dan sebagainya! Orang-orang yang hidup di situ pasti sadar akan hal ini.
Tetapi, mereka enggak mau tahu. Mereka terus berpikir bahwa sumber daya terbaik hanya bisa didapatkan di kota. Maka, pantas saja angka kepadatan di Jakarta dan sekitarnya tiap tahun semakin naik apalagi setelah musim lebaran baru saja habis. Sebelum lebaran, kemacetan berkurang drastis. Setelah lebaran, kemacetan bertambah parah - lebih parah malahan ketimbang yang pernah dialami seperti yang sebelum-sebelumnya. :"(
Teman yang menumpang sementara di rumah gue buat hari ini mengerut dan bertanya, "Kenapa Di. Ngelamun sambil nengokin bulan?".
Saya jawab, "Eh, Mbing.".
Kemudian gue langsung aja menceritakan apa yang tadi muncul di benak gue. Dia langsung berkata dengan tanggap, "Lo sangat suka berkontemplasi ya. Jangan pelit-pelit dong! Maksudnya, kan ada orang lain nih (nunjuk ke diri sendirinya) - ajak-ajak gue buat ikutan kontemplasi kenapa? Kayaknya lo lagi banyak pikiran dan pemikiran nih. Mungkin-mungkin aja gue bisa bantuin menyederhanakan?".
"Terima kasih, hai kawan." Gue menjawabnya dan melanjutkan, "Ceritanya baru aja gue mulai, nih.".
Gue: Jadi, Nendi berkata ke gue kalau diri gue terlalu baik. Sedang, Imam berkata bahwa diri gue tetap harus baik. Apa yang mesti gue lakukan, at this rate?
Mbing: Tentukan sendiri, lo udah dewasa, Di. Apa mendingan gue ceritain pengalaman gue aja?
Gue: Boleh. Soalnya gue bingung.
Mbing: Oke, jangan bingung. Soalnya, abis lo bingung - lo terus galau. Jadi gini. Gue malah bersyukur ketika gue masih bisa berbuat baik sama orang lain. Kenapa? Artinya gue masih berguna buat orang lain dong. Ya enggak?
Gue: Ooh.
Mbing: Dan ketika lo menjawab bahwa... Lo baik karena gue pengen diri lo berbahagia bersama orang lain, lo udah bagus. Sebenernya, tinggal gimana lo mempertahankan argumentasi lo yang tadi.
Gue: Oke...
Mbing: Tapi, lo masih harus ingat sama batasan.
Mbing (lagi): Ketika lo terus melakukan kebaikan, lo mesti sadar sama batasan tertentu. Gini, Nendi kasihan sama lo karena dia takut ketika orang lain yang pernah lo tolongin enggak bisa membalas kebaikan lo. Atas dasar apapun. Entah gara-gara sibuk, atau malah malas!
Diri gue terperanjak!
Gue: Malas? Lho, gue selama ini udah rajin-rajinnya nolongin dia. Kok dia bisa serta-merta males nolongin gua??
Mbing: Karena dia punya masalah sendiri. Ada pengalaman yang membentuknya jadi enggan buat membalas kebaikan orang lain, tapi tetap harus menerima kebaikan orang lain.
Gue: Karena?
Mbing: Iya. Itu gue gak bisa jelasin secara detail. Pokoknya gitulah. Karena, ujung-ujungnya itu masalah pribadi orang tersebut.
Gue: Oke...
Mbing: Dan mendingan kita fokus dulu ke masalah diri sendiri. Ke masalah pribadi lo dulu, mengenai 'apakah gue pantas berbuat baik ke orang lain apa kagak, sih'. Ya, kan?
Gue: Tepat.
Mbing: Gue lanjutin.. Tadi sampai di mana? Ingat batasan! Ingat ketika ada orang lain yang malas buat membalas kebaikan lo. Coba, gue tanya. Apa yang mesti lo lakukan?
Gue: Hm.. Gue cerita deh.
Mbing: Cerita!
Gue: Contoh aja.. Yang patut gue sesali itu Rakhmat. Khusus ke diri gue dengan Rakhmat aja. Dia selama ini gue tolong. Terutama buat MPE. Tapi, ada kejadian ketika dia ngomong 'Di, kayaknya gue mau mengundurkan diri.'. Terus gue tanya 'kenapa' - dia gak mau jawab. GUE KAGET. GUE MENYESAL.
Mbing: Kenapa lo menyesal?
Gue: Karena, selama ini gue menolong dia karena gue pengen diri dia sukses bersama dengan diri gue. Akan lebih indah ceritanya apabila dia bisa sukses bersama dengan orang yang pernah menolong dia. Dan lagian, ini masih berdasarkan kemampuan gue kok. Artinya, ini masih bisa gue kendalikan.
Mbing: Apa kemudian keputusan lo?
Gue: Gue cuekin dia sepenuhnya. Dengan terpaksa, gue cuekin dia - jadikan dia dan Tango sebagai dua orang yang gue cuekin - selain mantan ayah kandung.
Gue (lagi): Tapi, gue bingung Mbing. Kenapa gue cuekin mereka? Masa, cuma gara-gara gue kesal terhadap timbal balik yang enggak pantas dari diri mereka ke gua?
Mbing: Karena itu, gue tahu jawabannya.
Gue: Apa itu?
Mbing: Lo menghargai keputusan mereka dengan mengacuhkan mereka. Lebih baik mereka diacuhkan daripada dicelakakan. Karena, lo bukan tipe orang yang suka mencelakai orang lain, kan? Terus, lebih baik mereka diacuhkan daripada mereka diperhatikan. Karena, ketika mereka diperhatikan, mereka malahan enggak mau mengapresiasikan kebaikan lo.
Gue: Mengapa mereka enggak mau mengapresiasikan kebaikan gue? Padahal ini bermanfaat buat diri mereka, lho.
Mbing: KARENA ITULAH KEPUTUSAN MEREKA. LEBIH DETAIL LAGI, KARENA MEREKA PUNYA MASALAH PRIBADI SENDIRI. DAN SELANJUTNYA, MARI KITA SERAHKAN URUSAN INI KEPADA MEREKA. BIARKAN MEREKA BERKONTEMPLASI SENDIRI - ITUPUN KALAU MEREKA MAU MENGONTEMPLASIKAN HAL TERSEBUT.
....
Sang Rembulan kemudian berkata, "Jalanan yang macet udah gue istirahatin jadi lowong lagi. Suami istri bisa tidur nyenyak dengan kegiatan percintaan mereka - melupakan perdebatan apakah masing-masing dari diri mereka pernah selingkuh apa tidak. Dan sekarang, lo istirahat - berdua sama Mbing. Karena besok lo harus jadi supir pagi2 nganterin Mbing ke kampus. Soal masalah malam lainnya kayak hura-hura di diskotik, malam pelacuran, dan sebagainya itu - biar gue aja yang ngurusin. Sejatinya, ini merupakan urusan gue - yang enggak selesai-selesai - yang sebenarnya bisa selesai sepenuhnya atas dasar keinginan manusia itu sendiri. Tapi sayang, manusia enggak sepenuhnya bisa menyadari hal tersebut.".
Mari kita tutup malam ini dengan mengucapkan hamdalah seraya berkata, "Ya Allah, terima kasih atas kontemplasinya hari ini. Berikan hamba segenap kekuatan untuk mengatasi hari esok dengan istirahat malam dengan tenang di malam ini. Aamiin YRA,".
Memang, ada benang merah antara tiga cerita ini. Benang merah yang muncul ialah pendapat teman mengenai diri gue. Gue butuh mereka berpendapat agar diri ini semakin baik. Demi kebaikan diri sendiri dan demi kebaikan orang-orang yang membutuhkan gue, Atas Nama Yang Ilahi.
Selama gue masih hidup. Selama jantung gue masih berdetak. Selama gue masih diizinkan menghisap dan menghembuskan nafas. Selama ruh gue masih bersambung dengan tubuh. Selagi pikiran dan jiwa gue masih dianggap normal.
Gue akan masih terus menunggu dan menampung kritik yang terus bertubi-tubi menusuk diri ini.
Kalau bukan buat kebaikan bersama, kenapa enggak?
Ada sebuah malam lagi yang gue paksakan ia untuk menemani gue biar berkontemplasi kembali bersama kawan.
Dan semoga saja Sang Rembulan tetap murka di samping ia mengingatkan diri gue dengan lembut.
"Jangan malam-malam. Kamu besok mesti nyupir." - katanya mungkin seperti itu.
Suatu siang, gue datang ke kampus awalnya untuk berdiskusi dengan salah seorang teman saya. Teman saya itu bernama Mbing. Seorang teman yang sangat baik ke diri ini. Dia selalu menenangkan diri gue ketika diri gue ini lagi dilanda kegalauan. Sangat jelas - saya berani menilai ia sebagai orang yang enggak tahan terhadap teman seperjuangan sendiri yang teralienasi atas dasar apapun.
Atas dasar apapun, dasar tersebut tetaplah menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Dan hal itu harus dihindarkan sebisa mungkin. Kalaupun terjadi, hal itu harus dicarikan solusinya dan dipraktikan sesegera mungkin.
Teman itu datang ke kampus agak siang. Dia menyuruh saya untuk menunggunya di penjara. Maksudnya, penjara itu tempat fotokopi yang ada di FISIP UI karena bentuknya mirip penjara. Tepat pukul 12.00 WIB, pria tersebut datang dan menyahut, "Udah lama nungguin? Sorry ya, Di!".
Kemudian, tanpa berbasa-basi gue langsung mengajak dia untuk belajar di rumah gue. Menginap dalam waktu sehari. Gue pikir dan gue rasa, Mbing merupakan teman pertama di waktu kuliah yang bermalam di rumah gue,
Berjalan dengan santai, kami berdua tiba di rumah pada pukul 13.15 WIB. Kami disambut dengan hangat oleh keluarga besar gue. Keponakan gue malu-malu melihat ada Om Mbing yang baru saja pertama kali datang ke rumah gue. Kemudian, kami berdua diajak makan siang bareng keluarga.
Sembari makan siang, Mbing diajak ngobrol sama nyokap. Nyokap banyak bertanya-tanya kepada Mbing. Mulai dari hal yang penting seperti waktu kuliah hingga hal yang enggak penting seperti udah pernah punya pacar apa belum. Tapi gue pribadi sama sekali enggak malu. Nyokap berhak buat bertanya tentang apapun tentang teman gue. Dan begitu juga dengan kebalikannya. Soal konsensus mengenai pertanyaan dan jawaban yang dirasa sensitif, ya itu merupakan urusan kedua belah pihak. Bukan gue yang mengurusnya. Bukan gue yang mengaturnya. Itu hak mereka semua sepenuhnya. Bukan hak gue.
Sore telah tiba. Mbing masih sibuk mengerjakan transkrip yang disuruh sama Kak Hestu. Setelah ia selesai, ia minta istirahat dulu. Ia gue izinkan untuk bersetubuh dengan kasur yang biasa gue setubuhi. Enggak apa-apa, teman laki ini. Kalau teman perempuan, itu ceritanya beda 180 derajat.
Malam telah tiba. Sang Rembulan gue perhatikan mulai bekerja dengan giat. Ia terus menatap kami semua yang masih berkegiatan. Ia merasa bahwa tugasnya selesai dalam mengurus masyarakat terisolir (remote communities) seperti Etnis Tengger di Pegunungan Semeru. Kemudian, ia merasa bahwa tugasnya baru separuh selesai dalam mengurus masyarakat pedesaan seperti Desa Nunuk di Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu - yang tidak lain dan tidak bukan merupakan desa kedua yang pernah gue temui setelah Desa Cigombong di Diklat Pesantren al-Azhar.
Dan, ia mulai mengeluh ketika diminta mengistirahatkan perkotaan, manusia, dan kebudayaannya.
Mereka masih saja sibuk. Ada yang kerja lembur. Ada yang masih mengatasi kemacetan. Ada yang masih bekerja di tengah jalan membangun proyek tertentu. Ada kuli yang masih melek matanya. Ada pramu syahwat yang baru saja bekerja. Ada berbagai orang yang baru saja memulai kegiatannya berfoya-foya di diskotik atau bar tertentu. Ada pula suami yang baru pulang dari kerja kantornya dan dicium oleh istrinya... Dan istrinya bertanya, "Bau apaan ini? Kok wangi bener - kayak bau cewek. Kamu enggak selingkuh, kan?". Enggak sih, yang terakhir ini cuma bayangan yang muncul secara random dari benak gue yang begitu minim fantasinya.
Tapi, begitulah sekelumit budaya perkotaan pada umumnya di malam hari. Dan semakin ke sini bukannya kita semakin menyadari, bahwa - kata 'budaya' itu bisa diganti menjadi 'masalah'. Jadi, apa bedanya budaya perkotaan dengan masalah perkotaan? Siapa suruh tinggal di kota kalau kota merupakan sumber daya masalah. Memang, kota mempunyai sumber daya yang enggak ada di desa maupun daerah terisolir. Misalnya, kemewahan. Tetapi, dalam konteks yang ada di saat ini, kota malahan juga mempunyai segala macam sumber daya masalah yang bikin sakit kepala manusia-manusianya, seperti: kemacetan, perselingkuhan, tipu muslihat, kriminalitas, gosip - kabar burung - fitnah, korupsi, dan sebagainya! Orang-orang yang hidup di situ pasti sadar akan hal ini.
Tetapi, mereka enggak mau tahu. Mereka terus berpikir bahwa sumber daya terbaik hanya bisa didapatkan di kota. Maka, pantas saja angka kepadatan di Jakarta dan sekitarnya tiap tahun semakin naik apalagi setelah musim lebaran baru saja habis. Sebelum lebaran, kemacetan berkurang drastis. Setelah lebaran, kemacetan bertambah parah - lebih parah malahan ketimbang yang pernah dialami seperti yang sebelum-sebelumnya. :"(
Teman yang menumpang sementara di rumah gue buat hari ini mengerut dan bertanya, "Kenapa Di. Ngelamun sambil nengokin bulan?".
Saya jawab, "Eh, Mbing.".
Kemudian gue langsung aja menceritakan apa yang tadi muncul di benak gue. Dia langsung berkata dengan tanggap, "Lo sangat suka berkontemplasi ya. Jangan pelit-pelit dong! Maksudnya, kan ada orang lain nih (nunjuk ke diri sendirinya) - ajak-ajak gue buat ikutan kontemplasi kenapa? Kayaknya lo lagi banyak pikiran dan pemikiran nih. Mungkin-mungkin aja gue bisa bantuin menyederhanakan?".
"Terima kasih, hai kawan." Gue menjawabnya dan melanjutkan, "Ceritanya baru aja gue mulai, nih.".
Gue: Jadi, Nendi berkata ke gue kalau diri gue terlalu baik. Sedang, Imam berkata bahwa diri gue tetap harus baik. Apa yang mesti gue lakukan, at this rate?
Mbing: Tentukan sendiri, lo udah dewasa, Di. Apa mendingan gue ceritain pengalaman gue aja?
Gue: Boleh. Soalnya gue bingung.
Mbing: Oke, jangan bingung. Soalnya, abis lo bingung - lo terus galau. Jadi gini. Gue malah bersyukur ketika gue masih bisa berbuat baik sama orang lain. Kenapa? Artinya gue masih berguna buat orang lain dong. Ya enggak?
Gue: Ooh.
Mbing: Dan ketika lo menjawab bahwa... Lo baik karena gue pengen diri lo berbahagia bersama orang lain, lo udah bagus. Sebenernya, tinggal gimana lo mempertahankan argumentasi lo yang tadi.
Gue: Oke...
Mbing: Tapi, lo masih harus ingat sama batasan.
Mbing (lagi): Ketika lo terus melakukan kebaikan, lo mesti sadar sama batasan tertentu. Gini, Nendi kasihan sama lo karena dia takut ketika orang lain yang pernah lo tolongin enggak bisa membalas kebaikan lo. Atas dasar apapun. Entah gara-gara sibuk, atau malah malas!
Diri gue terperanjak!
Gue: Malas? Lho, gue selama ini udah rajin-rajinnya nolongin dia. Kok dia bisa serta-merta males nolongin gua??
Mbing: Karena dia punya masalah sendiri. Ada pengalaman yang membentuknya jadi enggan buat membalas kebaikan orang lain, tapi tetap harus menerima kebaikan orang lain.
Gue: Karena?
Mbing: Iya. Itu gue gak bisa jelasin secara detail. Pokoknya gitulah. Karena, ujung-ujungnya itu masalah pribadi orang tersebut.
Gue: Oke...
Mbing: Dan mendingan kita fokus dulu ke masalah diri sendiri. Ke masalah pribadi lo dulu, mengenai 'apakah gue pantas berbuat baik ke orang lain apa kagak, sih'. Ya, kan?
Gue: Tepat.
Mbing: Gue lanjutin.. Tadi sampai di mana? Ingat batasan! Ingat ketika ada orang lain yang malas buat membalas kebaikan lo. Coba, gue tanya. Apa yang mesti lo lakukan?
Gue: Hm.. Gue cerita deh.
Mbing: Cerita!
Gue: Contoh aja.. Yang patut gue sesali itu Rakhmat. Khusus ke diri gue dengan Rakhmat aja. Dia selama ini gue tolong. Terutama buat MPE. Tapi, ada kejadian ketika dia ngomong 'Di, kayaknya gue mau mengundurkan diri.'. Terus gue tanya 'kenapa' - dia gak mau jawab. GUE KAGET. GUE MENYESAL.
Mbing: Kenapa lo menyesal?
Gue: Karena, selama ini gue menolong dia karena gue pengen diri dia sukses bersama dengan diri gue. Akan lebih indah ceritanya apabila dia bisa sukses bersama dengan orang yang pernah menolong dia. Dan lagian, ini masih berdasarkan kemampuan gue kok. Artinya, ini masih bisa gue kendalikan.
Mbing: Apa kemudian keputusan lo?
Gue: Gue cuekin dia sepenuhnya. Dengan terpaksa, gue cuekin dia - jadikan dia dan Tango sebagai dua orang yang gue cuekin - selain mantan ayah kandung.
Gue (lagi): Tapi, gue bingung Mbing. Kenapa gue cuekin mereka? Masa, cuma gara-gara gue kesal terhadap timbal balik yang enggak pantas dari diri mereka ke gua?
Mbing: Karena itu, gue tahu jawabannya.
Gue: Apa itu?
Mbing: Lo menghargai keputusan mereka dengan mengacuhkan mereka. Lebih baik mereka diacuhkan daripada dicelakakan. Karena, lo bukan tipe orang yang suka mencelakai orang lain, kan? Terus, lebih baik mereka diacuhkan daripada mereka diperhatikan. Karena, ketika mereka diperhatikan, mereka malahan enggak mau mengapresiasikan kebaikan lo.
Gue: Mengapa mereka enggak mau mengapresiasikan kebaikan gue? Padahal ini bermanfaat buat diri mereka, lho.
Mbing: KARENA ITULAH KEPUTUSAN MEREKA. LEBIH DETAIL LAGI, KARENA MEREKA PUNYA MASALAH PRIBADI SENDIRI. DAN SELANJUTNYA, MARI KITA SERAHKAN URUSAN INI KEPADA MEREKA. BIARKAN MEREKA BERKONTEMPLASI SENDIRI - ITUPUN KALAU MEREKA MAU MENGONTEMPLASIKAN HAL TERSEBUT.
....
Sang Rembulan kemudian berkata, "Jalanan yang macet udah gue istirahatin jadi lowong lagi. Suami istri bisa tidur nyenyak dengan kegiatan percintaan mereka - melupakan perdebatan apakah masing-masing dari diri mereka pernah selingkuh apa tidak. Dan sekarang, lo istirahat - berdua sama Mbing. Karena besok lo harus jadi supir pagi2 nganterin Mbing ke kampus. Soal masalah malam lainnya kayak hura-hura di diskotik, malam pelacuran, dan sebagainya itu - biar gue aja yang ngurusin. Sejatinya, ini merupakan urusan gue - yang enggak selesai-selesai - yang sebenarnya bisa selesai sepenuhnya atas dasar keinginan manusia itu sendiri. Tapi sayang, manusia enggak sepenuhnya bisa menyadari hal tersebut.".
Mari kita tutup malam ini dengan mengucapkan hamdalah seraya berkata, "Ya Allah, terima kasih atas kontemplasinya hari ini. Berikan hamba segenap kekuatan untuk mengatasi hari esok dengan istirahat malam dengan tenang di malam ini. Aamiin YRA,".
Malam itu Teman Berkata: Lakukan, Karena Ardi adalah Kebaikan
Ada malam lain yang memaksa gue kembali berkontemplasi.
Sekalipun fakta mengungkap bahwa yang terjadi justru malah sebaliknya: diri gue memaksakan diri buat berkontemplasi. Di tengah lembutnya kemurkaan Sang Rembulan dan Awan Malam yang tiada henti-hentinya menenangkan manusia yang memandangnya untuk istirahat malam.
Mengapa malam menjadi waktu yang cocok untuk berkontemplasi sekaligus untuk beristirahat?
Gue kira, hanya Allah Swt yang mengetahui jawaban ini.
Kita sebagai manusia hanya bisa menyimpulkan bahwa malam memang menjadi waktu yang ajaib untuk melakukan beberapa hal seperti:
1. Tidur malam menyiapkan tenaga untuk hari esok
2. Ibadah malam, berkontemplasi Atas Nama Yang Ilahi
3. Menenggelamkan jiwa raga ke dalam percintaan - sebuah hal yang wajib dilakukan oleh tiap pasangan yang dianugrahi Oleh-Nya dalam konteks mawadah atas dasar warahmah
4. Berdiskusi dengan teman yang kebetulan juga ikut begadang. Sekalipun Bang Rhoma melarang hal yang satu ini, tapi kalaupun terlanjut terjadi ya sudahlah
5. Stargazing - Sykscraper - gazing... Menatap keindahan budaya manusia dan (hanya sebagian) Karya Yang Ilahi dalam selimut Langit Biru Tua itu... Tanpa lupa memuji Nama-Nya.
Boleh juga, lho:
6. Olahraga... Tanding sepak bola pada waktu dini hari, mungkin? Bisa juga balapan FIA GT untuk meyemarakan suatu endurance racing event, mungkin?
Bahkan! Sampai-sampai kita bisa melakukan...:
7. Berbuat kriminal seperti maling dan memperkosa manusia (?).
Iya. Pantas saja Sang Rembulan dan kawan-kawannya murka. Tetapi, kemurkaan mereka semua - yang disertai dengan kelembutan - tetap saja tidak mempengaruhi manusia untuk bisa mereduksi kegiatan-kegiatan malamnya hingga tetap pada nomor pertama.
Nomor pertama? Tidur malam menyiapkan tenaga untuk hari esok.
Termasuk diri gue.
Kebetulan gue masuk ke dalam nomer empat.
Sekali lagi - gue memaksakan diri gue berkontemplasi dengan seorang teman yang bernama Imam. Tepatnya di bawah naungan Indung Semar Desa Nunuk, kemudian...
Imam gue ajak berbincang bersama di rumah, sembari menunggu Bacang datang ke rumah.
Gue: Imam, gue mau nanya sebuah hal.
Imam: Cerita aja.
Gue: Oke.
Imam: Ya, jangan sekedar nanya langsung. Ceritain dulu kenapa lo mau nanyain itu ke gua, gituloh.
Gue: Iya. Jadi gini, ketika gue kemaren berduka di RS Mitra Plumbon, Cirebon... Gue curhat bersama dengan Nendi. Nendi enggak suka dengan sebuah hal dari diri gue...
Imam: Hem.. Jadi, alasannya kenapa dulu?
Gue: Ya.. Gue sedih bahwa ada sebuah hal yang orang lain itu enggak suka sama diri gue...
Gue (lagi): Gini, Mam. Dia bilang ke gue bahwa diri gue itu terlalu baik. Dia bahkan capek banget nonton gue disuruh-suruh sama temen melulu. Dia juga bilang bahwa belum tentu semua orang yang gue tolongin itu bakalan bisa membalas hal yang sama dengan pertolongan yang pernah gue kasih ke diri mereka...
Imam: Oke...
Gue: Jadi, apa yang mesti gue lakukan? Apakah gue mesti serta-merta melakukan saran Nendi? Apakah gue mesti berhenti menolong orang?
Imam: Sebelumnya, gue boleh nanya satu hal enggak... Kenapa lo pengen nolong orang lain?
Gue: Orang yang gue tolong adalah orang yang gue cintai. Atau, orang yang gue tolong adalah orang yang gue kasihani. Mereka gue kasihani karena mereka benar-benar kekurangan sumber daya yang mereka butuhkan. Sedangkan, gue memiliki kelebihan dari sumber daya yang benar-benar mereka butuhkan itu. Gue enggak tahan melihat ketimpangan tersebut! Apalagi dalam konteks ilmu pengetahuan!
Imam: Oke, cukup. Kenapa lo gak bilang ini ke Nendi?
Gue: Udah. Tapi, Nendi tetap kekeh, makanya gue bingung.
Imam: Gini, Di. Nendi tetap kekeh karena dia terlalu sensitif sama lo. Dia kepikiran sama keadaan lo. Dan dia berusaha memposisikan dirinya dengan diri lo. Tapi...
Gue: Apa?
Imam: Orang bisa aja bersimpati, berempati. Tapi, orang lain enggak pernah bisa memposisikan dirinya dengan orang lainnya karena... Dia sendiri bukanlah orang lain. Dia adalah dirinya sendiri. Dia berhak buat mengatur hidupnya sendiri. Celakanya, dia enggak bisa serta-merta mengatur hidup orang lain, karena sebenarnya bukan haknya dia. Hak sepenuhnya, lho.
Gue: Iya...
Imam: Iya, Nendi dalam konteks ini gagal memposisikan dirinya dengan diri lo. Dia cuma bisa mentok ampe taraf empati. Ya, dia cuma kasihan sama diri lo.
Gue: Lho, gue jadi gak bisa mikir apa bedanya. Beda empati sama memposisikan diri orang lain itu gimana, Mam?
Imam: Empati itu cuma merasa, tapi tetep dari kacamata diri sendiri, bukan diri orang lain. Simpati itu empati yang paling dangkal. Memposisikan diri itu...
Gue: merasakan dan mengetahui betul kenapa orang lain itu berbuat yang demikian?
Imam: Tepat! Makanya kan, Nendi enggak paham sama argumen lo mengenai dasar lo berbuat kebaikan. Entah buat bayar utang lah. Entah buat anti ketimpangan lah. Dia selalu membalas dengan rasa kasihan ke diri lo. Dia khawatir kalau diri lo kelelahan pada akhirnya, Di.
Gue: Oke...
Imam: Tapi, lo mesti nyadar satu hal... Kasihan dan kelelahan itu ada di dalam diri Nendi, berasal dari diri Nendi juga. Enggak dari lo!
Bener juga. Menyeramkan, mendengar kata-kata kawan yang satu ini.
Gue: Oke... Jadi, lakukan apa yang mesti gue lakukan, ya? Ikuti hati nurani gua?
Imam: Ya. Karena hati nurani lo selalu menyuruh lo melakukan kebaikan. Ya, itupun berasal dari Yang Ilahi juga, jadi jangan menuhankan hati nurani Daripada-Nya.
Gue: Itu artinya gue Mempersekutukan-Nya dong, Mam.
Kami berdua tertawa keras memecahkan keheningan malam. Sang Rembulan sepertinya setengah kecewa dan setengah terharu melihat tingkah laku kami berdua.
Imam: Ya. Karena, diri lo sebenarnya bisa digambarkan dalam sebuah kata - kebaikan. Selanjut-lanjutnya, ya yang berada di bawah naungan kebaikan itu sendiri, kayak keadilan, kebersamaan, kebahagiaan, kelebihan sumber daya.
Gue: Lo terlalu memuji diri gue, Mam.
Imam: Ya. Tapi itu fakta.
Diri gue terperanjak.
Gue: Kok lo bisa serta-merta ngomong begitu?
Imam: Lihat teman-teman lo. Berbagai simpati empati muncul ke lo yang baik-baik. Salah satunya tadi Nendi. Rasa khawatir dan kasihan itu baik. Terus, Bayu dan lain-lainnya yang sering minta tolong ke lo. Mereka hormat ke lo. Hormat itu baik. Lihat Tango.
Gue terperanjak, lagi-lagi!
Gue: Ada apa dengan si Tango??
Imam: Ini cuma interpretasi gue aja ya, Di. Ada kemungkinan si Tango akan mengacuhkan diri lo setelah kejadian naas. Tapi, mengacuhkan di sini dapat diartikan segan. Segan itu baik. Segan itu model sarkastik dari hormat.
Gue: Oke. Tango segan sama gue.
Imam: Ingat kata-kata terakhirnya dia pas lagi debat kemaren sama lo, Di. Katanya, 'Di, gue belum bisa setulus lo.'. Sekalipun dia bohong, dia cuma bohong dalam konteks memuji lo. Dia jujur, dia jujur mengakui ketulusan lo. Dia jujur - dia terlalu malas untuk tulus seperti diri lo. Karena, dia enggak punya simpati terhadap diri lo yang tulus. Padahal, kata tulus kan berada di bawah naungan kebaikan. Ya?
Gue: Oke, cukup. Gue udah tahu simpulannya. Jantungan gue, dengernya.
Sekali lagi, kami berdua tertawa menyaksikan komentar terakhir gue tadi dengan seksama.
Mari... Kita sudahi kontemplasi malam ini.
Karena, kontemplasi malam ini telah menunjukan sebuah simpulan mengenai kaca diri gue: nama Muhammad Ardi. Muhammad Ardi adalah nama dalam diri gue. Dan dia itu artinya "Manusia Terpuji di Bumi". Sedangkan, terpuji juga merupakan kawan baik dari kebaikan. Terima kasih Ya Allah Swt, Engkau telah memberikan nama yang bagus ini. Terima kasih Mama, aku udah dikasih nama yang bagus sekali :D
Sekalipun fakta mengungkap bahwa yang terjadi justru malah sebaliknya: diri gue memaksakan diri buat berkontemplasi. Di tengah lembutnya kemurkaan Sang Rembulan dan Awan Malam yang tiada henti-hentinya menenangkan manusia yang memandangnya untuk istirahat malam.
Mengapa malam menjadi waktu yang cocok untuk berkontemplasi sekaligus untuk beristirahat?
Gue kira, hanya Allah Swt yang mengetahui jawaban ini.
Kita sebagai manusia hanya bisa menyimpulkan bahwa malam memang menjadi waktu yang ajaib untuk melakukan beberapa hal seperti:
1. Tidur malam menyiapkan tenaga untuk hari esok
2. Ibadah malam, berkontemplasi Atas Nama Yang Ilahi
3. Menenggelamkan jiwa raga ke dalam percintaan - sebuah hal yang wajib dilakukan oleh tiap pasangan yang dianugrahi Oleh-Nya dalam konteks mawadah atas dasar warahmah
4. Berdiskusi dengan teman yang kebetulan juga ikut begadang. Sekalipun Bang Rhoma melarang hal yang satu ini, tapi kalaupun terlanjut terjadi ya sudahlah
5. Stargazing - Sykscraper - gazing... Menatap keindahan budaya manusia dan (hanya sebagian) Karya Yang Ilahi dalam selimut Langit Biru Tua itu... Tanpa lupa memuji Nama-Nya.
Boleh juga, lho:
6. Olahraga... Tanding sepak bola pada waktu dini hari, mungkin? Bisa juga balapan FIA GT untuk meyemarakan suatu endurance racing event, mungkin?
Bahkan! Sampai-sampai kita bisa melakukan...:
7. Berbuat kriminal seperti maling dan memperkosa manusia (?).
Iya. Pantas saja Sang Rembulan dan kawan-kawannya murka. Tetapi, kemurkaan mereka semua - yang disertai dengan kelembutan - tetap saja tidak mempengaruhi manusia untuk bisa mereduksi kegiatan-kegiatan malamnya hingga tetap pada nomor pertama.
Nomor pertama? Tidur malam menyiapkan tenaga untuk hari esok.
Termasuk diri gue.
Kebetulan gue masuk ke dalam nomer empat.
Sekali lagi - gue memaksakan diri gue berkontemplasi dengan seorang teman yang bernama Imam. Tepatnya di bawah naungan Indung Semar Desa Nunuk, kemudian...
Imam gue ajak berbincang bersama di rumah, sembari menunggu Bacang datang ke rumah.
Gue: Imam, gue mau nanya sebuah hal.
Imam: Cerita aja.
Gue: Oke.
Imam: Ya, jangan sekedar nanya langsung. Ceritain dulu kenapa lo mau nanyain itu ke gua, gituloh.
Gue: Iya. Jadi gini, ketika gue kemaren berduka di RS Mitra Plumbon, Cirebon... Gue curhat bersama dengan Nendi. Nendi enggak suka dengan sebuah hal dari diri gue...
Imam: Hem.. Jadi, alasannya kenapa dulu?
Gue: Ya.. Gue sedih bahwa ada sebuah hal yang orang lain itu enggak suka sama diri gue...
Gue (lagi): Gini, Mam. Dia bilang ke gue bahwa diri gue itu terlalu baik. Dia bahkan capek banget nonton gue disuruh-suruh sama temen melulu. Dia juga bilang bahwa belum tentu semua orang yang gue tolongin itu bakalan bisa membalas hal yang sama dengan pertolongan yang pernah gue kasih ke diri mereka...
Imam: Oke...
Gue: Jadi, apa yang mesti gue lakukan? Apakah gue mesti serta-merta melakukan saran Nendi? Apakah gue mesti berhenti menolong orang?
Imam: Sebelumnya, gue boleh nanya satu hal enggak... Kenapa lo pengen nolong orang lain?
Gue: Orang yang gue tolong adalah orang yang gue cintai. Atau, orang yang gue tolong adalah orang yang gue kasihani. Mereka gue kasihani karena mereka benar-benar kekurangan sumber daya yang mereka butuhkan. Sedangkan, gue memiliki kelebihan dari sumber daya yang benar-benar mereka butuhkan itu. Gue enggak tahan melihat ketimpangan tersebut! Apalagi dalam konteks ilmu pengetahuan!
Imam: Oke, cukup. Kenapa lo gak bilang ini ke Nendi?
Gue: Udah. Tapi, Nendi tetap kekeh, makanya gue bingung.
Imam: Gini, Di. Nendi tetap kekeh karena dia terlalu sensitif sama lo. Dia kepikiran sama keadaan lo. Dan dia berusaha memposisikan dirinya dengan diri lo. Tapi...
Gue: Apa?
Imam: Orang bisa aja bersimpati, berempati. Tapi, orang lain enggak pernah bisa memposisikan dirinya dengan orang lainnya karena... Dia sendiri bukanlah orang lain. Dia adalah dirinya sendiri. Dia berhak buat mengatur hidupnya sendiri. Celakanya, dia enggak bisa serta-merta mengatur hidup orang lain, karena sebenarnya bukan haknya dia. Hak sepenuhnya, lho.
Gue: Iya...
Imam: Iya, Nendi dalam konteks ini gagal memposisikan dirinya dengan diri lo. Dia cuma bisa mentok ampe taraf empati. Ya, dia cuma kasihan sama diri lo.
Gue: Lho, gue jadi gak bisa mikir apa bedanya. Beda empati sama memposisikan diri orang lain itu gimana, Mam?
Imam: Empati itu cuma merasa, tapi tetep dari kacamata diri sendiri, bukan diri orang lain. Simpati itu empati yang paling dangkal. Memposisikan diri itu...
Gue: merasakan dan mengetahui betul kenapa orang lain itu berbuat yang demikian?
Imam: Tepat! Makanya kan, Nendi enggak paham sama argumen lo mengenai dasar lo berbuat kebaikan. Entah buat bayar utang lah. Entah buat anti ketimpangan lah. Dia selalu membalas dengan rasa kasihan ke diri lo. Dia khawatir kalau diri lo kelelahan pada akhirnya, Di.
Gue: Oke...
Imam: Tapi, lo mesti nyadar satu hal... Kasihan dan kelelahan itu ada di dalam diri Nendi, berasal dari diri Nendi juga. Enggak dari lo!
Bener juga. Menyeramkan, mendengar kata-kata kawan yang satu ini.
Gue: Oke... Jadi, lakukan apa yang mesti gue lakukan, ya? Ikuti hati nurani gua?
Imam: Ya. Karena hati nurani lo selalu menyuruh lo melakukan kebaikan. Ya, itupun berasal dari Yang Ilahi juga, jadi jangan menuhankan hati nurani Daripada-Nya.
Gue: Itu artinya gue Mempersekutukan-Nya dong, Mam.
Kami berdua tertawa keras memecahkan keheningan malam. Sang Rembulan sepertinya setengah kecewa dan setengah terharu melihat tingkah laku kami berdua.
Imam: Ya. Karena, diri lo sebenarnya bisa digambarkan dalam sebuah kata - kebaikan. Selanjut-lanjutnya, ya yang berada di bawah naungan kebaikan itu sendiri, kayak keadilan, kebersamaan, kebahagiaan, kelebihan sumber daya.
Gue: Lo terlalu memuji diri gue, Mam.
Imam: Ya. Tapi itu fakta.
Diri gue terperanjak.
Gue: Kok lo bisa serta-merta ngomong begitu?
Imam: Lihat teman-teman lo. Berbagai simpati empati muncul ke lo yang baik-baik. Salah satunya tadi Nendi. Rasa khawatir dan kasihan itu baik. Terus, Bayu dan lain-lainnya yang sering minta tolong ke lo. Mereka hormat ke lo. Hormat itu baik. Lihat Tango.
Gue terperanjak, lagi-lagi!
Gue: Ada apa dengan si Tango??
Imam: Ini cuma interpretasi gue aja ya, Di. Ada kemungkinan si Tango akan mengacuhkan diri lo setelah kejadian naas. Tapi, mengacuhkan di sini dapat diartikan segan. Segan itu baik. Segan itu model sarkastik dari hormat.
Gue: Oke. Tango segan sama gue.
Imam: Ingat kata-kata terakhirnya dia pas lagi debat kemaren sama lo, Di. Katanya, 'Di, gue belum bisa setulus lo.'. Sekalipun dia bohong, dia cuma bohong dalam konteks memuji lo. Dia jujur, dia jujur mengakui ketulusan lo. Dia jujur - dia terlalu malas untuk tulus seperti diri lo. Karena, dia enggak punya simpati terhadap diri lo yang tulus. Padahal, kata tulus kan berada di bawah naungan kebaikan. Ya?
Gue: Oke, cukup. Gue udah tahu simpulannya. Jantungan gue, dengernya.
Sekali lagi, kami berdua tertawa menyaksikan komentar terakhir gue tadi dengan seksama.
Mari... Kita sudahi kontemplasi malam ini.
Karena, kontemplasi malam ini telah menunjukan sebuah simpulan mengenai kaca diri gue: nama Muhammad Ardi. Muhammad Ardi adalah nama dalam diri gue. Dan dia itu artinya "Manusia Terpuji di Bumi". Sedangkan, terpuji juga merupakan kawan baik dari kebaikan. Terima kasih Ya Allah Swt, Engkau telah memberikan nama yang bagus ini. Terima kasih Mama, aku udah dikasih nama yang bagus sekali :D
Rabu, 06 November 2013
Malam Itu Teman Berkata: Lo Terlalu Baik, Di
Kita adalah makhluk manusia.
Kita selalu mengarungi waktu yang telah Ia berikan baik2 kepada kita.
Apabila siang kita diharuskan bekerja, maka malam kita diharuskan untuk beristirahat.
Dan diri gue... Melanggar normativitas tersebut.
Apa yang gue lakukan malam ini? Tepatnya di RS Mitra Plumbon, Cirebon. Ketika gue dihadapi dengan kejadian naas. Apa?
Mencari ilmu di tengah malam? Egad, dan gue masih mengharapkan hal itu di tengah kejadian naas.
Gue masih haus akan inspirasi. Gue sedang mencari source of inspiration that I admire of.
Gue termenung sembari istighfar.
Sang rembulan mengomentari perilaku bodoh gue. Ia berkata dengan lembut namun tegas di atas langit sana, "Hai Ardi. Seperti yang udah gue bilang ke lo: kapan lo istirahat? Hari sudah malam. Gue udah berusaha menidurkan mahluk2 sejenis lo. Eksistensi kesadaran lo hanya akan mempersulit hidup gue. Hidup lo juga bakal sulit apabila lo kurang istirahat malam, lho. Oh, tunggu sebentar. Lo istighfar? Oh, karena ingin mendekatkan diri Kepada Yang Ilahi, atau berdoa mengharapkan ilmu-Nya datang percuma - hanya buat diri lo yang berada di tengah kegalauan ini? Ya Allah, aku bersaksi atas Nama-Mu, makhluk manusia memanglah makhluk yang rumit! Salah satunya yang bernama... Ardi Pritadi ini...!".
Gue kaget mendengar kata2 metaforis yang melayang menjadi sinistik a la Rembulan Malam tersebut!
Apa yang gue lakukan malam ini? Pikir gue, kemudian gue kembali lagi termenung. Kali ini dengan rasa yang shock.
Iya. Masih ada hari esok. Berharap dan berdoalah agar gue esok pagi bisa menuntut Ilmu Dari Yang Ilahi. Malam ini gue mesti istirahat. Kasihan sang Rembulan Malam hari ini - dia begitu kerepotan ngurusin bocah enggak jelas dari Bintaro ini.
Suara seorang pria tiba-tiba memecahkan heningnya malam ini. Kali ini suara seseorang tersebut yang mengagetkan gue buat kedua kalinya. Pria itu bernama Nendi. Dia enggak lain dan enggak bukan merupakan teman seperjuangan gue di kala meneliti di Desa Nunuk sekaligus teman yang baik buat menjaga Zae di RS ini.
Nendi: Ardi.
Gue: (kaget).
Nendi: Gitu doang kaget.
Gue: Sorry. Gue lagi kontemplasi, nih.
Nendi: Hidup lo berat bener. Gimana, jadi enggak bantuin gue bikin catetan lapangan?
Gue: Biasa. Ya, jadi, dong. Kapan lagi, Bu YTW kan besok datang.
Gue membantu teman itu sebisa mungkin. Dengan segenap pemikiran yang bisa gue ceploskan buatnya, gue ajukan tips2 singkat membuat catatan lapangan yang tentu saja hingga saat ini menjadi kesulitan utama sang antropolog maupun sang etnografer pada umumnya.
Gue: Gimana. Ngerti, kan? Pokoknya, di catetan ini lo mesti punya ingatan fotografer. Ingatan film, atau apapunlah itu. Di lapangan nanti, lo mesti permainkan empiris lo. Mutlak, wajib banget.
Nendi: Oke2... Susah juga ya.
Gue: Sebenernya enggak susah. Bukannya di tingkat tiga kita sering turlap buat bikin makalah UAS, ya?
Nendi: Emang iya, ya? Gue kira pas tingkat tiga kita cuma pelajarin teorinya aja.
Gue: Iya, buat bikin makalah kan mesti pake catatan lapangan.
Nendi: Gue gak pernah tuh bikin catatan lapangan yang proper pas bikin makalah.
GUBRAK! May Allah forgives you, my portly comrade :D
Tibalah sesi curhat ini dimulai. Kira2, ilmu apa yang gue dapatkan selain mengajari orang akan membuat catatan lapangan?
Malam ini menjadi drama yang membuat jantung gue berdetak lebih cepat. Siap2: kritik sinistik akan muncul juga. Buat malam ini, selain Sang Rembulan Malam, ternyata pria yang satu ini siap mengritik gue secara sinistik.
Nendi: Di, kenapa lo baik banget?
Gue: Mulai deh, lo nanya yang gak jelas. Buat temen seperjuangan sendiri kenapa mesti pelit sih?
Nendi: Iya... Lo nyadar gak? Kalo lo gini terus, gue gak yakin temen2 lo gak memanusiakan diri lo. Lo cuma dijadiin maskot akademis. Ketika temen2 gak punya kesulitan akademis, lo gak dibutuhin. Kerasa enggak?
Gue: Kadang gue merasa begitu. Tapi, apa gunanya mikirin itu. Toh, gue sudah dan selalu berusaha yang terbaik buat mereka.
Nendi: Dan mereka belum tentu berusaha yang bahkan sama baiknya kayak lo, Di.
Diri gue termenung mendengar kata2nya dia. Sadis. Tetapi, benar juga.
Gue: Ya... Kalo gue mikir gitu, artinya gue makhluk yang pamrihan dong. Gue bukan tipe orang yang suka minta orang lain ngebales kebaikan gue sih. Gue gak minta agar mereka ngebalas sebaik apa yang gue selama ini kasih ke mereka...
Nendi: Entar, Di.. Entar... Nah, enggak bagusnya di sini. Kita, manusia - tetap memerlukan balasan kebaikan agar hidup terasa aman dan nyaman. Ini sama aja kayak, lo mau nginep di hotel. Lo udah bayar mahal2, tapi kok hospitality nya gak ada. Pelayannya cuek. Bell boy nya gak mau ngangkatin barang2 lo. Gimana tuh, Di? Sayang kan, lo udah bayar mahal2 gitu.
Gue: Ya... Karena kita gak sendiri dan butuh bantuan orang lain, mutlak?
Nendi: Iya. Dan menurut gue, orang lain yang nerima kebaikan lo harus banget baik ke lo juga. Dengan cara yang lo suka. Lo inginkan. Tapi kan susah. Makanya, saran gue, mulai sekarang lo jangan terlalu baik ke orang deh.
Gue diam.
Nendi: Atau kita bikin gampang aja deh. Kenapa lo baik banget ke gua? Lo bantuin gue bikin catetan lapangan, malem2 gini pula. Kan lo bisa aja gak usah bantuin, langsung aja tidur malem? Atau enggak usah gitu - lo minta Bacang nemenin gue hari ini. Biar lo bisa istirahat malam di rumah Mas Warkim?
Gue: Eh... Karena gue mau bayar utang ke elo...
Nendi: (mengerut tanda bingung)... Utang apaan, Di?
Gue: Utang kebaikan. Lo hari ini udah baik2 banget nganterin gue naik motor, di jalur Pantura lagi. Lo juga bayarin bensin motor. Lo juga berusaha menenangkan Zae. Lo...
Nendi: ENGGAK SEMUA ORANG MEMIKIRKAN UTANG BERNAMA KEBAIKAN. Termasuk teman2 lo yang sering banget minta bantuan akademik ke lo.
Gue: ...
Nendi: Gini, apa yang lo dapetin abis lo ngasih bantuan akademik ke mereka?
Gue: Doa.
Nendi: Cliche. Semua orang yang kafir sekalipun juga bisa doa. Dan belum tentu doa mereka - temen2 lo yang nungging2 minta tolong itu - di-ijabah. Ada enggak yang konkret? Misalnya, lo dikasih contekan UAS sama mereka. Atau tugas lo dikerjain sama mereka? Atau gini, ada temen yang bisa kerja gara2 lo bantuin mereka. Lo dikasih link buat kerja juga, ga?
Gue: Enggak...
Nendi: Ya. Mereka enggak memikirkan utang. Bagi mereka, bantuan akademik lo itu merupakan hibah, bukan utang. Mereka gak perlu bales
Gue: Nendi...
Nendi: Jangan manggil nama gue. Gue minta lo mikir dan ngerasain sendiri, pake hati nurani sendiri, lah. Coba bayangin, coba jadikan itu kepercayaan - apakah benar apa yang lo lakuin ke mereka selama ini? Berguna buat mereka, ya iya. Tapi berguna juga enggak buat lo?
Gue diam seribu bahasa. Gue terpaku dengan kata2 sinistik yang isinya gue terima - benar juga. Apakah yang gue lakuin selama ini emang benar?
Gue kemudian menyempatkan dua mata ini memandang langit biru tua itu. Di sana tersaji pemandangan malam yang begitu indah... Yaitu, pemandangannya Sang Rembulan Malam yang diselimuti oleh kawanan awan - berjalan dengan syahdunya.
Gue bertanya kepada mereka.
Kawanan awan menjawab, "Sungguh pertanyaan filosofis yang mengganggu tidur. Hai anak Adam - mengapa engkau tidak kunjung2 tidur?".
Gue kaget.
Sang Rembulan bertanya, "Ada keributan apa ini? Lo tahu, hai awan - bahwa saat ini gue masih perlu menunaikan tugas mengheningkan malam agar makhluk2-Nya bisa tidur dengan lelap? Sebentar lagi Sang Surya Matahari akan datang. Gue harus bisa menunaikan tugas gue - sebagai pertanda diri gue bersyukur Kepada Yang Ilahi.".
Salah satu awan menjawab, "Lihatlah anak Adam itu! Dia masih berkontemplasi tanpa tidur malam terlebih dahulu! Bukankah ini memberatkan tugas lo, duhai Rembulan?".
Sang Rembulan murka sembari menumpahkan kasih sayangnya. Ia hari ini begitu tajam namun lembut khususnya ke diri gue.
Katanya, "Hai, Anak Adam yang bernama Ardi Pritadi. Lo sudah lelah, nak. Tidur, nak, TIDUR! Carilah ilmu di kemudian hari! Tugasmu buat yang saat ini ialah... Tidur, istirahat malam yang cukup. Sudah cukup hari ini buat berkontemplasi, mengerti maksud gue?".
Gue enggak menjawab pertanyaan sinis-metaforistik tadi. Enggak berani, soalnya. Gue langsung aja ke kamar tempat Zae istirahat. Di sana, gue melihat ada gulungan tikar yang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya Zae. Kata sang Ibu, "Nak, kamu belum istirahat? Ayo nak, istirahat. Tidur aja. Enggak apa2 kok.".
"Punten, bu. Saya istirahat dulu ya bu. Terima kasih buat kebaikan ibu.". Setelah itu pandangan mata langsung gelap mencekam. Itu menjadi pertanda bahwa diri gue sudah sangat lelah menghadapi tusukan2 kontemplasi yang menghunus jiwa raga - pikiran dan perasaan... Nurani...!
Kita selalu mengarungi waktu yang telah Ia berikan baik2 kepada kita.
Apabila siang kita diharuskan bekerja, maka malam kita diharuskan untuk beristirahat.
Dan diri gue... Melanggar normativitas tersebut.
Apa yang gue lakukan malam ini? Tepatnya di RS Mitra Plumbon, Cirebon. Ketika gue dihadapi dengan kejadian naas. Apa?
Mencari ilmu di tengah malam? Egad, dan gue masih mengharapkan hal itu di tengah kejadian naas.
Gue masih haus akan inspirasi. Gue sedang mencari source of inspiration that I admire of.
Gue termenung sembari istighfar.
Sang rembulan mengomentari perilaku bodoh gue. Ia berkata dengan lembut namun tegas di atas langit sana, "Hai Ardi. Seperti yang udah gue bilang ke lo: kapan lo istirahat? Hari sudah malam. Gue udah berusaha menidurkan mahluk2 sejenis lo. Eksistensi kesadaran lo hanya akan mempersulit hidup gue. Hidup lo juga bakal sulit apabila lo kurang istirahat malam, lho. Oh, tunggu sebentar. Lo istighfar? Oh, karena ingin mendekatkan diri Kepada Yang Ilahi, atau berdoa mengharapkan ilmu-Nya datang percuma - hanya buat diri lo yang berada di tengah kegalauan ini? Ya Allah, aku bersaksi atas Nama-Mu, makhluk manusia memanglah makhluk yang rumit! Salah satunya yang bernama... Ardi Pritadi ini...!".
Gue kaget mendengar kata2 metaforis yang melayang menjadi sinistik a la Rembulan Malam tersebut!
Apa yang gue lakukan malam ini? Pikir gue, kemudian gue kembali lagi termenung. Kali ini dengan rasa yang shock.
Iya. Masih ada hari esok. Berharap dan berdoalah agar gue esok pagi bisa menuntut Ilmu Dari Yang Ilahi. Malam ini gue mesti istirahat. Kasihan sang Rembulan Malam hari ini - dia begitu kerepotan ngurusin bocah enggak jelas dari Bintaro ini.
Suara seorang pria tiba-tiba memecahkan heningnya malam ini. Kali ini suara seseorang tersebut yang mengagetkan gue buat kedua kalinya. Pria itu bernama Nendi. Dia enggak lain dan enggak bukan merupakan teman seperjuangan gue di kala meneliti di Desa Nunuk sekaligus teman yang baik buat menjaga Zae di RS ini.
Nendi: Ardi.
Gue: (kaget).
Nendi: Gitu doang kaget.
Gue: Sorry. Gue lagi kontemplasi, nih.
Nendi: Hidup lo berat bener. Gimana, jadi enggak bantuin gue bikin catetan lapangan?
Gue: Biasa. Ya, jadi, dong. Kapan lagi, Bu YTW kan besok datang.
Gue membantu teman itu sebisa mungkin. Dengan segenap pemikiran yang bisa gue ceploskan buatnya, gue ajukan tips2 singkat membuat catatan lapangan yang tentu saja hingga saat ini menjadi kesulitan utama sang antropolog maupun sang etnografer pada umumnya.
Gue: Gimana. Ngerti, kan? Pokoknya, di catetan ini lo mesti punya ingatan fotografer. Ingatan film, atau apapunlah itu. Di lapangan nanti, lo mesti permainkan empiris lo. Mutlak, wajib banget.
Nendi: Oke2... Susah juga ya.
Gue: Sebenernya enggak susah. Bukannya di tingkat tiga kita sering turlap buat bikin makalah UAS, ya?
Nendi: Emang iya, ya? Gue kira pas tingkat tiga kita cuma pelajarin teorinya aja.
Gue: Iya, buat bikin makalah kan mesti pake catatan lapangan.
Nendi: Gue gak pernah tuh bikin catatan lapangan yang proper pas bikin makalah.
GUBRAK! May Allah forgives you, my portly comrade :D
Tibalah sesi curhat ini dimulai. Kira2, ilmu apa yang gue dapatkan selain mengajari orang akan membuat catatan lapangan?
Malam ini menjadi drama yang membuat jantung gue berdetak lebih cepat. Siap2: kritik sinistik akan muncul juga. Buat malam ini, selain Sang Rembulan Malam, ternyata pria yang satu ini siap mengritik gue secara sinistik.
Nendi: Di, kenapa lo baik banget?
Gue: Mulai deh, lo nanya yang gak jelas. Buat temen seperjuangan sendiri kenapa mesti pelit sih?
Nendi: Iya... Lo nyadar gak? Kalo lo gini terus, gue gak yakin temen2 lo gak memanusiakan diri lo. Lo cuma dijadiin maskot akademis. Ketika temen2 gak punya kesulitan akademis, lo gak dibutuhin. Kerasa enggak?
Gue: Kadang gue merasa begitu. Tapi, apa gunanya mikirin itu. Toh, gue sudah dan selalu berusaha yang terbaik buat mereka.
Nendi: Dan mereka belum tentu berusaha yang bahkan sama baiknya kayak lo, Di.
Diri gue termenung mendengar kata2nya dia. Sadis. Tetapi, benar juga.
Gue: Ya... Kalo gue mikir gitu, artinya gue makhluk yang pamrihan dong. Gue bukan tipe orang yang suka minta orang lain ngebales kebaikan gue sih. Gue gak minta agar mereka ngebalas sebaik apa yang gue selama ini kasih ke mereka...
Nendi: Entar, Di.. Entar... Nah, enggak bagusnya di sini. Kita, manusia - tetap memerlukan balasan kebaikan agar hidup terasa aman dan nyaman. Ini sama aja kayak, lo mau nginep di hotel. Lo udah bayar mahal2, tapi kok hospitality nya gak ada. Pelayannya cuek. Bell boy nya gak mau ngangkatin barang2 lo. Gimana tuh, Di? Sayang kan, lo udah bayar mahal2 gitu.
Gue: Ya... Karena kita gak sendiri dan butuh bantuan orang lain, mutlak?
Nendi: Iya. Dan menurut gue, orang lain yang nerima kebaikan lo harus banget baik ke lo juga. Dengan cara yang lo suka. Lo inginkan. Tapi kan susah. Makanya, saran gue, mulai sekarang lo jangan terlalu baik ke orang deh.
Gue diam.
Nendi: Atau kita bikin gampang aja deh. Kenapa lo baik banget ke gua? Lo bantuin gue bikin catetan lapangan, malem2 gini pula. Kan lo bisa aja gak usah bantuin, langsung aja tidur malem? Atau enggak usah gitu - lo minta Bacang nemenin gue hari ini. Biar lo bisa istirahat malam di rumah Mas Warkim?
Gue: Eh... Karena gue mau bayar utang ke elo...
Nendi: (mengerut tanda bingung)... Utang apaan, Di?
Gue: Utang kebaikan. Lo hari ini udah baik2 banget nganterin gue naik motor, di jalur Pantura lagi. Lo juga bayarin bensin motor. Lo juga berusaha menenangkan Zae. Lo...
Nendi: ENGGAK SEMUA ORANG MEMIKIRKAN UTANG BERNAMA KEBAIKAN. Termasuk teman2 lo yang sering banget minta bantuan akademik ke lo.
Gue: ...
Nendi: Gini, apa yang lo dapetin abis lo ngasih bantuan akademik ke mereka?
Gue: Doa.
Nendi: Cliche. Semua orang yang kafir sekalipun juga bisa doa. Dan belum tentu doa mereka - temen2 lo yang nungging2 minta tolong itu - di-ijabah. Ada enggak yang konkret? Misalnya, lo dikasih contekan UAS sama mereka. Atau tugas lo dikerjain sama mereka? Atau gini, ada temen yang bisa kerja gara2 lo bantuin mereka. Lo dikasih link buat kerja juga, ga?
Gue: Enggak...
Nendi: Ya. Mereka enggak memikirkan utang. Bagi mereka, bantuan akademik lo itu merupakan hibah, bukan utang. Mereka gak perlu bales
Gue: Nendi...
Nendi: Jangan manggil nama gue. Gue minta lo mikir dan ngerasain sendiri, pake hati nurani sendiri, lah. Coba bayangin, coba jadikan itu kepercayaan - apakah benar apa yang lo lakuin ke mereka selama ini? Berguna buat mereka, ya iya. Tapi berguna juga enggak buat lo?
Gue diam seribu bahasa. Gue terpaku dengan kata2 sinistik yang isinya gue terima - benar juga. Apakah yang gue lakuin selama ini emang benar?
Gue kemudian menyempatkan dua mata ini memandang langit biru tua itu. Di sana tersaji pemandangan malam yang begitu indah... Yaitu, pemandangannya Sang Rembulan Malam yang diselimuti oleh kawanan awan - berjalan dengan syahdunya.
Gue bertanya kepada mereka.
Kawanan awan menjawab, "Sungguh pertanyaan filosofis yang mengganggu tidur. Hai anak Adam - mengapa engkau tidak kunjung2 tidur?".
Gue kaget.
Sang Rembulan bertanya, "Ada keributan apa ini? Lo tahu, hai awan - bahwa saat ini gue masih perlu menunaikan tugas mengheningkan malam agar makhluk2-Nya bisa tidur dengan lelap? Sebentar lagi Sang Surya Matahari akan datang. Gue harus bisa menunaikan tugas gue - sebagai pertanda diri gue bersyukur Kepada Yang Ilahi.".
Salah satu awan menjawab, "Lihatlah anak Adam itu! Dia masih berkontemplasi tanpa tidur malam terlebih dahulu! Bukankah ini memberatkan tugas lo, duhai Rembulan?".
Sang Rembulan murka sembari menumpahkan kasih sayangnya. Ia hari ini begitu tajam namun lembut khususnya ke diri gue.
Katanya, "Hai, Anak Adam yang bernama Ardi Pritadi. Lo sudah lelah, nak. Tidur, nak, TIDUR! Carilah ilmu di kemudian hari! Tugasmu buat yang saat ini ialah... Tidur, istirahat malam yang cukup. Sudah cukup hari ini buat berkontemplasi, mengerti maksud gue?".
Gue enggak menjawab pertanyaan sinis-metaforistik tadi. Enggak berani, soalnya. Gue langsung aja ke kamar tempat Zae istirahat. Di sana, gue melihat ada gulungan tikar yang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya Zae. Kata sang Ibu, "Nak, kamu belum istirahat? Ayo nak, istirahat. Tidur aja. Enggak apa2 kok.".
"Punten, bu. Saya istirahat dulu ya bu. Terima kasih buat kebaikan ibu.". Setelah itu pandangan mata langsung gelap mencekam. Itu menjadi pertanda bahwa diri gue sudah sangat lelah menghadapi tusukan2 kontemplasi yang menghunus jiwa raga - pikiran dan perasaan... Nurani...!
Langganan:
Postingan (Atom)